Pages

Sunday, April 8, 2012

Dear wifey - Surat Kangen dan Menjadi Istiqamah

Dear wifey,

Berubah itu mudah. Memulai itu juga mudah. Yang sulit itu adalah untuk tetap istiqamah dan konsisten tanpa kecuali.

Kemarin aku seharian keliling Jakarta dan Bekasi. Alhamdulillah wifey mengingatkan hubby untuk pake mobil. Tak terbayang jika mondar-mandir sedemikian jauh naik motor. Mungkin karena hubby sudah tak muda lagi. :p

Bedanya dari jalan-jalan biasanya, tak ada wifey yang suka tertidur-tidur hingga terantuk-antuk di bangku depan. Kemarin Thia yang menemani sambil nyrocos bercerita sepanjang jalan.

Aku kangen saat pergi bareng-bareng wifey. Aku kangen saat memegang tangan wifey sambil nyetir. Aku kangen menggenggam tangan wifey saat naik motor sambil memijit-mijit paha wifey agar wifey tak tertidur.

Setelah kemarin seharian keliling sana keliling sini, hubby sampai rumah lewat tengah malam. Setelah bercengkrama sejenak dengan keluarga aku masuk kamar. Kemudian kita pun skype melepas rindu sebentar. Sekitar jam 2 aku tidur.

Sebenarnya semalam aku memang tak berniat bulat kuat untuk sholat malam. Sehingga ketika wifey membangunkan, aku lemas seperti habis ditimpa gajah. Padahal jika memang sudah berniat, hal apa pun idealnya tak menjadi halangan. Terima kasih sayangku, dengan berbagai cara kamu masih berusaha membujukku untuk shalat malam. Dengan caramu yang selalu lembut dan penuh perhatian. Namun sayang setan semakan mengeratkan selimutku dan membuat aku terlena kenyamanan. Masih ingatkan cerita tentang surat Al Muzzamil, orang-orang yang berselimut. Bangun tengah malam untuk beribadah adalah hal yang sulit. Sejenak ketika kita punya hajat mungkin hal itu bisa dilakukan dengan mudah. Namun terus mempertahankan tanpa alasan tidaklah gampang. Aku gagal untuk istiqamah semalam. Dengan alasan kelelahan yang tidak bisa menjadi alasan. Bahkan pada hari yang sama aku terlambat mengirim surat kangenku pada wifey. Dan surat ini pun semakin terlambat untuk dikirim hari ini. Aku sedih gagal untuk disiplin dan istiqamah.

Seorang muslim idealnya bisa menjadi orang paling sukses dan maju di permukaan bumi jika menerapkan nilai-nilai islamnya dengan sebaik mungkin. Salah satu nilai yang punya kontribusi dalam kesuksesan adalah disiplin dan istiqamah. Kita dilatih nilai tersebut dengan 5 waktu shalat. Kita harus istiqamah shalat, sebab sekali saja meninggalkan shalat akan menjadi dosa yang besar. Kita juga harus disiplin dalam shalat sebab shalatn itu ada waktu-waktunya. Dengan shalat secara benar seharusnya kita semakin terbiasa menerapkan nilai-nilai kedisiplinan dan keistiqamahan dalam hal lain. Misalnya dalam belajar, mengerjakan tugas, keinginan menulis buku, belajar bahasa, dan sebagainya. Namun inilah sebagian besar dari kita yang hanya menjadikan nilai-nilai luhur agama sebagai perhiasan di permukaan dan belum terlalu meresap dalam hati.

Aku ingin bisa istiqamah dalam ibadah. Aku ingin disiplin dan istiqamah untuk terus menulis surat-surat kangen pada wifey.

Tunggu aku di salah satu kota di Eropa pada bulan September. Di mana aku ingin melepas kangen yang tertumpuk yang dalam sementara waktu hanya tersalurkan dari beberapa paragraf surat kangen yang akan terus aku kirim setiap hari.

PS: I love you

Saturday, April 7, 2012

Dear wifey - Hari ketika Michiko Wafat

Dear wifey,

Berikut sebuah cerita yang semoga cukup panjang dan tak membosankan. Maafkan hubby terlambat untuk email hari ini. Ditulis saat menunggu antrian dokter.

Kemarin hujan turun hampir seharian di Jonggol, bahkan hingga pagi tadi. Seperti langit, hujan pun sering membawa suasana melankolis.

Seperti wifey tahu Jonggol adalah daerah metropolitan. Calon ibukota negara! Namun saat hujan semuanya akan jadi becek berlumpur. Masih selalu teringat masa-masa semester akhir kuliah hingga sebelum kos saat kerja di NFS. Setiap hari aku pulang pergi Jonggol Jakarta naik motor. Saat terik badan akan sangat berkeringat hingga baju basah saat sampai kantor atau kampus. Namun saat hujan, tak sekali dua kali baju akan terembes air hujan yang menembus matel.

Ada sebuah cerita lucu menarik mengenai motor dan hujan. Setelah beberapa bulan pertama aku bekerja, aku menabung sedikit uang gaji sisa dari memberi mama. Setelah beberapa bulan terkumpul uang sekitar 5 juta. Waktu itu aku masih kerja di kantor pertama.

Dengan sangat sumringah aku membeli sebuah hp yang aku idam-idamkan secara tunai. Pada waktu itu aku belum kenal kartu kredit. Aku membeli Nokia 5800. Hp yang sangat canggih pada masanya. Layar besar, touch screen, wifi dan gps. Betapa bahagianya aq pada waktu itu.

Jika tak salah ingat saking cintanya aku memberi nama pada hp itu. Jika tak salah namanya Michiko San. Pada waktu itu aku masih tergila-gila ingin ke Jepang. Oh ya bisa wifey tebak warnanya? Merah!!

Michiko menemani aku siang dan malam. Saat di jalan, saat di rumah, saat di kantor. Bahkan Michiko yang selalu aku cari saat menjelang tidur. Juga yang aku cari saat pertama membuka mata. Michiko adalah separuh hidupku pada waktu itu.

Kembali ke masalah hujan. Saat sedang musimnya, hujan bisa turun setiap hari. Adakalanya aku disiram hujan 15 hari dalam sebulan saat bolak-balik kantor.

Suatu hari saat berangkat kantor aku lupa membawa jas hujan. Naas saat pulang langit mendung dan sangat gelap. Berdoa hujan tak turun aku ngebut pulang ke arah Jonggol. Pada waktu itu aku berkantor di Kalibata di sebuah ruko tua yang sangat horor. Sekarang ruko tersebut terkubur di bawah jalan layang kalibata.

Kalibata Jonggol dan sebaliknya biasa aku tempuh dalam waktu 90 menit ngebut. Sekeluar dari kantor aku ngebut berlari dari awan hitam. Dar kalkbata biasa aku ke arah taman mini, cilangkap, kranggan, cibubur, cileungsi dan jonggol. Lupakan masalah lokasi dan nama tempatnya yang pasti perjalanannya jauh sekali. Kalau sekarang jangankan setiap hari, seminggu sekali pun aku ga akan sanggup.

Lanjut lagi ke cerita perjalanannya. Setelah kira-kira pertengahan jalan menuju Jonggol, akhirnya aku kalah oleh awan hitam. Sebelumnya aku masih berusaha kabur meski dihajar hujan rintik-rintik. Hujan turun dengan amat dasyatnya menghentikan lari aku. Aku berteduh di sebuah kedai nasi goreng bersama beberapa pemotor lain. Tempat berteduhnya sayangnya kurang nyaman. Masih banyak cipratan-cipratan yang menerpa aku dari langit-langit terpal yang bocor. Ada sebuah kisah emosional pada masa-masa awal aku kerja. Gaji aku sebulan adalah 2.500.000. Namun aku berhasil mengatur pengeluaran hanya maksimal 500.000 dalam sebulan. Sehingga dari 2 juta sebagian bisa aku beri ke mama lalu sedikit sisanya bisa aku tabung. Bagaimana bisa mengatur pengeluaran seperti itu? Adalah dengan hampir tidak jajan atau jajan hanya sekali makan siang saja. Aku masih ingat dalam 4 atau 5 bulan aku bekerja kombinasi makan siang aku adalah ketoprak dan gado-gado yang mana itu sebenarnya masih satu famili makanan.

Kembali ke masalah berteduh. Saat itu aku merasa ingin sekali nasi goreng. Hujan turun deras dan baju dan celana pun lembab karena hujan. Namun aku harus benar-benar menekan rasa ingin makan pada waktu itu karena aku ingin menabung. Aku juga merasa dalam sekitar satu jam aku mungkin akan sampai di rumah dan bisa makan di saja. Apalagi waktu itu aku baru saja mengeluarkan uang besar untuk membeli Michiko. Mungkin wifey akan menilai aku sebagai orang yang bodoh dan menyiksa diri. Namun entah bagaimana, mungkin itu sebuah prinsip yang akan dipegang seseorang yang harus kerja keras untuk kuliahnya karena tak punya ayah dan tak terlalu pintar untuk mendapat beasiswa. ;). Jangan salah paham sayang, itu bukan statement kufur nikmat. Aku selalu berusaha menjadi orang yang bersyukur.

Pada akhirnya segala prinsip berhemat tadi rontok juga karena aku berteduh hingga satu jam dan hujan tak kunjung reda. Aku melahap nasi goreng dengan sedikit perasaan bersalah. Namun nasi goreng itu enak sekali rasanya.

Setelah makan nasi goreng intensitas hujan agak berkurang. Aku memutuskan untuk lanjut naik motor. Baru jalan sekitar 200 meter, hujan menderas lagi dengan lebih dahsyat. Aku minggir di pom bensin. Aku lama sekali berteduh di pom bensin. Hampir 2 jam mungkin. Aku menyempatkan shalat juga dengan baju yang semakin basah. Salah satu petikan terkenan di kalangan pemotor adalah jika hujan lebih baik jalan terus saja. Sebab berteduh pun akhirnya basah-basah juga. Petikan itu terjadi pada aku. Setelah tak tahan menunggu aku akhirnya memutuskan jalan juga meski hujan masih berderai-derai.

Hari itu adalah hari di mana aku melakukan sebuah kebodohan monumental yang tak terlupakan. Entah karena kecapean atau otak sudah lembap karena kebasahan, sebelum naik motor aku ingin sekali mendengar musik di jalan. Padahal jelas-jelas hujan sangat deras dan aku tak pakai jas hujan, hanya memakai jaket tipis dan sebuah rompi angin. Tapi logika bodoh aku.mengatakan selipkan saja Michiko di balik rompi angin. Pasti aman. :p Toh klo pun kebasahan pasti ketahuan sebab aku mendengar musik. Musiknya pasti mati.

Akhirnya aku jalan sambil mendengar radio. Hujan masih deras saja. Dilematika pemotor berhelm saat hujan adalah jika kaca helm ditutup, jalan hampir tak terlihat. Namun jika kaca dibuka mata akan sakit ditusuk-tusuk air hujan. Terpaksa aku pilih membuka helm meski muka harus basah kuyup.

Setelah sekitar satu jam diguyur hujan dan menembus banjir aku pun sampai di rumah. Ternyata radio.masih menyala dengan nyaring dari earphone. Jadi tak mengapa mendengar radio sambil hujan-hujanan. Aku langsung buka jaket dan menaruh hp. Hp hanya sedikit basah di pinggirannya. Saat aku taruh di meja tiba-tiba hp bergetar-getar. Belakangan aku tahu, Michiko sakratul maut. Jadi sepanjang jalan tadi dia berusaha bertahan dari gempuran air yang merembes pelan ke sirkuit elektroniknya. Aku masih penasaran. Aku cabut baterai aku pasang lagi. Aku nyalakan tombol power. Tersengar suara konsleting dan bau hangus. Saat itu otak aku sepertinya juga konslet. Berulang kali aku coba hidupkan tombol power namun bau hangus semakin tajam. Belakangan aku baru tahu, jika hp kebasahan sebaiknya langsung lepas baterai dan kubur dalam beras sampai seminggu. Pada kebanyakan kasus hp akan sembuh.

Malam itu Michiko meninggal dunia. Usaha aku mengklaim garansi pun gagal. Mengguyur hp dalam hujan tidak masuk lingkup garansi. Akhirnya Michiko laku di kaskus seharga 500.000. Belakangan aku menyesal juga kenapa harus menjual dengan harga yang sangat murah.

Itulah sekelumit kisah tentang aku, Michiko dan hujan. Patah hatiku saat ditinggal mati benda yang kucinta paling tidak memberi sedikit hikmah. Untum lebih berhati-hati dan berpikir dalam saat bertindak. Setidaknya aku masih tersenyum saat mengingat cerita ini.

Tunggu aku di salah satu kota di Eropa di bulan September. Meski nanti hujan dan kita tak berpayung aku akan memastikan manaruh hp dalam plastik dan memayungi istriku dengan jaketku.

PS: I love u

Thursday, April 5, 2012

Dear wifey - Sebuah Rasa Kangen di Soekarno Hatta

Dear wifey,

Saat pertama landing di Soetta wifey adalah orang yang pertama aku ingat. Aku minta maaf jika surat-surat aku terlalu banyak membahas cerita-cerita yang lalu. Sebab terlalu banyak hal indah yang sudah kita lalui bersama meski masa yang sudah kita jalani berdua masih singkat saja. Allah membuat kenangan agar kita bisa tersenyum atau menangis bahagia saat mengingat hal yang manis. Atau agar kita bisa menjadi lebih tabah saat masa-masa pahit pernah menghampiri.

Sayangku, begitu keluar terminal kedatangan, mataku bergerak cepat mencari seorang gadis tercantik yang menjemput aku tempo hari. Dengan kerudung kuningnya menyambut aku dengan wajahnya yang selalu ceria. Namun sejauh aku melihat di tengah keramaian ini tak dapat kutemukan kamu. Nihil. Seperti surat relativitasku yang lalu, meski sudah 2 minggu saat wifey menjemput aku di bandara, namun kenangan pertemuan itu masih jelas di pelupuk mata. Aku memelukmu lama dan puas sekali pada waktu itu. Aku sebal, mengapa waktu berjalan seperti bekicot saat kamu tak ada dekatku?

Dear wifey, itu tadi mungkin ungkapan gemuruh hati seorang suami yang merindukan istrinya. Seorang ayah yang kangen pada bunda. Bunda tercantik yang akan melahirkan anak-anak shaleh dan shaleha lagi sehat walafiat.

Ayah tak sabar menunggu untuk segera take off dari negeri ini beberapa bulan dari sekarang. Aku ingin bersama-sama menuntut ilmu seperti istriku. Pergi ke tempat yang belum pernah kupijak. Bertemu dengan orang-orang asing yang ramah.

Aku tak tahu Franfurt seperti apa. Namun tiba-tiba aku ingin berkhayal. Di suatu hari di bulan September saat aku mendarat di sana, ada wifey yang mejemputku. Seorang gadis cantik berkerudung.. Di detik pertama aku melihat kamu aku berlari sekencang aku bisa. Memelukmu dengan erat. Mencium keningmu yang lembut dan pipimu yang hangat.

Harap adalah doa. Aku tak akan pernah berhenti berdoa dan berharap.

Tunggu aku di Frankfurt pada bulan September. Aku ingin memelukmu selama mungkin. Layaknya aku ingin menjadi suami abadimu.

PS: I love you

Wednesday, April 4, 2012

Dear wifey - Mimpi Sebuah Rumah untuk Kita dari Kamar di Sturdee View

Dear wifey,

Mari kita bermain imajinasi. Salah satu aspek tak tergantikan dari tulisan adalah imajinasi pembaca dalam menginterpretasikan cerita yang disampaikan. Maka dari itu seorang pembaca buku yang kritis dan setia biasa sering kali kecewa saat menonton buku yang difilmkan. Sebab visual itu membunuh imajinasi secara total. Apalagi banyak film gagal memvisualisasikan momen cerita dengan bagus.

Aku ingin mengajak wifey memvisualisasikan seperti apa Sturdee View tempat tinggal aku sekarang. Proses aku mendapatkan apartemen ini cukup mudah. Aku kontak Bowo di hari minggu malam setelah pulang ke Jakarta mengantar wifey. Senin malam aku langsung viewing. Meski kamarnya kecil namun Senin itu akhirnya aku langsung tanda tangan kontrak. Belakangan setelah itu aku merasa ragu mengenai kecukupan luas area kamar untuk menghampar sejadah menghadap kiblat. Tapi keraguannya terpupuskan karena areanya alhamdulillah cukup untuk shalat. Namun jika wifey suka koprol areanya kurang luas. Alhamdulillah hubby tak suka koprol seperti wifey #absurd.

Sturdee View itu ada di Farrer Park. Kurang dari 5 menit dengan berjalan cepat kita bisa sampai ke stasiun MRT Farrer Park atau City Square mall. Tak sampai 4 menit jalan cepat juga kita bisa sampai ke bus stop terdekat. Bus stop ini persis di seberang City Square Mall. Tempat aku biasa menunggu bus ke kantor. 7 menit jalan, kita bisa sampai Mustafa jika ingin membuat kaki pegal browsing di toserba raksasa ini. Tak jauh dari Mustafa ada mesjid Anguila. Dulu kita pernah shalat bersama di sini. Mustafa sendiri sudah masuk area Little India. Disebut Little India karena aku lebih merasa berada di Bangalore dari pada di Singapore saat ada di sini. Sepanjang Little India hingga Farrer Park ada banyak sekali toko-toko pinggir jalan dengan segala dagangannya.

Sturdee View itu apartemen yang kecil sekali. Ia lebih tepat disebut private apartemen dari pada condo karena minim fasilitas. Tentunya tak ada bandingannya dengan Rivervale tempat kita tinggal dulu. Sturdee View hanya satu tower dibandingkan dengan Rivervale yang jika tak salah ada 7 tower. Dulu wifey sempat bingung saat hendak keluar Rivervale. Aku pun pernah bingung saat pertama viewing ke Rivervale. Namun masuk Sturdee View cukup melalui gerbang otomatis lalu melalui area parkir sempit maka kita akan langsung sampai lift. Ada dua lift yang melayani.

Dalam apartemen ada 5 kamar. Namun sepertinya semua common room. Satu kamar utama di samping ruang tengah. Kamarnya berpintu kaca dan memiliki penutup gorden. Di sebrang kamar utama tadi ada dapur yang juga cukup luas. Keluar dari dapur ada balkon yang dijadikan tempat mencuci dan menjemur baju.

Dari dalam dapur kita kembali ke ruang tengah. Ada sofa yang tak terlalu besar di depan tv. Di samping sofa ada rak sepatu dan pintu utama. Di meja tv ada juga dvd. Di pojok kanan dari sofa sebelah depan ada sebuah kipas angin. Nampaknya owner apartemen ini benar-benar berusaha membuat tenant nyaman.

Berjalan dari ruang tv ke arah depan adalah gang di mana ada 4 kamar lainnya. Pintu pertama sebelah kanan adalah gudang. Setelah itu ada dua kamar di sebelah kiri dan satu kamar di ujung gan dan satu kamar di sebelah kanan. Kamar yang terakhir itu adalah kamarku.

Ukuran kamarnya sekitar 3 x 2 meter. Sangat sempit namun semua furniture di atur dengan maksimal. Dalam kamar ada sebuah single bed. Mungkin lebarnya 120 seperti yang wifey bilang. Ada sebuah lemari. Satu tempat baju utama dan 2 laci besar di bawah lemari. Sebuah kabinet laci kecil ada di samping lemari. Owner apartemen juga meletakan sebuah kipas angin tegak di sebelah laci kabinet itu. Yup inilah rumah yang aku tinggali dalam beberapa bulan ke depan, sebelum berangkat ke Eropa (AAAMIIIN). :p

Terkadang dalam sepi, suka memikirkan masa depan juga. Kelak kita akan beli rumah di mana ya? Jika memang ingin punya rumah tinggal di Jakarta mungkin terpaksa kita harus membeli apartemen. Lalu lintas Jakarta tidak terlalu manusiawi bagi manusia. Lalu kita juga akan punya sebuah rumah istirahat di luar kota. Mungkin di Jember atau satu di Bogor. Di semua rumah tersebut aku ingin punya sebuah tempat shalat yang nyaman. Luas tempatnya sejuk suasananya membuat kita kerasan untuk beribadah. Di tempat shalat itulah kita Insya Allah akan sering shalat berjamaah saat aku tidak ke mesjid. Kita akan shalat malam bersama, berdoa bersama, mengaji bersama dan menghafal Quran bersama. Setiap selesai shalat kita akan selalu saling bertukar pengetahuan. Kelak di tempat tersebut juga kita akan mengajarkan anak-anak kita shalat dan mengaji. Mengajarkan untuk membuat mereka cinta beribadah.

Selain tempat shalat kamar penting berikutnya adalah ruang belajar. Alhamdulillah aku selalu merasa tidak pintar. Setidaknya itu membuat aku untuk terus semangat belajar. Dari dulu selalu ingin punya ruang belajar khusus. Ada perpustakaannya dan sebuah meja dan kursi yang nyaman untuk membaca atau menulis berjam-jam. Sesekali tentunya kita juga akan berdiskusi banyak hal di sana. Di pojokan ruang baca aku akan menempatkan sofa bed, khusus untuk wifey. Dengan banyak bantal tentunya. Saat wifey ketiduran aku akan menyelemutimu dengan hangat dan mengecup kening dan pipimu yang lembut. Di ruang belajar ini pula aku ingin membiasakan anak-anak kita cinta dengan buku dan ilmu pengetahuan.

Keluar dari ruang belajar, kita masuk kamar tidur kita. Sebuah master room tentunya. :) Kamarnya mungkin akan kita buat seperti kamar kita di rivervale. Di kamar itu kita akan membuat banyak anak. ;)

Dapurnya akan aku buat besar dan bersih. Di mana kita berdua akan sama-sama memasak. Bersama-sama mencuci piring. Bersama-sama bercanda. Ruang-ruang lain biarkanlah wifey yang menyumbang imajinasi. Aku pun terkadang berharap agar Allah berkenan membuat sebuah rumah di surga untuk kita. Oleh karena itu Insya Allah aku tak akan pernah bosan beribadah untuk menjadi insan yang selalui diridhai Allah.

Dear wifey, aku ingin menjadi pasangan abadi untuk wifey. Dunia dan akhirat. Ingin selalu bersama hingga akhir hayat. Ingin selalu bersama di akhirat juga.

Tunggu aku di salah satu kota di Eropa beberapa bulan dari sekarang. Mungkin di sana kita akan menyewa kamar di sebuah apartemen atau menyewa sebuah apartemen kecil. Di mana di sana kita akan melakukan banyak hal bersama. Membangun masa awal-awal rumah tangga kita yang Insya Allah selalu indah selamanya.

Salam satu zillion rindu dari hubby dari sebuah kamar di Sturdee View.

PS: I love you

Tuesday, April 3, 2012

Dear wifey - Gadis Pemanjat Pohon Rambutan Bersepatu Roda

Dear wifey,

Nampaknya email kali ini berlawanan dengan topik yang wifey inginkan. Tapi biar saja, sebab kisah ini selalu aku suka. Oh ya untuk surat kali ini mohon maaf jika agak mengawang-awang dan tidak fokus. Aku hanya membiarkan rentetan pikiran mengalir bebas ke atas tuts-tuts keyboard.

Masih berkaitan dengan surat kemarin. Sejak pertama kita saling kenal kemudian dekat dan akhirnya menikah, ada suatu cerita wifey yang mengingatnya akan membuat aku tersenyum dan tak jarang hingga tergelak. Inti ceritanya dengan hubby sebagai penutur ulang kira-kira sebagai berikut. Di suatu hari yang cerah sang gadis yang ternyata dulu pintar menari bali ini pernah memanjat pohon rambutan. Oke, memanjat pohon rambutan bagi seorang anak perempuan nan ayu sebenarnya sudah cukup ekstrim. Bagaimana jika ternyata gadis itu memanjat pohon rambutan dengan sepatu roda! Deng deng deng. Sepertinya dengan sangat terpaksa kita harus mencoret kata ayu dari depan kata gadis tadi.

Tapi tenang kok, kini gadis tersebut sudah ayu kembali. Sejak wifey bercerita peristiwa fenomenal, legendaris dan monumental tersebut, beribu kali wifey mewanti-wanti hubby. Wifey bercerita bahwa kecelakaan itu meninggalkan bekas tak cantik di betis wifey yang seksi. Wifey pun berkali-kali mengingatkan akan menunjukan betis monumental tersebut pada hubby. Padahal dalam hati hubby tidak sedikit pun mempermasalahkan tragedi rambutan dan sepatu roda. Hubby cinta pada wifey bukan sekedar pada betisnya. Pada akhirnya setelah menikah terbukti bahwa wifey lebay. Betismu masih jauh lebih cantik dari betis Angelina Jolie. (Disclaimer: hubby tak pernah melihat betis si Aj).

Mengingat kisah tersebut aku jadi sering menerawang, seperti apa ya anak-anak kita kelak? Jika misalnya nanti ada kelakuan absurd dari anak-anak kita sepertinya aku sudah cukup tahu ke mana jari aku harus menunjuk. Sebab untuk aku sendiri jangankan dengan sepatu roda, memanjat biasa saja sepertinya tidak pernah. Allah itu Maha Adil, memasangkan aku dengan sosok yang benar-benar bisa mengkomplemen aku.

Time move so fast. Gadis pemanjat pohon rambutan bersepatu roda tersebut kini sudah tumbuh menjadi gadis nan ayu dan menawan. Buktinya sejak pertama bertemu hati aku langsung terperangkap pesona wifey. Gadis tersebut juga sudah berhasil mencapai prestasi-prestasi yang gemilang. Allah itu Maha Adil sayangku. Mungkin wifey masih sering merasa trauma dengan masa lalu. Keluarga yang tidak utuh. Namun seperti pendapat yang sering aku sampaikan dulu mungkin hikmah dari masa lalu tersebut adalah pencapaian-pencapain wifey sekarang. Jadi jangan pernah berhenti bersyukur sebab semua ketetapan itu selalu memiliki hikmah yang indah. Serta segala sesuatu yang terjadi itu memang sudah takdirnya. Namun takdir yang belum terjadi selalu bisa dirubah dengan doa.

Aku sendiri tak pernah aku berhenti bersyukur atas semua karunia yang aku rasakan dalam hidup aku dan salah satu karunia terindah tersebut adalah kehadiran wifey dalam hidupku. Wifey akan selalu menjadi inspirasi dan penyemangatku.

Tunggu aku di salah satu kota di Eropa sekitar bulan September musim dingin tahun ini. Mungkin kita berdua harus mencoba memanjat pohon cemara menggunakan sepatu ice skating.

PS: I love you

Monday, April 2, 2012

Dear wifey - Gadis yang Balapan dengan Kereta

Dear wifey,

Jumat lalu saat di bus 854 yang menghantarkan aku ke kantor bus beriringan dengan mrt yang juga berjalan. Seketika aku ingat cerita yang sering wifey bagi saat dulu wifey senang balapan di motor dengan kereta api.

***

Perjalanan ke Jember pertama kali pasca lebaran adalah momen yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Dari hal tersebut juga aku semakin merasa bersyukur dan kagum dengan mekanisme perjodohan yang Allah atur. Jika wifey masih ingat, semalam sebelum aku berangkat ke Jember aku sangat galau. Silaturahmi tersebut adalah milestone yang sangat penting untuk hubungan kita ke depan. Aku bertemu orang tua wifey dan menyampaikan itikad kedatanganku. Menegangkan namun aku sangat menikmatinya.

Aku masih ingat berangkat ba'da shubuh dari Jonggol. Seingatku aku sambung naik Damri dari Rambutan. Aku terbang ke Surabaya dan lanjut Damri lagi ke Terminal Surabaya. Di damri ini aku mengobrol panjang lebar dengan bapak-bapak beristri dua. Iya dia bercerita sedikit tentang hidupnya. Aku agak lupa mengenai detail apa yang iya ceritakan. Oh ya wifey tak usah khawatir, Insya Allah sampai detik ini tak pernah terpikirkan olehku menggantikan wifey dengan wanita mana pun. Insya Allah tak akan pernah selamanya.

Sampai terminal Surabaya aku shalat zuhur dan langsung ke terminal luar kota sambil menengok berbagai jurusan bus di sana. Ada Malang dan aku naik yang ke arah Jember, Banyuwangi. Aku penumpang yang naik terakhir pada waktu itu, duduk di bangku paling belakang di samping seorang pria yang terlihat sangar. Lucunya di perjalanan aku justru mengobrol panjang lebar dengan pria tadi. Jika tak salah ingat namanya Yanto. Seorang operator alat berat yang bekerja membuka lahan di hutan. Ada pesan penting dari percakapan kami. Meski pun baru kali itu bertemu aku melihat Yanto sebagai orang yang sangat berbakti pada orang tuanya. Yanto turun di Rambi puji (semoga tak salah eja). Aku lanjut hingga Tawang Alun. Di sanalah jantungku mulai berdegup kencang menunggu calon istri dan calon mertuaku yang datang.

Kita melakukan banyak hal di waktu itu. Shalat bersama, ngobrol dan tak lupa jalan-jalan sekitaran Jember. Oh ya aku juga masih sangat ingat ketika kita pagi-pagi berjalan ke pasar di sekitaran kompleks bersama mimo. Time move so fast honey.

Kembali ke masalah balapan dengan kereta api. Sepanjang jalan antara alun-alun ke arah Patrang ada rel di sebelah kiri. Wifey bercerita pada waktu itu, dulu saat wifey masih kuliah atau sekolah, saat pulang menjemput adik, wifey selalu balapan dengan kereta, dan membujuk adik untuk tidak menceritakan kelakuan "unik" wifey pada mimo. Saat wifey bercerita langsung saja otak aku memvisualisasikan kejadian tersebut. Wifey yang sedang balapan dengan kereta di atas motor. Seorang anak gadis yang "beda" (dalam tanda positif tentunya) dari orang-orang kebanyakan. Dengan semangatnya menjalani hidup dan mengejar cita-cita. Saat wifey sering bilang ke hubby, "hubby you've been through a lot" sebenarnya kata-kata tersebut lebih tepat untuk wifey. Kamu sudah mengalami banyak hal. Berhubung kamu orang baik, maka Allah pun memberikan banyak hal yang layak dibilang sebagai balasan atas perjuangan hidup kamu. Keluarga yang baik, pernikahan kita yang Insya Allah samara dan beasiswa ke luar negeri, suatu hal besar yang masih menjadi mimpi untuk hubby.

Maka ketika Jumat lalu hubby beriringan dengan MRT di dalam bus. Ingatan langsung melompat ke suasana beberapa tahun lalu di sepanjang jalan dari alun-alun ke arah Patrang di mana seorang gadis dengan mimpi-mimpi dan karakternya yang sangat kuat sedang berbalapan dengan kereta api. Dan kini gadis itu sudah menjadi gadisku. Yang akan aku muliakan dunia dan akhiratnya.

Jangan pernah bosan bermimpi, biarkan Allah memeluk mimpi-mimpi kita. Jangan pernah bosan berdoa, hingga Allah "bosan mendengar" dan akhirnya mengabulkannya.

Tunggu aku di sekitaran September tahun ini di sebuah kota di Eropa. Di mana kita akan bersama-sama menuntut ilmu, merajut mimpi-mimpi kita dan mungkin sesekali mencoba balapan dengan kereta api meski hanya menggunakan sepeda.

PS: I love you

Sunday, April 1, 2012

Dear Wifey - Tak Ada Doa yang Tertolak

Dear wifey sayang,

Email kali ini mungkin agak memalukan. Namun hubby sudah mengubur rasa malu hubby saat berhadapan dengan wifey. Sebab hubby ingin tampil apa adanya di depan wifey. Tentunya sambil terus melakukan self improvement tanpa henti. Aku mungkin tidak sempurna, aku memang ingin menjadi penyempurna hidup wifey, namun aku akan selalu ingin lebih mendekati sempurna setiap waktu.

Tak ada doa yang tertolak. Namun Allah selalu punya caranya sendiri dalam menjawab doa-doa hambanya.

No editing, banyak gesture aneh, lightingnya jelek, gambarnya ga fokus, tapi inilah hubby apa adanya. Semoga setiap hal yang hubby lakukan bisa selalu istiqamah. Zillion loves, kisses and hugs from hubby for the greatest wife in the world. Istri yang akan selalu aku muliakan selamanya.

Enjoy the shame of me:

http://www.youtube.com/watch?v=BO1FqctipTQ

PS: I love you