Dear Bunda,
Hari ini hari ketiga di Fujitsu. Sejauh ini semua berjalan dengan baik dan semua berjalan menyenangkan. Rutinitas aku setiap hari adalah bangun lebih pagi dari biasanya dan juga berangkat lebih pagi dari biasanya. Selesai mandi dan berpakaian lebih formal dari biasanya (kecuali Jumat) aku langsung keluar dari rumah memakai sepatu yang lebih formal dari biasanya (kecuali Jumat). Keluar rumah kemudian langsung masuk lift turun dari lantai 11 ke ground level. Keluar lift, melewati pagar apartemen dan berjalan sekitar 5 menit menuju Farrer Park MRT. Di Farrer Park MRT pada saat rush hour pagi semua kereta menuju ke selatan pasti penuh sesak, setidaknya sampai Douby Ghout di mana kereta memuntahkan sebagian besar penumpangnya yang terpecah ke jalur merah dan kuning. Dari Farrer Park ke Dhouby Gout cuma 2 stasiun. Dari Dhoby Gout ke terminal Harbor Front cuma 4 stasiun jadi dari Farrer Park ke ujung selatan jalur ungu cuma melewati 6 stasiun. Farrer Park itu NE8 jika kita bandingkan dengan Hougang yang NE14 cukup terbayang cukup jauh dulu kita tinggal.
Sampai Harbour Fron transit ke jalur kuning sangat dekat. Naik tangga jalan, berjalan tak lebih dari 20 meter kemudian turun tangga. MRT kuninga siap meluncur melingkari tengah Singapura (makanya di sebut Circle line) dari Harbour Front kemudian meliuk kembali ke Dhouby Gout (tapi ini melalui sekitar 28 stasiun meski dari Harbour Front ke Dhouby Gout itu dekat sekali). Dari Harbour Front ke kantor aku turun di Haw Par Villa, 4 stasiun setelahnya. Namun jarak antar stasiun circle line biasanya tidak terlalu jauh. Haw Par Villa sendiri sebenarnya nama sebuah kuil china yang di dalamnya katanya mereka membangun suasana neraka. Jadi di dalamnya ada patung-patung dan gambar-gambar suasana neraka.
Dari Haw Par Villa ke kantor bisa naik bus. Sebenarnya dari Haw Par Villa juga ada shuttle bus masuk ke dalam science park 2. Tapi aku belum sempat coba. Kalau naik bus umum cuma 1 bus stop jika turun di belakang kantor. Atau turun 3 bus stop terus menyebrang dan naik bus umum turun 2 bus stop kemudian di depan gedung teletech park dalam science park 2 di mana Fujitsu berasa. Jangan terkecoh dengan nama Science Park 2. Dulu aku juga berpikir ini semacam taman wisata hiburan. Namun ini adalah kompleks perkantoran. Di dalamnya ada mungkin sekitar belasan gedung. Namun gedungnya tidak tinggi-tinggi, maksimal 5 atau 6 lantai. Jarak antar gedung pun berjauhan. Di antara gedung-gedung tersebut banyak sekali pepohonan, danau dan bahkan air terjun buatan.
Teletech Park sendiri berlantai 3. Sebenarnya di gedung ini ada banyak tenan. Namun hanya Fujitsu yang memasang logo besar di luar gedung. Fujitsu sendiri menempati sebagian besar lantai 3. Meski gedungnya besar, namun justru banyak ruang kosong dan lorong-lorong kaca tempat duduk-duduk yang lucunya tidak dioptimasikan untuk disewakan. Namun dampak positifnya gedung jadinya terasa lapang dan tidak sumpek.
Kita kembali lagi ke Haw Par Villa. Dari Haw Par Villa ke gedung teletech park sebenarnya sangat dekat. Teletech Park sendiri berdiri persis di belakang Haw Par Villa. Hanya saja jika naik bus melalui jalan besar kita harus memutar. Jika mau jalan, ada sebuah tangga curam yang sangat terjal dekat dari Haw Par Villa langsung sampai belakang Teletech Park. Jika jalan ke tangga ini dari stasiun sekitar 4 menit. Jika malas jalan naik bus tak sampai 2 menit sebab hanya satu bus stop. Aku belum pernah menghitung namun aku memperkirakan ada 50 anak tangga masing-masing setinggi setengah dengkul untuk sampai ke puncak. Di kiri kanan ada pegangan besi jika kita cukup merasa kecapean. Sudah 2 hari ini aku iseng naik tangga itu. Benar saja sampai puncak hampir kehabisan nafas.
Saat sampai puncak itulah halaman belakang teletech park dengan banyak rumput dan pohon-pohon bunga yang aku tak tahu namanya. Dari puncak ini pula kita bisa melihat laut di arah selatan dan banyak mesin kargo di sana. Suasana akan terlihat bagus di sore hari. Saat matahari mulai turun dan aku hendak pulang. Sebab, jalan pulang ke tangga terjal itu adalah menurun saat pulang.
Jemput aku di Frankfurt september ini setelah aku menjemput bunda di Changi agustus ini. Saat di Singapura mungkin aku akan mengajak bunda sesekali menanjak tangga teletech park. Saat di Jerman bunda mungkin bisa mengajak aku menanjak ke tempat bunda biasa fotokopi. :p
PS: I love you
Friday, June 8, 2012
Wednesday, June 6, 2012
Dear wifey - Fujitsuer
Dear Bunda,
Pagi ini indah seperti biasanya. Meski matahari belum terlalu terik aku sudah keluar apartemen. Dulu saat masih di keane saat keluar apartemen matahari sudah cukup panas. Biasanya aku keluar rumah dengan berkaca mata hitam saat berangkat kerja. Sejak masuk Fujitsu kemarin aku berangkat lebih pagi. Masih tahap adaptasi dan ingin selalu improve dalam pekerjaan dari waktu ke waktu.
Suasana berangkat ke Fujitsu berbeda dengan saat ke Keane. Ke technopark lebih enak naik bus. Cukup naik satu kali duduk dan sampai. Namun ke Science Park 2 (tempat Fujitsu berada) lebih enak menggunakan MRT. Naik purple line sampai mentok di harbour front lalu pindah ke circle line turun di Haw Par Villa. Dari situ bisa jalan 5 menit untuk sampai ke kantor. Kemarin ngobrol-ngobrol dengan anak-anak Fujitsu ternyata ada juga shutfle bus dari harbour front. Mungkin akan aku coba-coba nanti. Dengan metode transportasi seperti sekarang aku bisa sampai kantor dalam waktu 5 menitan. Not bad lah apalagi jika dibandingkan saat kerja di Jakarta dulu yang bisa menghabiskan waktu hingga 3 jam setengah di jalan.
Bunda maafkan ayah tadi pagi ya. Tadi pagi ngantuk dan capek banget. Jika ada kata-kata atau nada ayah yang membuat bunda tersinggung ayah minta maaf. Ayah benerab ngantuk tadi pagi. Untuk masalah tiket Surabaya nanti sama-sama kita cari lagi ya di waktu yang lebih tepat. Kalau ayah bisa dapat beasiswa ayah akan resign per akhir agustus. Sehingga kita bisa cukup waktu berkualitasi bersama untuk mengunjungi tempat-tempat menarik. Ayah ga sabar ketemu bunda agustus ini.
Setelah aku jemput bunda di changi agustus ini, bunda juga jemput ayah di Frankfurt ya bulan september.
PS: I love you
Pagi ini indah seperti biasanya. Meski matahari belum terlalu terik aku sudah keluar apartemen. Dulu saat masih di keane saat keluar apartemen matahari sudah cukup panas. Biasanya aku keluar rumah dengan berkaca mata hitam saat berangkat kerja. Sejak masuk Fujitsu kemarin aku berangkat lebih pagi. Masih tahap adaptasi dan ingin selalu improve dalam pekerjaan dari waktu ke waktu.
Suasana berangkat ke Fujitsu berbeda dengan saat ke Keane. Ke technopark lebih enak naik bus. Cukup naik satu kali duduk dan sampai. Namun ke Science Park 2 (tempat Fujitsu berada) lebih enak menggunakan MRT. Naik purple line sampai mentok di harbour front lalu pindah ke circle line turun di Haw Par Villa. Dari situ bisa jalan 5 menit untuk sampai ke kantor. Kemarin ngobrol-ngobrol dengan anak-anak Fujitsu ternyata ada juga shutfle bus dari harbour front. Mungkin akan aku coba-coba nanti. Dengan metode transportasi seperti sekarang aku bisa sampai kantor dalam waktu 5 menitan. Not bad lah apalagi jika dibandingkan saat kerja di Jakarta dulu yang bisa menghabiskan waktu hingga 3 jam setengah di jalan.
Bunda maafkan ayah tadi pagi ya. Tadi pagi ngantuk dan capek banget. Jika ada kata-kata atau nada ayah yang membuat bunda tersinggung ayah minta maaf. Ayah benerab ngantuk tadi pagi. Untuk masalah tiket Surabaya nanti sama-sama kita cari lagi ya di waktu yang lebih tepat. Kalau ayah bisa dapat beasiswa ayah akan resign per akhir agustus. Sehingga kita bisa cukup waktu berkualitasi bersama untuk mengunjungi tempat-tempat menarik. Ayah ga sabar ketemu bunda agustus ini.
Setelah aku jemput bunda di changi agustus ini, bunda juga jemput ayah di Frankfurt ya bulan september.
PS: I love you
Tuesday, June 5, 2012
Dear wifey - Orisinalitas Ide
Dear Bunda,
Bunda sayang hari ini kita akan melanjutkan pembahasan kemarin mengenai konversi ide menjadi action. Hari ini kita akan lanjut ke topik ada kalanya kita tidak mau mengkonvert ide menjadi action oleh karena hal-hal tertentu. Misalnya yang paling utama, kita merasa ide kita sudah diimplementasikan orang lain.
Salah satu pengalaman nyata dari contoh kasus tadi adalah saat sekitar tahun 2006 aku pernah ikut lomba Indonesa Mobile-Comm Creativity Contest di ITS. Pada waktu dengan modal iseng kirim proposal aku bisa tembus menjadi finalis. Ide konsep yang aku buat adalah membuat SMS gateway jadwal shalat. Orang cukup mengirimkan query tertentu semisal Shalat spasi Bogor untuk mendapat jadwal shalat pada hari tertentu ke sistem yang aku buat. Nanti setelah sistem menerima query itu sistem akan merespon jadwal shalat lima waktu kembali ke nomor pengguna. Saking semangatnya dari pengetahuan Java nol aku bisa menyelesaikan sistem tersebut dalam waktu satu bulan saja dengan disambi kegiatan utama perkuliahan dan agak kurang tidur. Pada waktu menjelang deadline di mana aku sudah siap-siap berangkat ke Surabaya, tiba-tiba dosen yang aku daulat menjadi dosen pembimbing aku memanggil. Dia menunjukan sebuah box iklan kecil di majalah sabili. Iklan tersebut adalah nomor sms 4 digit servis sms jadwal layanan shalat. Tentu saja aku shock. Sebab aku yang sebelumnya merasa ide yang hendak aku buat adalah orisinil teryata sudah ada yang bikin. Pada waktu itu saking betenya aku sampai sedikit berpikir untuk mengundurkan diri dari lomba saja. Untung saja hal tersebut tidak terjadi, aku tetap cuek bebek menyelesaikan semuanya. Berangkat ke Surabaya dan presentasi. Meski pada akhirnya tidak menang juga sih.
Lesson learned dari kejadian itu adalah di dunia ini tidak ada sesuatu yang original. Semuanya itu adalah hasil kombinasi dan modifikasi. Demikian juga dalam hal implementasi ide. Baik di dunia bisnis atau di mana pun. Hal yang perlu kita lakukan adalah diferensiasi.
Dari buku get rich click yang aku baca kemarin ada bagian yang menekankan begitu banyak orang yang mampet tidak mau mengimplementasikan ide yang ia punya (dalam hal ini adalah ide bisnis) karena ia sadar ternyata idenya sudah ada yang mengimplentasikan. Misalnya ingin buat social networking site baru namun sudah terlalu banyak social networking site di internet. Ada facebook, ada google+. Mau buat game android yang booming namun demikian juga sudah banyak game yang bagus di android.
Jawaban menarik diberikan oleh penulis dalam mengkonter attack pemikiran tersebut. Jika seandainya setiap orang berhenti mengimplemnetasikan ide hanya karena merasa idenya sudah ada yang membuat maka dunia akan menjadi tempat yang sangat membosankan. Cuma akan ada satu merk mobil. Cuma akan ada satu merk sepatu. Cuma akan ada satu brand asuransi. Dan sebagainya. Jangan pernah berhenti dalam mengimplementasikan ide. Cari keunikan dari ide kita dan bersaing dalam kompetisi yang sehat dengan ide orang lain yang serupa dengan kita.
Semoga email hari ini tidak membosankan dan semoga bunda bisa dapat poinnya.
Jemput aku di Frankfurt pada September ini. Aku ingin kita sama-sama bisa terus saling belajar.
PS: I love you
Bunda sayang hari ini kita akan melanjutkan pembahasan kemarin mengenai konversi ide menjadi action. Hari ini kita akan lanjut ke topik ada kalanya kita tidak mau mengkonvert ide menjadi action oleh karena hal-hal tertentu. Misalnya yang paling utama, kita merasa ide kita sudah diimplementasikan orang lain.
Salah satu pengalaman nyata dari contoh kasus tadi adalah saat sekitar tahun 2006 aku pernah ikut lomba Indonesa Mobile-Comm Creativity Contest di ITS. Pada waktu dengan modal iseng kirim proposal aku bisa tembus menjadi finalis. Ide konsep yang aku buat adalah membuat SMS gateway jadwal shalat. Orang cukup mengirimkan query tertentu semisal Shalat spasi Bogor untuk mendapat jadwal shalat pada hari tertentu ke sistem yang aku buat. Nanti setelah sistem menerima query itu sistem akan merespon jadwal shalat lima waktu kembali ke nomor pengguna. Saking semangatnya dari pengetahuan Java nol aku bisa menyelesaikan sistem tersebut dalam waktu satu bulan saja dengan disambi kegiatan utama perkuliahan dan agak kurang tidur. Pada waktu menjelang deadline di mana aku sudah siap-siap berangkat ke Surabaya, tiba-tiba dosen yang aku daulat menjadi dosen pembimbing aku memanggil. Dia menunjukan sebuah box iklan kecil di majalah sabili. Iklan tersebut adalah nomor sms 4 digit servis sms jadwal layanan shalat. Tentu saja aku shock. Sebab aku yang sebelumnya merasa ide yang hendak aku buat adalah orisinil teryata sudah ada yang bikin. Pada waktu itu saking betenya aku sampai sedikit berpikir untuk mengundurkan diri dari lomba saja. Untung saja hal tersebut tidak terjadi, aku tetap cuek bebek menyelesaikan semuanya. Berangkat ke Surabaya dan presentasi. Meski pada akhirnya tidak menang juga sih.
Lesson learned dari kejadian itu adalah di dunia ini tidak ada sesuatu yang original. Semuanya itu adalah hasil kombinasi dan modifikasi. Demikian juga dalam hal implementasi ide. Baik di dunia bisnis atau di mana pun. Hal yang perlu kita lakukan adalah diferensiasi.
Dari buku get rich click yang aku baca kemarin ada bagian yang menekankan begitu banyak orang yang mampet tidak mau mengimplementasikan ide yang ia punya (dalam hal ini adalah ide bisnis) karena ia sadar ternyata idenya sudah ada yang mengimplentasikan. Misalnya ingin buat social networking site baru namun sudah terlalu banyak social networking site di internet. Ada facebook, ada google+. Mau buat game android yang booming namun demikian juga sudah banyak game yang bagus di android.
Jawaban menarik diberikan oleh penulis dalam mengkonter attack pemikiran tersebut. Jika seandainya setiap orang berhenti mengimplemnetasikan ide hanya karena merasa idenya sudah ada yang membuat maka dunia akan menjadi tempat yang sangat membosankan. Cuma akan ada satu merk mobil. Cuma akan ada satu merk sepatu. Cuma akan ada satu brand asuransi. Dan sebagainya. Jangan pernah berhenti dalam mengimplementasikan ide. Cari keunikan dari ide kita dan bersaing dalam kompetisi yang sehat dengan ide orang lain yang serupa dengan kita.
Semoga email hari ini tidak membosankan dan semoga bunda bisa dapat poinnya.
Jemput aku di Frankfurt pada September ini. Aku ingin kita sama-sama bisa terus saling belajar.
PS: I love you
Monday, June 4, 2012
Dear wifey - Action Oriented
Dear Bunda,
Hari ini bangun jam 10. Padahal tadi pagi aku tidak terlalu mengantuk. Padahal aku juga sudah set alarm jam 9. Semoga besok saat mulai kerja tidak bangun kesiangan :p.
Aku ingin sharing lagi satu konsep menarik yang aku share dari buku. Ada satu hal penting yang membedakan antara orang yang sukses dengan yang biasa saja. Orang sukses adalah orang yang mampu mengkorvesi ide menjadi aksi dengan segera. Misalnya, setiap orang pasti mau sukses. Setiap orang pasti punya mimpi. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengkonversi mimpinya menjadi aksi nyata pada dalam hari pertama sejak mimpi tersebut keluar. Sementara kebanyakan orang hanya berhenti pada taraf berkhayal dan berharap terjadi (seperti kata haji Rhoma Irama) hujan duit.
Aku pun harus sadar dan mengaku bahwa aku masih dalam taraf lebih sering berkhayal dari pada action. Misalnya ingin menulis buku dan ingin belajar dagang (yang baru aku oceh-ocehkan kemarin). Tapi sedikit-sedikit sudah mulai sadar diri untuk bisa memberondong kebiasaan tersebut menjadi lebih action oriented. Tanpa action berapa banyak pun ide yang muncul ilmu konsep yang kita pelajari dari membaca buku akan sia-sia. Ilmu tanpa amal is nothing.
Untuk bisa mengkonversi ide menjadi action tentunya tidak mudah. Harus dibiasakan dan istiqamah. Pembiasaan akan merubah kita dalam melakukan sesuatu itu menjadi automated. Bayangkan menyetir mobil. Saat masih belajar kita masih harus mencurahkan pikiran dalam melakukan setiap action. Masih mikir saat mengatur kopling, saat memindah persneling. Bahkan kadang-kadang masih harus melihat ke bawah takut salah injak pedal rem, throtle atau kopling. Saat sudah biasa, kita akan melakukan hal-hal tadi hampir tanpa berpikir. Tentu saja hal ini akan sangat bermanfaat untuk diterapkan pada hal-hal positif. Misalnya menjadi action oriented tadi. Pada tahap-tahap awal kita akan mikir saat hendak menjadi action oriented. Dengan pembiasaan kita akan menjadi automated. Tanpa harus mikir kita akan terbiasa untuk mengkonversi setiap ide menjadi action tanpa harus kebanyakan berkhayal.
Hal penting untuk menjadi action oriented (dan hal-hal positif lain) adalah istiqamah. Konsistensi dan kesinamnungan adalah hal yang penting. Bayangkan sales suatu perusahaan yang hanya bagus di awal saja. Namun menurun ke belakang-belakang. Dapat dipastikan perusahaan akan cepat gulung tikar. Demikian juga dalam menjadi action oriented. Harus bisa istiqamah dari awal hingga akhir. Namanya manusia memang by nature akan mudah bosan. Semangat di awal namun akan menurun di belakang. Inilah pentingnya interaksi kita sebagai mahkluk sosial dengan orang-orang terdekat. Misalnya antara suami istri seperti kita sekarang. Adalah tugas penting bagi kita masing-masing untuk selalu mendorong dan menyemangati agar masing-masing kita selalu isqtiqamah dalam melakukan setiap hal yang baik.
Proses konversi ide menjadi action pun akan menemui banyak tantangan. Insya Allah akan kita bahas besok ya. :p
Tunggu aku di Franfurt beberapa minggu lagi. Semoga kita bisa terus saling belajar ya.
PS: I love you
Hari ini bangun jam 10. Padahal tadi pagi aku tidak terlalu mengantuk. Padahal aku juga sudah set alarm jam 9. Semoga besok saat mulai kerja tidak bangun kesiangan :p.
Aku ingin sharing lagi satu konsep menarik yang aku share dari buku. Ada satu hal penting yang membedakan antara orang yang sukses dengan yang biasa saja. Orang sukses adalah orang yang mampu mengkorvesi ide menjadi aksi dengan segera. Misalnya, setiap orang pasti mau sukses. Setiap orang pasti punya mimpi. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengkonversi mimpinya menjadi aksi nyata pada dalam hari pertama sejak mimpi tersebut keluar. Sementara kebanyakan orang hanya berhenti pada taraf berkhayal dan berharap terjadi (seperti kata haji Rhoma Irama) hujan duit.
Aku pun harus sadar dan mengaku bahwa aku masih dalam taraf lebih sering berkhayal dari pada action. Misalnya ingin menulis buku dan ingin belajar dagang (yang baru aku oceh-ocehkan kemarin). Tapi sedikit-sedikit sudah mulai sadar diri untuk bisa memberondong kebiasaan tersebut menjadi lebih action oriented. Tanpa action berapa banyak pun ide yang muncul ilmu konsep yang kita pelajari dari membaca buku akan sia-sia. Ilmu tanpa amal is nothing.
Untuk bisa mengkonversi ide menjadi action tentunya tidak mudah. Harus dibiasakan dan istiqamah. Pembiasaan akan merubah kita dalam melakukan sesuatu itu menjadi automated. Bayangkan menyetir mobil. Saat masih belajar kita masih harus mencurahkan pikiran dalam melakukan setiap action. Masih mikir saat mengatur kopling, saat memindah persneling. Bahkan kadang-kadang masih harus melihat ke bawah takut salah injak pedal rem, throtle atau kopling. Saat sudah biasa, kita akan melakukan hal-hal tadi hampir tanpa berpikir. Tentu saja hal ini akan sangat bermanfaat untuk diterapkan pada hal-hal positif. Misalnya menjadi action oriented tadi. Pada tahap-tahap awal kita akan mikir saat hendak menjadi action oriented. Dengan pembiasaan kita akan menjadi automated. Tanpa harus mikir kita akan terbiasa untuk mengkonversi setiap ide menjadi action tanpa harus kebanyakan berkhayal.
Hal penting untuk menjadi action oriented (dan hal-hal positif lain) adalah istiqamah. Konsistensi dan kesinamnungan adalah hal yang penting. Bayangkan sales suatu perusahaan yang hanya bagus di awal saja. Namun menurun ke belakang-belakang. Dapat dipastikan perusahaan akan cepat gulung tikar. Demikian juga dalam menjadi action oriented. Harus bisa istiqamah dari awal hingga akhir. Namanya manusia memang by nature akan mudah bosan. Semangat di awal namun akan menurun di belakang. Inilah pentingnya interaksi kita sebagai mahkluk sosial dengan orang-orang terdekat. Misalnya antara suami istri seperti kita sekarang. Adalah tugas penting bagi kita masing-masing untuk selalu mendorong dan menyemangati agar masing-masing kita selalu isqtiqamah dalam melakukan setiap hal yang baik.
Proses konversi ide menjadi action pun akan menemui banyak tantangan. Insya Allah akan kita bahas besok ya. :p
Tunggu aku di Franfurt beberapa minggu lagi. Semoga kita bisa terus saling belajar ya.
PS: I love you
Sunday, June 3, 2012
Dear wifey - A tale of of job hunter
Dear Bunda,
Minggu pertama kerja lagi. Horeee. Supposed to be (-_-").
Sekitar 4 tahun lalu adalah hari pertama aku kerja. Dulu setelah lulus kuliah seperti kebanyakan orang aku bingung mau jadi apa. Lulusan jurusan kependidikan seharusnya menjadi guru. Namun aku tak ada minat mengajar di sekolah pada waktu itu. Aku ingin melihat dunia. Meski bukan alasan utama, sepertinya menjadi guru di sekolah meski sangat mulia namun tidak membuka kesempatan untuk melihat dunia.
Seperti kebanyakan orang juga, setelah lulus kuliah aku rajin beli kompas hari sabtu dan minggu. Aku mencari posisi pekerjaan yang berkaitan teknik elektro atau posisi management trainee. Sebab biasanya management trainee tidak memandang latar belakang jurusan. Apalagi ke depannya management trainee dipersiapkan untuk mengisi posisi management di perusahaan. That's gonna be cool kataku pada waktu itu. Akhirnya kebanyakan lamaran malah aku kirim untuk posisi itu. Lamaran pun berupa hardcopy. Dikirim lewat pos dengan amplop dan prangko. Terbayangkan betapa rempongnya.
Dari sekian belas lamaran yang aku kirim, aku dapat beberapa panggilan wawancara. Aku lupa pernah wawancara di mana saja. Tapi salah satu yang pernah aku ingat yang kemudian membuat aku ingin ngakak jika mengingatnya adalah, aku dipanggil wawancara untuk posisi management trainee di salah satu perusahaan di kuningan. Nama companynya masih aku ingat jelas hingga detik ini. Valbury Asia Futures. Saat aku datang, tak ada wawancara sama sekali. Aku langsung di suruh duduk dengan sekitar 9 orang lain dalam sebuah ruangan. Seorang pria masuk berkenalan dan mulai mengajar, forex, saham dan trading. Trainingnya berlangsung selama 3 hari. Dalam pembukaan dikatakan setelah 3 hari hanya kandidat terpilih yang akan diterima. Aku duduk manis dalam ruangan itu dengan penuh semangat meski dari hari ke hari jumlah orang di ruangan itu makin berkurang, menjadi 5 orang dan akhirnya cuma 3 orang di hari ketiga. Ternyata belakangan aku baru tahu tak ada masalah management trainee di sana. Kami ditraining untuk menjadi broker forex. Setelah ditraining beberapa hari aku ditelponin tiap hari dan dibujuk untuk datang ke kantor karena sudah menjadi kandidat terpilih. Aku pun dengan sopan menolak sambil geli ketika sudah merasa menjadi kandidat terpilih.
Setelah proses seleksi itu, aku sempat ikut seleksi lain di Mitrais. Kali ini secara kebetulan aku melamar posisi Software Developer. Seleksinya ada 3 tahap. Tes tulis yang panjaang banget. Tes teknikal wawancara. Terakhir tes kesehatan. Berhubung skripsi aku dalam Java, aku hampir tak punya kesulitan untuk menembus semua tahapan tes tersebut. Justru pada akhirnya aku mendapat job offer (itu adalah job offer pertama dalam hidupku), aku menjadi gamang. Soalnya posisi kerjanya di Bali. Karena ragu dan tak bulat hati aku putuskan tak ambil tawaran tersebut.
Setelah proses seleksi di Mitrais akhirnya aku sedikit menemukan jati diri. Aku memutuskan untuk menjalani karir sebagai software developer dan melupakan masalah management trainee. Dari sini pula aku mulai kenal dengan yang namanya online job portal. Bubye amplop dan prangko. Setelah Mitrais aku menghadiri 2 wawancara yang aku lamar dari jobsdb. Dilema setiap fresh graduate adalah, untuk melamar kerja kita membutuhkan pengalaman. Untuk mendapat pengalaman kita harus bekerja dulu.
Dari dua wawancara yang aku hadiri aku dapat offer di dua tempat tersebut. Akhirnya aku ambil yang lokasinya paling dekat. PT Sistema Indonesia, di kebayoran baru.
Pagi ini aku masih gamang masalah status pekerjaan. Beberapa tahun setelah hari ketika masuk Sistema. Aku ingin terus belajar keras sehingga kelak terutama setelah kita punya anak, sebagai suami aku bisa punya karir lebih stabil.
Tunggu aku di Frankfurt beberapa minggu lagi (sambil mental rehearsal tingkat tinggi). Aku merindukan pelukan asli dan kecupan asli dari bunda.
PS: I love you
Minggu pertama kerja lagi. Horeee. Supposed to be (-_-").
Sekitar 4 tahun lalu adalah hari pertama aku kerja. Dulu setelah lulus kuliah seperti kebanyakan orang aku bingung mau jadi apa. Lulusan jurusan kependidikan seharusnya menjadi guru. Namun aku tak ada minat mengajar di sekolah pada waktu itu. Aku ingin melihat dunia. Meski bukan alasan utama, sepertinya menjadi guru di sekolah meski sangat mulia namun tidak membuka kesempatan untuk melihat dunia.
Seperti kebanyakan orang juga, setelah lulus kuliah aku rajin beli kompas hari sabtu dan minggu. Aku mencari posisi pekerjaan yang berkaitan teknik elektro atau posisi management trainee. Sebab biasanya management trainee tidak memandang latar belakang jurusan. Apalagi ke depannya management trainee dipersiapkan untuk mengisi posisi management di perusahaan. That's gonna be cool kataku pada waktu itu. Akhirnya kebanyakan lamaran malah aku kirim untuk posisi itu. Lamaran pun berupa hardcopy. Dikirim lewat pos dengan amplop dan prangko. Terbayangkan betapa rempongnya.
Dari sekian belas lamaran yang aku kirim, aku dapat beberapa panggilan wawancara. Aku lupa pernah wawancara di mana saja. Tapi salah satu yang pernah aku ingat yang kemudian membuat aku ingin ngakak jika mengingatnya adalah, aku dipanggil wawancara untuk posisi management trainee di salah satu perusahaan di kuningan. Nama companynya masih aku ingat jelas hingga detik ini. Valbury Asia Futures. Saat aku datang, tak ada wawancara sama sekali. Aku langsung di suruh duduk dengan sekitar 9 orang lain dalam sebuah ruangan. Seorang pria masuk berkenalan dan mulai mengajar, forex, saham dan trading. Trainingnya berlangsung selama 3 hari. Dalam pembukaan dikatakan setelah 3 hari hanya kandidat terpilih yang akan diterima. Aku duduk manis dalam ruangan itu dengan penuh semangat meski dari hari ke hari jumlah orang di ruangan itu makin berkurang, menjadi 5 orang dan akhirnya cuma 3 orang di hari ketiga. Ternyata belakangan aku baru tahu tak ada masalah management trainee di sana. Kami ditraining untuk menjadi broker forex. Setelah ditraining beberapa hari aku ditelponin tiap hari dan dibujuk untuk datang ke kantor karena sudah menjadi kandidat terpilih. Aku pun dengan sopan menolak sambil geli ketika sudah merasa menjadi kandidat terpilih.
Setelah proses seleksi itu, aku sempat ikut seleksi lain di Mitrais. Kali ini secara kebetulan aku melamar posisi Software Developer. Seleksinya ada 3 tahap. Tes tulis yang panjaang banget. Tes teknikal wawancara. Terakhir tes kesehatan. Berhubung skripsi aku dalam Java, aku hampir tak punya kesulitan untuk menembus semua tahapan tes tersebut. Justru pada akhirnya aku mendapat job offer (itu adalah job offer pertama dalam hidupku), aku menjadi gamang. Soalnya posisi kerjanya di Bali. Karena ragu dan tak bulat hati aku putuskan tak ambil tawaran tersebut.
Setelah proses seleksi di Mitrais akhirnya aku sedikit menemukan jati diri. Aku memutuskan untuk menjalani karir sebagai software developer dan melupakan masalah management trainee. Dari sini pula aku mulai kenal dengan yang namanya online job portal. Bubye amplop dan prangko. Setelah Mitrais aku menghadiri 2 wawancara yang aku lamar dari jobsdb. Dilema setiap fresh graduate adalah, untuk melamar kerja kita membutuhkan pengalaman. Untuk mendapat pengalaman kita harus bekerja dulu.
Dari dua wawancara yang aku hadiri aku dapat offer di dua tempat tersebut. Akhirnya aku ambil yang lokasinya paling dekat. PT Sistema Indonesia, di kebayoran baru.
Pagi ini aku masih gamang masalah status pekerjaan. Beberapa tahun setelah hari ketika masuk Sistema. Aku ingin terus belajar keras sehingga kelak terutama setelah kita punya anak, sebagai suami aku bisa punya karir lebih stabil.
Tunggu aku di Frankfurt beberapa minggu lagi (sambil mental rehearsal tingkat tinggi). Aku merindukan pelukan asli dan kecupan asli dari bunda.
PS: I love you
Saturday, June 2, 2012
Dear wifey - Mental Rehearsal
Dear Bunda,
Untuk kesekiankalinya pagi ini hubby teler lagi. Namun agak lebih baik dibandingkan kemarin yang tidur sampai jam 2 siang. :p.
Bunda, ayah mau minta maaf ya jika membuat bunda sebal pagi ini. Namun ayah selalu berusaha untuk bisa terus membahagiakan bunda dan tidak membuat sebal. Maafkan ayah jika upaya ayah masih belum berhasil. Namun ayah tak akan pernah berhenti berusaha. Ayah ingin menjadikan bunda wanita paling berbahagia. :)
Hari ini ayah ingin share suatu konsep yang baru saja ayah baca. Aku sebenarnya sudah tahu konsep ini sejak lama. Namun baru teringat lagi setelah membaca kemarin. Nama konsep tersebut adalah mental reheasal. Jika bunda pernah nonton Sherlock Holmes entah yang pertama atau kedua, ada suatu momen ketika Sherlock bisa membayangkan apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan. Salah satu scenenya adalah saat ia hendak bertinju dengan satu orang. Sebelum pertandingan dimulai Sherlock memejamkan mata, lalu ia membayangkan dengan visualisasi yang sangat nyata dan detail, apa yang hendak terjadi. Ia bahkan spesfik membayangkan akan menyerang ke arah mana, memukul tangan mana dan mengelak dari pukulan yang mana. Itulah kira-kira yang namanya mental rehearsal. Setelah memejamkan mata dan pertandingan dimulai, semua hal terjadi persis seperti yang Sherlock bayangkan. Kurang dari 3 menit lawannya pun tumbang.
Dalam dunia nyata, mental rehearsal pun dilakukan misalnya oleh Muhammad Ali. Sebelum bertarung Ali melakukan hal yang serupa dengan Sherlock dalam film. Ali menamakan konsepnya dengan Future History. Dalam kebanyakan pertandingan Ali bisa menang persis sesuai Future History yang ada di benaknya. Pernah suatu masa ketika Ali kalah, wartawan pun mencibir konsep Future Historynya yang ternyata bisa gagal. Dengan tenang Ali menanggapi cibiran wartawan tersebut dengan berkata bahwa, Future History dari lawan tandingnya lebih kuat dari Future Historynya.
Masalah Mental Rehearsal ini juga ternyata sangat sejalan dengan konsep The Law of Attraction milik Rhonda Bryne dari buku the secret. Law of Attraction mengatakan, semesta akan mengikuti apa yang kita pikirkan dan yakini. Dengan melakukan mental rehearsal positif maka kita sedang menarik alam semesta untuk mencapai apa yang kita inginkan. Misalnya saat kita hendak presentasi makalah. Kita bisa takut dan ragu tampil maksimal yang pada akhirnya membuat bawah sadar kita meyakini hal tersebut. Atau justru kita bisa melakukan pendekatan sebaliknya, kita melakukan mental rehearsal kita akan presentasi dengan baik dan tenang. Kita membayangkan dengan sangat detail dan nyata. Pada akhirnya saat presentasi mental rehearsal kita benar-benar terwujud dengan sangat persis. Seakan-akan alam semesta benar-benar mendukung kita seperti kata Law of Attraction. Terkesan magis, namun ternyata ada logika yang sangat masuk akal di baliknya.
Logika tersebut adalah power of belief.
Belief --> Thoughts --> State --> Behaviour --> Consequences -|
^----------------------------------------------------------------------------------------
Gambar di atas itu adalah belief cycle. Belief akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap behaviour kita. Oleh karena itu selalulah berusaha mempunyai belief yang positif.
Misalnya kembali ke study case presentasi tadi. Berikut skenario pertama:
Belief: Aku tak bisa presentasi dengan baik Thoughts: Aku pasti grogi State: Beneran grogi, ngomong gemetar Behaviour: Presentasi dengan tidak baik, tidak melakukan eye contact, nafas naik turun Consequences: Audience pun melihat kita beneran grogi sehingga mungkin melihat kita dengan kasihan dan tak enak. Bahkan beberapa audience mulai sibuk main hp karena merasa presentasinya tak menarik. Pada akhirnya cycle ini berulang dan semakin memperkuat belief negatif di awal tadi.
Sekarang kita lihat skenario kedua: Belief: Aku akan mencoba presentasi dengan sebaik mungkin apalagi aku sudah melakukan mental rehearsal positif Thoughts: Aku mungkin grogi di awal tapi itu akan hilang setelah aku mulai bicara State: Benar agak grogi tapi ternyata grogi tersebut hilang setelah mulai bicara Behaviour: Presentasi pun lancar. Eyecontact maksimal dengan udience Consequences: Audeince merasanya nyaman dan menikmati presentasi kita. Cycle pun berulang ke belief semakin menguatkan belief positif kita di awal.
Hal ini ternyata bisa diterapkan di banyak hal yang tak mesti sesimpel presentasi. Misalnya dalam kehidupan pernikahan dan mengejar cita-cita. Contohnya adalah Steven Spielberg. Dulu sebelum terkenal Steven Spielberg pernah nyelonong ke dalam studio dan memasang papan namanya di ruangan dalam studio itu as if ia adalah seorang sutradara. Namun ternyata hal yang ia lakukan adalah memasang belief bahwa kelak ia bisa menjadi sutradara terkenal yang mana pada akhirnya benar-benar terwujud. Jika sedikit menyinggung masalah agama, jika tak salah ada hadist atau firman Allah yang menyatakan, Allah itu mengikuti sangkaan hamba-hambanya.
Beberapa hari ini aku sering melakukan mental rehearsal landing di Frankfurt, keluar dari imigrasi dan memeluk bunda yang sudah menunggu di sana dengan erat. Bahkan sebenarnya sejak awal aku menulis email 2 bulan lalu aku selalu berusaha melakukan mental rehearsal dengan menggunakan closing "tunggu aku di Ilmenau beberapa bulan dari sekarang". Selain itu aku juga melakukan mental rehearsal naik haji setelah kuliah bersama bunda. Aku juga melakukan mental rehearsal punya rumah mungil yang nyaman di awal pernikahan kita. Lalu membesarkan anak-anak kita di sana. Aku juga selalu melakukan mental rehearsal punya rumah tangga yang selalu penuh cinta dan rukun abadi selamanya.
Maaf ya sayang jika topik email hari ini agak membosankan. Tunggu aku di Frankfurt sebentar lagi. Jemput aku di sana dan aku ingin meminta pelukan terhangat dari bunda.
Untuk kesekiankalinya pagi ini hubby teler lagi. Namun agak lebih baik dibandingkan kemarin yang tidur sampai jam 2 siang. :p.
Bunda, ayah mau minta maaf ya jika membuat bunda sebal pagi ini. Namun ayah selalu berusaha untuk bisa terus membahagiakan bunda dan tidak membuat sebal. Maafkan ayah jika upaya ayah masih belum berhasil. Namun ayah tak akan pernah berhenti berusaha. Ayah ingin menjadikan bunda wanita paling berbahagia. :)
Hari ini ayah ingin share suatu konsep yang baru saja ayah baca. Aku sebenarnya sudah tahu konsep ini sejak lama. Namun baru teringat lagi setelah membaca kemarin. Nama konsep tersebut adalah mental reheasal. Jika bunda pernah nonton Sherlock Holmes entah yang pertama atau kedua, ada suatu momen ketika Sherlock bisa membayangkan apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan. Salah satu scenenya adalah saat ia hendak bertinju dengan satu orang. Sebelum pertandingan dimulai Sherlock memejamkan mata, lalu ia membayangkan dengan visualisasi yang sangat nyata dan detail, apa yang hendak terjadi. Ia bahkan spesfik membayangkan akan menyerang ke arah mana, memukul tangan mana dan mengelak dari pukulan yang mana. Itulah kira-kira yang namanya mental rehearsal. Setelah memejamkan mata dan pertandingan dimulai, semua hal terjadi persis seperti yang Sherlock bayangkan. Kurang dari 3 menit lawannya pun tumbang.
Dalam dunia nyata, mental rehearsal pun dilakukan misalnya oleh Muhammad Ali. Sebelum bertarung Ali melakukan hal yang serupa dengan Sherlock dalam film. Ali menamakan konsepnya dengan Future History. Dalam kebanyakan pertandingan Ali bisa menang persis sesuai Future History yang ada di benaknya. Pernah suatu masa ketika Ali kalah, wartawan pun mencibir konsep Future Historynya yang ternyata bisa gagal. Dengan tenang Ali menanggapi cibiran wartawan tersebut dengan berkata bahwa, Future History dari lawan tandingnya lebih kuat dari Future Historynya.
Masalah Mental Rehearsal ini juga ternyata sangat sejalan dengan konsep The Law of Attraction milik Rhonda Bryne dari buku the secret. Law of Attraction mengatakan, semesta akan mengikuti apa yang kita pikirkan dan yakini. Dengan melakukan mental rehearsal positif maka kita sedang menarik alam semesta untuk mencapai apa yang kita inginkan. Misalnya saat kita hendak presentasi makalah. Kita bisa takut dan ragu tampil maksimal yang pada akhirnya membuat bawah sadar kita meyakini hal tersebut. Atau justru kita bisa melakukan pendekatan sebaliknya, kita melakukan mental rehearsal kita akan presentasi dengan baik dan tenang. Kita membayangkan dengan sangat detail dan nyata. Pada akhirnya saat presentasi mental rehearsal kita benar-benar terwujud dengan sangat persis. Seakan-akan alam semesta benar-benar mendukung kita seperti kata Law of Attraction. Terkesan magis, namun ternyata ada logika yang sangat masuk akal di baliknya.
Logika tersebut adalah power of belief.
Belief --> Thoughts --> State --> Behaviour --> Consequences -|
^----------------------------------------------------------------------------------------
Gambar di atas itu adalah belief cycle. Belief akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap behaviour kita. Oleh karena itu selalulah berusaha mempunyai belief yang positif.
Misalnya kembali ke study case presentasi tadi. Berikut skenario pertama:
Belief: Aku tak bisa presentasi dengan baik Thoughts: Aku pasti grogi State: Beneran grogi, ngomong gemetar Behaviour: Presentasi dengan tidak baik, tidak melakukan eye contact, nafas naik turun Consequences: Audience pun melihat kita beneran grogi sehingga mungkin melihat kita dengan kasihan dan tak enak. Bahkan beberapa audience mulai sibuk main hp karena merasa presentasinya tak menarik. Pada akhirnya cycle ini berulang dan semakin memperkuat belief negatif di awal tadi.
Sekarang kita lihat skenario kedua: Belief: Aku akan mencoba presentasi dengan sebaik mungkin apalagi aku sudah melakukan mental rehearsal positif Thoughts: Aku mungkin grogi di awal tapi itu akan hilang setelah aku mulai bicara State: Benar agak grogi tapi ternyata grogi tersebut hilang setelah mulai bicara Behaviour: Presentasi pun lancar. Eyecontact maksimal dengan udience Consequences: Audeince merasanya nyaman dan menikmati presentasi kita. Cycle pun berulang ke belief semakin menguatkan belief positif kita di awal.
Hal ini ternyata bisa diterapkan di banyak hal yang tak mesti sesimpel presentasi. Misalnya dalam kehidupan pernikahan dan mengejar cita-cita. Contohnya adalah Steven Spielberg. Dulu sebelum terkenal Steven Spielberg pernah nyelonong ke dalam studio dan memasang papan namanya di ruangan dalam studio itu as if ia adalah seorang sutradara. Namun ternyata hal yang ia lakukan adalah memasang belief bahwa kelak ia bisa menjadi sutradara terkenal yang mana pada akhirnya benar-benar terwujud. Jika sedikit menyinggung masalah agama, jika tak salah ada hadist atau firman Allah yang menyatakan, Allah itu mengikuti sangkaan hamba-hambanya.
Beberapa hari ini aku sering melakukan mental rehearsal landing di Frankfurt, keluar dari imigrasi dan memeluk bunda yang sudah menunggu di sana dengan erat. Bahkan sebenarnya sejak awal aku menulis email 2 bulan lalu aku selalu berusaha melakukan mental rehearsal dengan menggunakan closing "tunggu aku di Ilmenau beberapa bulan dari sekarang". Selain itu aku juga melakukan mental rehearsal naik haji setelah kuliah bersama bunda. Aku juga melakukan mental rehearsal punya rumah mungil yang nyaman di awal pernikahan kita. Lalu membesarkan anak-anak kita di sana. Aku juga selalu melakukan mental rehearsal punya rumah tangga yang selalu penuh cinta dan rukun abadi selamanya.
Maaf ya sayang jika topik email hari ini agak membosankan. Tunggu aku di Frankfurt sebentar lagi. Jemput aku di sana dan aku ingin meminta pelukan terhangat dari bunda.
Friday, June 1, 2012
Dear wifey - Adaptasi
Dear Bunda,
Tanpa bermaksud mencari-cari alasan, hari ini malas banget ngapa-ngapain. Ini mungkin rekor tidur terlama hubby dalam beberapa bulan terakhir. Tadi melek jam 8 terus tidur lagi. Melek jam 10 terus tidur lagi. Melek jam 12 terus tidur lagi. Dan akhirnya melek jam 2 kurang barusan. Mau tidur lagi tapi badan malah menjadi super duper ekstra lemas. Maafkan hubby emailnya telat hari ini ya sayang.
Manusia itu luar biasa. Manusia bisa selalu beradaptasi dengan sangat fleksibelnya. Saat masih di Jakarta aku pernah pulang pergi Jonggol Jakarta saat kerja naik motor. Senin sampai Jumat (terkadang juga Sabtu), hampir selama 18 bulan. Berangkat dari rumah jam 5 atau 6. Sampai kembali ke rumah jam 7, 8 atau terkadang jam 9 malam. Satu jalan akan memakan waktu 90 hingga 120 menit. Esoknya rutinitas berulang. Namun dulu aku kuat. Kehujanan, kepanasan dan cenderung sabar. Kemarin saat pulang wawancara kominfo, dalam perjalanan Jonggol dan Jakarta serta sebaliknya sudah ingin teriak-teriak di jalanan ga tahan menghadapi macet.
Proses adaptasi lain adalah tidur tanpa AC. Saat pulang ke Jonggol, aku tak bisa tidur dengan pulas di hari pertama. Rasanya panas sekali. Mungkin setelah 6 bulan di Singapura dan tidur pakai AC badan jadi beradaptasi dan manja. Demikian juga pagi ini. Setelah sekitar 2 minggu stop kerja, badan jadi beradaptasi dan manja. Sehingga dengan pemalasnya memberikan toleransi tidur hingga berjam-jam. Insya Allah aku tidak akan membiarkan diri beradaptasi untuk ini.
Melanjutkan pembahasan di atas. Akan menjadi hal yang sangat bermanfaat bila kemampuan beradaptasi manusia tadi digunakan untuk sesuatu yang positif. Contohnya, kebiasaan shalat malam. Insya Allah semoga Allah berkenan memberikan rahmat dan hidayah untuk terus menjalankan ibadah ini sepanjang masa. Nanti saat kita berkumpul aku ingin menjalankannya bersama bunda. Proses adaptasi lain misalnya adalah membiasakan diri untuk "memaksa" membaca buku setiap hari. Aku mulai melakukan itu lagi dalam beberapa terakhir. Sehingga jika dipaksakan untuk terbiasa, diri akan menjadi ada yang janggal bila dalam satu hari tidak membaca.
Watch your thoughts, for they become words. Watch your words, for they become actions. Watch your actions, for they become habits. Watch your habits, for they become character. Watch your character, for it becomes your destiny.
Sejenak berganti topik, aku benar-benar menikmati kebersamaan kita tadi pagi. Aku sangat senang melihat bunda sangat ceria dan bersemangat dalam bercerita dan berekspresi. Aku masih ingin tergelak saat bunda melakukan gestur naik motor sambil menyuarakan "brum brum" dengan membonceng ayah dan waspada agar jangan sampai berbelok ke arah ukhti saat di jalan. :p. Berkaitan juga dengan kebersamaan kita, di usia pernikahan 2 bulan ini kita masih beradaptasi dalam kebersamaan. Apalagi hubungan jarak jauh yang dengan terpaksa harus di jalani ini akan membuat sedikit anomali jika tidak disabari dan disikapi dengan baik. Hidup bersama tentunya beda dengan hidup saat masih single. Hidup menjadi suami dan pemimpin dalam rumah tangga tentunya akan membutuhkan pembelajaran yang ekstensif. Demikian juga hidup menjadi istri dengan suami yang nyeleneh (namun terus berusaha untuk belajar tidak nyeleneh) juga membutuhkan pembiasaan yang baik. Hidup jarak jauh menjadi anomali karena kita harus membiasakan diri dalam kebersamaan padahal faktanya secara fisik kita tidak bersama.
Tapi aku yakin kok ketidakbersamaan secara fisik ini akan segera usai. Sebab bunda akan pulang sebelum Ramadhan dan ayah akan berangkat bareng ke Jerman ba'da lebaran.
PS: I love you
Tanpa bermaksud mencari-cari alasan, hari ini malas banget ngapa-ngapain. Ini mungkin rekor tidur terlama hubby dalam beberapa bulan terakhir. Tadi melek jam 8 terus tidur lagi. Melek jam 10 terus tidur lagi. Melek jam 12 terus tidur lagi. Dan akhirnya melek jam 2 kurang barusan. Mau tidur lagi tapi badan malah menjadi super duper ekstra lemas. Maafkan hubby emailnya telat hari ini ya sayang.
Manusia itu luar biasa. Manusia bisa selalu beradaptasi dengan sangat fleksibelnya. Saat masih di Jakarta aku pernah pulang pergi Jonggol Jakarta saat kerja naik motor. Senin sampai Jumat (terkadang juga Sabtu), hampir selama 18 bulan. Berangkat dari rumah jam 5 atau 6. Sampai kembali ke rumah jam 7, 8 atau terkadang jam 9 malam. Satu jalan akan memakan waktu 90 hingga 120 menit. Esoknya rutinitas berulang. Namun dulu aku kuat. Kehujanan, kepanasan dan cenderung sabar. Kemarin saat pulang wawancara kominfo, dalam perjalanan Jonggol dan Jakarta serta sebaliknya sudah ingin teriak-teriak di jalanan ga tahan menghadapi macet.
Proses adaptasi lain adalah tidur tanpa AC. Saat pulang ke Jonggol, aku tak bisa tidur dengan pulas di hari pertama. Rasanya panas sekali. Mungkin setelah 6 bulan di Singapura dan tidur pakai AC badan jadi beradaptasi dan manja. Demikian juga pagi ini. Setelah sekitar 2 minggu stop kerja, badan jadi beradaptasi dan manja. Sehingga dengan pemalasnya memberikan toleransi tidur hingga berjam-jam. Insya Allah aku tidak akan membiarkan diri beradaptasi untuk ini.
Melanjutkan pembahasan di atas. Akan menjadi hal yang sangat bermanfaat bila kemampuan beradaptasi manusia tadi digunakan untuk sesuatu yang positif. Contohnya, kebiasaan shalat malam. Insya Allah semoga Allah berkenan memberikan rahmat dan hidayah untuk terus menjalankan ibadah ini sepanjang masa. Nanti saat kita berkumpul aku ingin menjalankannya bersama bunda. Proses adaptasi lain misalnya adalah membiasakan diri untuk "memaksa" membaca buku setiap hari. Aku mulai melakukan itu lagi dalam beberapa terakhir. Sehingga jika dipaksakan untuk terbiasa, diri akan menjadi ada yang janggal bila dalam satu hari tidak membaca.
Watch your thoughts, for they become words. Watch your words, for they become actions. Watch your actions, for they become habits. Watch your habits, for they become character. Watch your character, for it becomes your destiny.
Sejenak berganti topik, aku benar-benar menikmati kebersamaan kita tadi pagi. Aku sangat senang melihat bunda sangat ceria dan bersemangat dalam bercerita dan berekspresi. Aku masih ingin tergelak saat bunda melakukan gestur naik motor sambil menyuarakan "brum brum" dengan membonceng ayah dan waspada agar jangan sampai berbelok ke arah ukhti saat di jalan. :p. Berkaitan juga dengan kebersamaan kita, di usia pernikahan 2 bulan ini kita masih beradaptasi dalam kebersamaan. Apalagi hubungan jarak jauh yang dengan terpaksa harus di jalani ini akan membuat sedikit anomali jika tidak disabari dan disikapi dengan baik. Hidup bersama tentunya beda dengan hidup saat masih single. Hidup menjadi suami dan pemimpin dalam rumah tangga tentunya akan membutuhkan pembelajaran yang ekstensif. Demikian juga hidup menjadi istri dengan suami yang nyeleneh (namun terus berusaha untuk belajar tidak nyeleneh) juga membutuhkan pembiasaan yang baik. Hidup jarak jauh menjadi anomali karena kita harus membiasakan diri dalam kebersamaan padahal faktanya secara fisik kita tidak bersama.
Tapi aku yakin kok ketidakbersamaan secara fisik ini akan segera usai. Sebab bunda akan pulang sebelum Ramadhan dan ayah akan berangkat bareng ke Jerman ba'da lebaran.
PS: I love you
Subscribe to:
Posts (Atom)