Pages

Thursday, April 12, 2012

Dear wifey - 1000 percent Happyness

Dear wifey,

Pagi tadi aku berbahagia 1000percent. Tadi aku menerima email yang sangat indah darimu. Saking indahnya membuat aku hampir tak dapat berkata apa-apa. Bahkan sampai.membuat kantung mataku berat terisi air hingga luber. Terima kasih sayang, telah menjadi seorang istri yang sangat sempurna.

Dear wifey, oleh karena itu saat tadi alarm menyala jam 4 aku langsung bangun segar 1000percent juga. Sebab seketika bangun aku langsung membaca emailmu sambil menyalakan skype yang crash. Saat skype tersambung aku terpesona oleh seorang gadis bermukena yang sangat cantik. Bahkan aku sampai lupa jika kini ia telah menjadi istriku.

Dear wifey, hidup ini selalu penuh misteri dan rahasia. Aku dulu tak pernah tahu bahwa kelak aku berjodoh dengan seorang gadis mengagumkan seperti kamu. Padahal jodoh manusia itu sudah ditetapkan sejak ruh kita baru ditiupkan. Sehingga sejak bayi hingga akhirnya aku bertemu kamu, Allah sudah menggariskan bahwa kita akan menikah. Didorong niat, doa dan ikhtiar yang baik serta sedikit kiss kiss karena khilaf ;p akhirnya kita benar-benar menikah. Bahkan aku sendiri masih tak percaya, dengan kekerean aku yang nyaris tak punya uang saat berniat melamar kamu, namun ternyata Allah sudah mencukupkan semuanya. Aku terkadang masih benar-benar terpesona dengan semua mekanisme ini.

Dear wifey, selepas sahur tadi aku merasa nikmat sekali memandangimu yang tertidur sangat lelap sekali. Entah berapa kali sudah aku bilang aku ingin ada di dekatmu. Memelukmu dengan hangat dan lama. Aku menyesal dulu-dulu aku hanya memelukmu sebentar sebentar saja.

Serupa denganmu, cita-cita besar aku dulu ada banyak. Ingin kuliah sampai mentok, ingin menjadi expert di bidangnya, ingin kerja di perusahaan internasional dengan gaji 2 digit atau bahkan 3 digit dalam juta rupiah, ingin punya rumah besar, mobil sporty dan motor yang keren, ingin punya juga tanah berhektar-hektar. Namun kini aku ingin melakukan reordering mimpi. Aku sedemikian bahagianya berjodoh dengan kamu. Aku sekarang lebih ingin menjadi suami terbaik bagi istriku yang terbaik, menjadi ayah yang penuh teladan dan kasih sayang bagi anak-anakku kelak, menjadi anak yang berbakti bagi orang tua kita dan menjadi pelindung bagi adik-adik kita semua. Tentu saja mimpi lamaku masih ada di sini. Namun aku lebih mengejar mereka bukan karena ambisi. Namun lebih pada keinginan untuk membahagiakan keluargaku dan terutama menjadi insan yang diridhai oleh Tuhannya.

Dear sayang, jauh darimu itu sangat membuatku sedih. Namun aku juga bahagia melihat istriku yang tak pernah berkurang cintanya meski tak ada di dekatku. Tapi aku selalu merasa hatimu selalu ada di dekatku seperti yang kamu bilang. Hidup ini penuh misteri dan masa depan pun penuh misteri. Dulu aku selalu visioner sekali bisa merancang rencana masa depan dengan sangat detail. Namun sekarang aku dalam status onhold. Menunggu hasil beasiswa. Masa depan itu bukan untuk diramal namun untuk diciptakan. Future is not to be predicted but to be created. Setiap bagian kehidupan manusia itu sudah memiliki takdirnya. Namun takdir selalu bisa dirubah dengan doa dan ikhtiar. Aku tak akan pernah berhenti berdoa hingga bisa dapat beasiswa. Setelah dapat beasiswa pun aku akan terus berdoa.

Tunggu aku di Ilmenau satu sore di bulan September. Aku tak tahu apakah salju akan turun pada hari itu. Sejak hari tersebut kita akan mulai merancang masa depan bersama. Semoga takdir baik dan kehidupan barokah selalu bersama kita.

PS: I love you

Wednesday, April 11, 2012

Dear wifey - Run

Dear wifey,

Saat wifey di Singapura setiap pulang kantor aku pasti selalu berlari sekencang mungkin agar dapat segera sampai ke halte. Naik bus kemudian sampai di tujuan aku berlari kembali agar bisa lekas memeluk istriku. Setelah wifey pulang ke Jakarta dan berangkat ke Jerman, aku hampir tak pernah berlari lagi.

Salah satu film favoritku adalah Forrest Gump. Dibintangi Tom Hanks meski film ini sangat barat sekali dengan nilai-nilai liberalnya, namun banyak sekali pesan moral yang disampaikan.

Setelah ibu Forrest meninggal, Forrest tak tahu harus melakukan apa. Pada akhirnya ia memutuskan untuk berlari. Ia berlari tanpa arah. Berlari ke mana ia mau. Ia hanya berhenti saat ia tak bisa berlari lagi. Biasanya saat ia tiba di pinggir laut. Setelah itu ia berbalik arah dan berlari lagi. Dari barat ke timur dan dari timur kembali ke barat. Tanpa tujuan spesifik, hanya untuk melampiaskan rasa bebas sambil pikirannya yang terbatas terus menerawang.

Aku ingin berlari seperti Forrest. Namun jika Forrest berlari tanpa arah, aku ingin selalu berlari menuju istriku. Aku ingin berlari ke Jerman. Mungkin baru beberapa bulan kemudian aku sampai. Aku hanya ingin memelukmu dengan sangat lama.

Jangan khawatir sayangku, statement satu paragraf di atas hanyalah buah pikiran galau. Insya Allah aku masih cukup waras untuk tidak segila itu. Insya Allah semoga aku dicukupkan rezeki untuk cukup membeli tiket pesawat. Insya Allah semoga Allah berkenan meluluskan beasiswa aku. Pernyataan tadi Itu adalah salah satu bentuk ekspresi bahwa aku sangat rindu kamu.

Wifey sayang, aku selalu kangen Punggol Park. Allah itu Maha Baik berkenan memberi tempat yang nyaman sekali untuk kita tinggal bersama meski sesaat di Rivervale. Aku selalu ingat saat kita pernah berkejar-kejaran di minggu pagi pertama wifey di Singapura di Punggol Park. Jadi pada waktu itu jauh-jauh membawa sepatu rebook ternyata hanya dipakai satu kali ;).

Momen lari yang juga tak akan kulupa adalah saat kita mengejar-ngejar bus ba'da shalat untuk mengejar jam nonton. Pada akhirnya filmnya justru membosankan. Aku menyesal hingga kini, saat betapa aku lalai dalam memberlakukan istriku dengan baik. Tega sekali aku waktu itu mengajak kamu berlari-lari hanya.untuk sebuah film. Maafkan aku untuk kebebalan hatiku. Namun dari momen itu aku semakin sadar, betapa engkau adalah istri yang nyaris sempurna. Tak pernah kurang kelembutan dari sikapmu. Tak pernah lalai sedikitpun dalam menjaga perasaan suamimu. Tak pernah kurang kamu selalu bersabar.

Dear wifey bus sudah hampir sampai Farrer Park. Aku harus bersiap turun. Namun setelah turun aku tak perlu berlari. Tak ada kekasih hatiku yang bisa kupeluk di rumah. Biarlah rasa kangen ini dibawa angin yang berlari hingga Jerman.

Tunggu aku di Ilmenau saat musim dingin di bulan September. Aku tak tahu apakah kita bisa berlari di musim dingin, namun aku ingin berlari bersamamu.

PS: I love you

Written on the bus, on the way home.

Singapore, 11 April 2012

Tuesday, April 10, 2012

Dear Wifey - Sebuah Rutinitas di Pagi Buta

Dear Wifey,

Perlahan aku mulai menikmati rutinitas yang sering kita lakukan setiap pagi. Baik pagi Singapura atau pun Ilmenau. Saat wifey selalu tak sabar menunggu pukul 10 malam. Dalam tidur aku pun tak sabar menunggu pukul 4 pagi. Di saat suara ringtone skype berbunyi dari laptop yang menyala terus. Sengantuk-ngantuknya dan selemas-lemasnya badan, aku akan melompat dari kasur hanya untuk mengangkat video call dan bisa memandangi wajah istriku yang sangat cantik. Kita pun ngobrol-ngobrol sejenak, sedikit bercanda-canda dan menggoda-goda. Setelah kantuk cukup hilang, aku pergi wudhu. Rutinitas berikutnya adalah shalat hajat dan tahajud. Setiap selesai shalat tersebut aku pun berdoa banyak hal dengan sangat khusyu. Setelah berdoa menyempatkan mengaji sebentar. Setelah mengaji aku terkadang makan dan setelahnya aku menulis surat kangen pada istriku seperti saat ini.

Dear wifey, aku sedih saat gagal mendapat beasiswa. Sejujurnya aku juga sangat sedih ketika wifey harus berangkat ke Jerman. Aku bahkan sempat merasa tak sanggup untuk tinggal berjauhan dengan istri yang baru saja aku nikahi. Seorang wanita yang ingin aku muliakan dunia dan akhiratnya. Namun perlahan aku mulai merasakan hikmah dari semua ketetapan Allah ini. Yang paling terutama, aku tiba-tiba merasa sangat dekat dengan Allah. Shalatnya lebih khusyu dan agak lama, setiap shalat hampir tak pernah absen zikir dan berdoa. Barangkali Allah ingin melatih aku untuk selalu dekat denganNya melalui cara menunda hal yang aku inginkan dan justru mengganti dengan hal yang aku butuhkan. Menunda permohonanku untuk dikabulkan pada waktu yang jauh-jauh lebih tepat dengan nilai yang jauh-jauh lebih indah dan besar. Sehingga dengan pembiasaan ini kelak ketika pun permohonan aku dijawab, aku akan tetap terbiasa dekat dengan Allah, tetap terbiasa shalat dengan khusyu dan tak pernah berhenti berdoa dengan penuh harap. Hal ini serupa dengan hikmah bahwa dengan kita harus tinggal berjauhan sementara waktu, kita akan berlatih untuk saling mencintai dengan rasa cinta yang besar sehingga ketika kelak kita tak jauh lagi, kita akan terus terbiasa untuk mencintai dengan rasa cinta yang tetap besar.

Dear wifey, saat kita nanti berkumpul lagi, aku ingin tetap terus menjaga rutinitas tersebut. Semoga bisa selalu mendapat hidayah untuk selalu shalat malam, shalat secara khusyu, berdoa dengan penuh harap, rajin berpuasa, rajin membaca, menghafal dan mengamalkan Al Quran. Serta tak lupa sesekali akan terus mengirimimu surat-surat cinta. Aku ingin melakukan itu semua bersama istriku. Untuk selamanya. Dari muda, hingga tak muda lagi. Dari hanya kita berdua, hingga berlima atau bertujuh nanti dengan anak-anak kita.

Dear wifey, pagi ini sambil mengetik aku memandangi wajah ayumu yang tertidur sangat lelap sekali dari kamera skype. Aku sangat merindukanmu. Ingin memelukmu lama, menciumi dahi dan pipimu yang lembut. Membaui aroma tubuhmu yang selalu menikmatkan. Melalui sinyal wifi, menyambung ke kabel highspeed internet yang terhubung dengan koneksi fiber optik, salam rinduku aku kirim pada gadis berselimut yang tertidur sangat lelap. Aku tak sabar untuk bisa segera menyusulmu. Dan kita akan selalu melakukan banyak hal bersama, belajar bersama, bercanda bersama, beribadah bersama, selamanya.

Tunggu aku di Ilmenau saat musim dingin di bulan September. Di sana kita akan terus menikmati rutinitas kita bersama. Semoga kita tak pernah bosan untuk terus belajar dan beribadah.

PS: I love you

Monday, April 9, 2012

Dear wifey - I want to always loving you with biggest love ever

Dear wifey,

Pagi ini aku tidak punya topik spesifik. Bahkan saat jari aku mulai mengetik, aku masih belum tahu mau bicara apa. Jadi ini semua adalah kata-kata yang benar-benar mengalir secara spontan dari hati. Oke baiklah, sepertinya aku sedikit mulai teringat sebuah hal yang semoga menarik dan indah untuk dibicarakan.

Jarak dalam kebanyakan hal adalah hal yang sangat pahit. Apalagi jarak untuk sebuah cinta. Aku tak mau mendefinisikan cinta. Banyak orang sudah melakukannya dan semua punya definisi yang berbeda-beda. Untuk aku cinta adalah kehangatan, perhatian untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, keinginan untuk saling melengkapi sambil memaklumi kekurangan pasangan kita dan yang terutama cinta adalah media bagi kita sepasang manusia untuk menggapai ridha dari Tuhannya. Mungkin aku mulai terlalu banyak menyebut kata Tuhan. Mungkin aku sudah mulai cenderung seperti seorang tukang khutbah. Tapi entahlah, aku merasa tidak ada apa-apanya tanpa Tuhan. Orang-orang Atheis sering bilang Tuhan itu adalah pelarian bagi orang-orang lemah. Namun, aku justru berpikir dengan keyakinan terhadap Tuhan kita bisa mencapai apa pun yang kita mau. Tuhan adalah tempat harap dan tempat mengadu saat manusia memang hampir tak terhindar dari membuat dosa.

Salah satu doa yang belakangan sering aku panjatkan adalah "Ya Allah mohon bimbing kami dalam memelihara rasa cinta yang abadi antara kami dengan tujuan mendapatkan ridha Mu". Tak ada yang lebih berharga dari sebuah keridhaan. Rasa cinta biasa tak ada gunanya tanpa sesuatu yang hakiki. Maka dari itu ridha adalah sebuah tujuan hakiki yang selalu aku harapkan untuk menjadi pengabadi bagi cinta kita. Aku selalu ingin menjadi suami abadimu dan aku ingin wifey menjadi istri abadiku. Seperti yang pernah aku bilang bahkan aku tak mau menukarmu dengan 1000 bidadari sekalipun. Terdengar seperti membual, namun itu dari hatiku.

Dear wifey, jarak itu pahit. Jarak membuat aku tak dapat memelukmu saat rindu. Jarak memustahilkan hidungku mencium aromamu yang selalu menenangkan. Namun, tak pernah pula aku berburuk sangka atas rencana Tuhan. Allah selalu punya hikmah indah dari setiap rencananya. Aku yakin termasuk momen berjarak antara kita dalam beberapa bulan ke depan. Semoga aku bisa segera menyusulmu ke sana. Seperti yang pernah aku bilang, jaraklah yang justru membuat kita berlatih untuk mempunyai rasa cinta yang sangat besar sehingga saat kelak kita tak berjarak lagi, kita akan terbiasa terus mencintai dengan rasa cinta yang besar. Aku sadar dan benar-benar maklum atas sedikit ketakutan yang kamu ungkapkan di skype tadi. Terkadang sesuatu terasa berharga saat tak ada. Manusia akan saling romantis saat jauh. Namun biasanya semua akan mulai hambar saat manusia itu saling berdekatan lagi akan sering membalap ego dan amarah. Aku ingin mendobrak kebiasaan! Insya Allah aku tak akan seperti itu. Seperti yang tadi aku katakan juga, aku ingin lebih dewasa. Aku ingin lembut selalu pada anak istriku. Aku ingin terus mencintaimu dengan rasa cinta yang besar saat jauh dan akan mencintai dengan rasa cinta yang jauh jauh lebih besar saat kau dekat. Berbicara itu memang gampang. Namun aku akan berniat bulat dan berikhtiar untuk membuktikan kata-kataku.

Harap adalah doa. Aku tak akan pernah berhenti untuk berharap semoga cinta kita benar-benar dapat membimbing kita menggapai ridha Illahi. Tunggu aku di Ilmenau, di satu hari di bulan September tahun ini. Aku akan memelukmu dengan pelukan terhangat dan tak kuasa untuk melepaskanmu. Aku akan mencintaimu terus dengan rasa cinta yang besar. Sebab aku selalu percaya, Allah selalu punya hikmah indah dalam setiap rencana dan ketetapannya.

Sunday, April 8, 2012

Dear wifey - When I always Miss My Mother

Dear wifey,

Tadi aku ingin menangis saat berangkat dari rumah. Mama dan bapak sepertinya tidur hanya sebentar. Mereka berdua terjaga hanya untuk memastikan aku tidak terlambat. Oleh karena itu saat tadi mama melambaikan tangan di depan pintu rumah dengan senyuman termanis yang pernah aku lihat, aku ingin loncat dari boncengan bapak di kotor dan memeluk erat ibuku.

Dear wifey, Allah itu selalu Maha Adil. Saat aku punya bapak kandung yang kurang sempurna, Allah memberiku ibu kandung yang nyaris sempurna dan Allah juga memberi seorang bapak baru yang bahkan aku merasa lebih dekat dengannya dibanding bapak asliku. Bicara tentang mama, memang beliau terkadang masih memiliki kekurangan. Suka ngomong ceplas-ceplos dan terkadang suka sedikit agak tempramental. Tapi kasih sayang beliau benar-benar tak terbatas.

Bicara Pak Yadi beliau benar-benar mensubtitute kehilanganku terhadap sosok seorang ayah. Beliaulah yang rela ke sana ke sini untuk mendampingi aku selama prosesi akad dan nikah. Beliau juga ayah yang tak marah sedikitpun saat dulu aku pernah menjatuhkan motornya hingga rusak cukup parah. Beliau juga dengan suka hati mengantar aku dari Jonggol hingga Legenda Wisata barusan meski mungkin ia masih mengantuk. Padahal adalah sangat nyata aku bukan anak kandung beliau. Hal lain yang aku syukuri darinya adalah beliau benar-benar menyayangi mama dengan tulus.

Namun semua cerita di atas bukan bermaksud mengabaikan peran bapak kandungku. Setidaksempurnanya bapak Padang, aku tak akan pernah ada di muka bumi ini tanpa beliau. Mereka bertiga adalah orang tuaku. Yang ingin sekali aku bisa berbakti pada mereka tanpa batas. Apalagi meski ajal tak tahu kapan datang dan umur tak bisa ditebak, kita mungkin akan berpisah dengan orang tua.

Ada sebuah hajat yang ingin aku ikhtiatkan untuk orang tuaku. Aku ingin bisa memberangkatkan mama ke tanah suci untuk berhaji atau setidaknya berumrah dulu. Jika.memungkinkan aku juga ingin mampu memberangkatkan bapak Yadi juga.

Dari semua cerita di atas sangat niscaya dalam alasan untuk berbakti pada orang tua. Anak adalah permata hati orang tua. Tak terbayang rasa bahagia orang tua jika melihat anaknya shaleh dan sukses. Namun tak terkira juga perihnya perasaan orang tua jika anaknya tak shaleh dan gagal. Ada sebuah pepatah yang akan aku ingat terus. Orang tua akan bahagia jika anaknya bahagia. Orang tua akan sedih 10 kali lipat saat anaknya sedih.

Dear wifey, keberangkatan aku pagi ini memberi aku peringatan untuk benar-benar bersikap baik selalu pada orang tua. Apalagi Insya Allah dalam waktu tak lama kita akan menjadi orang tua bagi anak-anak.kita. Tsk sabar aku memomongnya ketika masih kecil. Mendidiknya dengan lembut. Mengajari mereka shalat dan mengaji. Bahkan juga mengajari mereka Matematika dan Fisika.

Tunggu aku di Jerman di bulan September. Beberapa bulan setelah aku tiba semoga kita segera mempunyai anak.

PS: I love you

Dear wifey - Surat Kangen dan Menjadi Istiqamah

Dear wifey,

Berubah itu mudah. Memulai itu juga mudah. Yang sulit itu adalah untuk tetap istiqamah dan konsisten tanpa kecuali.

Kemarin aku seharian keliling Jakarta dan Bekasi. Alhamdulillah wifey mengingatkan hubby untuk pake mobil. Tak terbayang jika mondar-mandir sedemikian jauh naik motor. Mungkin karena hubby sudah tak muda lagi. :p

Bedanya dari jalan-jalan biasanya, tak ada wifey yang suka tertidur-tidur hingga terantuk-antuk di bangku depan. Kemarin Thia yang menemani sambil nyrocos bercerita sepanjang jalan.

Aku kangen saat pergi bareng-bareng wifey. Aku kangen saat memegang tangan wifey sambil nyetir. Aku kangen menggenggam tangan wifey saat naik motor sambil memijit-mijit paha wifey agar wifey tak tertidur.

Setelah kemarin seharian keliling sana keliling sini, hubby sampai rumah lewat tengah malam. Setelah bercengkrama sejenak dengan keluarga aku masuk kamar. Kemudian kita pun skype melepas rindu sebentar. Sekitar jam 2 aku tidur.

Sebenarnya semalam aku memang tak berniat bulat kuat untuk sholat malam. Sehingga ketika wifey membangunkan, aku lemas seperti habis ditimpa gajah. Padahal jika memang sudah berniat, hal apa pun idealnya tak menjadi halangan. Terima kasih sayangku, dengan berbagai cara kamu masih berusaha membujukku untuk shalat malam. Dengan caramu yang selalu lembut dan penuh perhatian. Namun sayang setan semakan mengeratkan selimutku dan membuat aku terlena kenyamanan. Masih ingatkan cerita tentang surat Al Muzzamil, orang-orang yang berselimut. Bangun tengah malam untuk beribadah adalah hal yang sulit. Sejenak ketika kita punya hajat mungkin hal itu bisa dilakukan dengan mudah. Namun terus mempertahankan tanpa alasan tidaklah gampang. Aku gagal untuk istiqamah semalam. Dengan alasan kelelahan yang tidak bisa menjadi alasan. Bahkan pada hari yang sama aku terlambat mengirim surat kangenku pada wifey. Dan surat ini pun semakin terlambat untuk dikirim hari ini. Aku sedih gagal untuk disiplin dan istiqamah.

Seorang muslim idealnya bisa menjadi orang paling sukses dan maju di permukaan bumi jika menerapkan nilai-nilai islamnya dengan sebaik mungkin. Salah satu nilai yang punya kontribusi dalam kesuksesan adalah disiplin dan istiqamah. Kita dilatih nilai tersebut dengan 5 waktu shalat. Kita harus istiqamah shalat, sebab sekali saja meninggalkan shalat akan menjadi dosa yang besar. Kita juga harus disiplin dalam shalat sebab shalatn itu ada waktu-waktunya. Dengan shalat secara benar seharusnya kita semakin terbiasa menerapkan nilai-nilai kedisiplinan dan keistiqamahan dalam hal lain. Misalnya dalam belajar, mengerjakan tugas, keinginan menulis buku, belajar bahasa, dan sebagainya. Namun inilah sebagian besar dari kita yang hanya menjadikan nilai-nilai luhur agama sebagai perhiasan di permukaan dan belum terlalu meresap dalam hati.

Aku ingin bisa istiqamah dalam ibadah. Aku ingin disiplin dan istiqamah untuk terus menulis surat-surat kangen pada wifey.

Tunggu aku di salah satu kota di Eropa pada bulan September. Di mana aku ingin melepas kangen yang tertumpuk yang dalam sementara waktu hanya tersalurkan dari beberapa paragraf surat kangen yang akan terus aku kirim setiap hari.

PS: I love you

Saturday, April 7, 2012

Dear wifey - Hari ketika Michiko Wafat

Dear wifey,

Berikut sebuah cerita yang semoga cukup panjang dan tak membosankan. Maafkan hubby terlambat untuk email hari ini. Ditulis saat menunggu antrian dokter.

Kemarin hujan turun hampir seharian di Jonggol, bahkan hingga pagi tadi. Seperti langit, hujan pun sering membawa suasana melankolis.

Seperti wifey tahu Jonggol adalah daerah metropolitan. Calon ibukota negara! Namun saat hujan semuanya akan jadi becek berlumpur. Masih selalu teringat masa-masa semester akhir kuliah hingga sebelum kos saat kerja di NFS. Setiap hari aku pulang pergi Jonggol Jakarta naik motor. Saat terik badan akan sangat berkeringat hingga baju basah saat sampai kantor atau kampus. Namun saat hujan, tak sekali dua kali baju akan terembes air hujan yang menembus matel.

Ada sebuah cerita lucu menarik mengenai motor dan hujan. Setelah beberapa bulan pertama aku bekerja, aku menabung sedikit uang gaji sisa dari memberi mama. Setelah beberapa bulan terkumpul uang sekitar 5 juta. Waktu itu aku masih kerja di kantor pertama.

Dengan sangat sumringah aku membeli sebuah hp yang aku idam-idamkan secara tunai. Pada waktu itu aku belum kenal kartu kredit. Aku membeli Nokia 5800. Hp yang sangat canggih pada masanya. Layar besar, touch screen, wifi dan gps. Betapa bahagianya aq pada waktu itu.

Jika tak salah ingat saking cintanya aku memberi nama pada hp itu. Jika tak salah namanya Michiko San. Pada waktu itu aku masih tergila-gila ingin ke Jepang. Oh ya bisa wifey tebak warnanya? Merah!!

Michiko menemani aku siang dan malam. Saat di jalan, saat di rumah, saat di kantor. Bahkan Michiko yang selalu aku cari saat menjelang tidur. Juga yang aku cari saat pertama membuka mata. Michiko adalah separuh hidupku pada waktu itu.

Kembali ke masalah hujan. Saat sedang musimnya, hujan bisa turun setiap hari. Adakalanya aku disiram hujan 15 hari dalam sebulan saat bolak-balik kantor.

Suatu hari saat berangkat kantor aku lupa membawa jas hujan. Naas saat pulang langit mendung dan sangat gelap. Berdoa hujan tak turun aku ngebut pulang ke arah Jonggol. Pada waktu itu aku berkantor di Kalibata di sebuah ruko tua yang sangat horor. Sekarang ruko tersebut terkubur di bawah jalan layang kalibata.

Kalibata Jonggol dan sebaliknya biasa aku tempuh dalam waktu 90 menit ngebut. Sekeluar dari kantor aku ngebut berlari dari awan hitam. Dar kalkbata biasa aku ke arah taman mini, cilangkap, kranggan, cibubur, cileungsi dan jonggol. Lupakan masalah lokasi dan nama tempatnya yang pasti perjalanannya jauh sekali. Kalau sekarang jangankan setiap hari, seminggu sekali pun aku ga akan sanggup.

Lanjut lagi ke cerita perjalanannya. Setelah kira-kira pertengahan jalan menuju Jonggol, akhirnya aku kalah oleh awan hitam. Sebelumnya aku masih berusaha kabur meski dihajar hujan rintik-rintik. Hujan turun dengan amat dasyatnya menghentikan lari aku. Aku berteduh di sebuah kedai nasi goreng bersama beberapa pemotor lain. Tempat berteduhnya sayangnya kurang nyaman. Masih banyak cipratan-cipratan yang menerpa aku dari langit-langit terpal yang bocor. Ada sebuah kisah emosional pada masa-masa awal aku kerja. Gaji aku sebulan adalah 2.500.000. Namun aku berhasil mengatur pengeluaran hanya maksimal 500.000 dalam sebulan. Sehingga dari 2 juta sebagian bisa aku beri ke mama lalu sedikit sisanya bisa aku tabung. Bagaimana bisa mengatur pengeluaran seperti itu? Adalah dengan hampir tidak jajan atau jajan hanya sekali makan siang saja. Aku masih ingat dalam 4 atau 5 bulan aku bekerja kombinasi makan siang aku adalah ketoprak dan gado-gado yang mana itu sebenarnya masih satu famili makanan.

Kembali ke masalah berteduh. Saat itu aku merasa ingin sekali nasi goreng. Hujan turun deras dan baju dan celana pun lembab karena hujan. Namun aku harus benar-benar menekan rasa ingin makan pada waktu itu karena aku ingin menabung. Aku juga merasa dalam sekitar satu jam aku mungkin akan sampai di rumah dan bisa makan di saja. Apalagi waktu itu aku baru saja mengeluarkan uang besar untuk membeli Michiko. Mungkin wifey akan menilai aku sebagai orang yang bodoh dan menyiksa diri. Namun entah bagaimana, mungkin itu sebuah prinsip yang akan dipegang seseorang yang harus kerja keras untuk kuliahnya karena tak punya ayah dan tak terlalu pintar untuk mendapat beasiswa. ;). Jangan salah paham sayang, itu bukan statement kufur nikmat. Aku selalu berusaha menjadi orang yang bersyukur.

Pada akhirnya segala prinsip berhemat tadi rontok juga karena aku berteduh hingga satu jam dan hujan tak kunjung reda. Aku melahap nasi goreng dengan sedikit perasaan bersalah. Namun nasi goreng itu enak sekali rasanya.

Setelah makan nasi goreng intensitas hujan agak berkurang. Aku memutuskan untuk lanjut naik motor. Baru jalan sekitar 200 meter, hujan menderas lagi dengan lebih dahsyat. Aku minggir di pom bensin. Aku lama sekali berteduh di pom bensin. Hampir 2 jam mungkin. Aku menyempatkan shalat juga dengan baju yang semakin basah. Salah satu petikan terkenan di kalangan pemotor adalah jika hujan lebih baik jalan terus saja. Sebab berteduh pun akhirnya basah-basah juga. Petikan itu terjadi pada aku. Setelah tak tahan menunggu aku akhirnya memutuskan jalan juga meski hujan masih berderai-derai.

Hari itu adalah hari di mana aku melakukan sebuah kebodohan monumental yang tak terlupakan. Entah karena kecapean atau otak sudah lembap karena kebasahan, sebelum naik motor aku ingin sekali mendengar musik di jalan. Padahal jelas-jelas hujan sangat deras dan aku tak pakai jas hujan, hanya memakai jaket tipis dan sebuah rompi angin. Tapi logika bodoh aku.mengatakan selipkan saja Michiko di balik rompi angin. Pasti aman. :p Toh klo pun kebasahan pasti ketahuan sebab aku mendengar musik. Musiknya pasti mati.

Akhirnya aku jalan sambil mendengar radio. Hujan masih deras saja. Dilematika pemotor berhelm saat hujan adalah jika kaca helm ditutup, jalan hampir tak terlihat. Namun jika kaca dibuka mata akan sakit ditusuk-tusuk air hujan. Terpaksa aku pilih membuka helm meski muka harus basah kuyup.

Setelah sekitar satu jam diguyur hujan dan menembus banjir aku pun sampai di rumah. Ternyata radio.masih menyala dengan nyaring dari earphone. Jadi tak mengapa mendengar radio sambil hujan-hujanan. Aku langsung buka jaket dan menaruh hp. Hp hanya sedikit basah di pinggirannya. Saat aku taruh di meja tiba-tiba hp bergetar-getar. Belakangan aku tahu, Michiko sakratul maut. Jadi sepanjang jalan tadi dia berusaha bertahan dari gempuran air yang merembes pelan ke sirkuit elektroniknya. Aku masih penasaran. Aku cabut baterai aku pasang lagi. Aku nyalakan tombol power. Tersengar suara konsleting dan bau hangus. Saat itu otak aku sepertinya juga konslet. Berulang kali aku coba hidupkan tombol power namun bau hangus semakin tajam. Belakangan aku baru tahu, jika hp kebasahan sebaiknya langsung lepas baterai dan kubur dalam beras sampai seminggu. Pada kebanyakan kasus hp akan sembuh.

Malam itu Michiko meninggal dunia. Usaha aku mengklaim garansi pun gagal. Mengguyur hp dalam hujan tidak masuk lingkup garansi. Akhirnya Michiko laku di kaskus seharga 500.000. Belakangan aku menyesal juga kenapa harus menjual dengan harga yang sangat murah.

Itulah sekelumit kisah tentang aku, Michiko dan hujan. Patah hatiku saat ditinggal mati benda yang kucinta paling tidak memberi sedikit hikmah. Untum lebih berhati-hati dan berpikir dalam saat bertindak. Setidaknya aku masih tersenyum saat mengingat cerita ini.

Tunggu aku di salah satu kota di Eropa di bulan September. Meski nanti hujan dan kita tak berpayung aku akan memastikan manaruh hp dalam plastik dan memayungi istriku dengan jaketku.

PS: I love u