Pages

Sunday, June 9, 2013

Dear wifey - Welcoming Ramadhan

Dear wifey,

Within one month we will meet again with Ramadhan. This gonna be our third Ramadhan. In 2011 was our first Ramadhan after we'd met. 2012 was our first Ramadhan as husband and wife. Furtunately event though not for whole month we spent last week of Ramadhan together then silaturahim along Hari Raya. In now time flies, we will meet Ramadhan again in very short time. Hopefully we'll have chance to celebrate Ramadhan until Hari Raya together.

Ramadhan always be a special moment. In this month every worship procession are granted more values by Allah. Sunah is considered value of Fardhu and Fardhu even multiplied 70 times. Let make a mission statement for this Ramadhan. Let we try to Qiyamul Lail every night before Sahur, then don't forget for Dhuha after children of Camels exposed to the sun, and why don't we try to Khatam Quran again?

Today's email will be just as short as this. Hubby still feels little bit not fit since sleepless last night. Let's gathered our happiness to welcome our holly month that will came. Let's prepare ourself as well to be ready for the whole month procession.

PS: I love you

Saturday, June 8, 2013

Dear wifey - Story of a Teacher

Dear Bunda,

Sekarang lanjut ke pulang kuliah. Pada masa-masa awal kuliah, biasanya jam kuliah sampai siang atau sore. Setelah jam kuliah habis biasanya menghabiskan waktu sejenak berkumpul dengan teman-teman. Dari sekedar duduk-duduk hingga mengerjakan tugas. Namun biasanya aku pulang sore. Pada kebanyakan kasus aku selalu pulang via UKI dan tak pernah lewat rambutan.

Mulai sekitar semester 3 aku mulai mengajar privat. Berhubung banyak senior yang mengajar privat dan UNJ terkenal sebagai kampusnya calon guru, banyak lembaga bimbel yang membuka lowongan. Aku mendaftar di Nurul Fikri. Seperti melamar pekerjaan pada umumnya aku harus menyiapkan CV dan mengirim surat lamaran. Akhirnya aku diundang wawancara.

Bimbel privat Nurul Fikri memiliki 2 pengurus. Satu orang bernama Pak Aziz. Dia admin divisi privat. Dia yang mengurus masalah perduitan setiap akhir bulan. Satu lagi aku lupa namanya. Si bapak ini juga adalah pengajar veteran di privat. Pada saat test dan wawancara pengajar baru dialah pewawancaranya.

Aku masih ingat hingga hari ini saat aku wawancara dia menggunakan kacamata hitam. Ternyata dia sedang sakit mata. Wawancara pun dimulai dari pertanyaan-pertanyaan standard. Salah satu pertanyaan yang lama aku menjawabnya adalah saat ditanya kelebihan dan kekuranganku. Aku tak tahu harus menjawab apa. Apalagi itu adalah wawancara kerja aku yang pertama. Bahkan sampai aku ditinggal ke WC untuk diberi waktu berpikir. Akhirnya aku jawab sebisaku. Kemudian dia pun memberikan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Bagian kedua adalah micro teaching yaitu simulasi mengajar. Dia berperan sebagai murid dan aku sebagai guru. Materi yang aku bawakan pada hari itu adalah Fisika. Aku lupa bab apa. Aku menjelaskan sambil menulis di whiteboard. Sesekali dia akan bertanya sebagai murid. Akhirnya selesailah test pada hari itu.

Selang beberapa hari kemudian jika tak salah aku ditelpon dan diterima sebagai guru privat. Aku disuruh menunggu untuk mendapatkan murid. Biasanya alokasi murid berdasarkan lokasi, waktu dan preferensi kita. Dari lembaga privat akan menawarkan, jika lokasi dan waktu cocok maka kita bisa mulai mengajar. Murid pertama aku adalah seorang anak SD kelas 3 atau 4. Kaget juga aku mendapat murid SD sebab aku lebih mengharapkan SMP atau SMA. Aku sempat benar-benar nervous menjelang mengajar pertama ini karena aku tak tahu harus bagaimana.

Nama murid pertamaku ini adalah Bangkit. Bapaknya nampaknya anggota legislatif, entah DPRD atau DPR. Rumahnya sangat besar, di ruang tamu banyak foto-foto si ayah dengan baju kuning kebangsaan golkar di mana-mana. Namun sayangnya dia nampaknya kurang bisa mendidik anak. Bangkit adalah anak yang sangat susah di ajar. Hampir tidak ada keinginannya untuk belajar. Namun aku coba bersabar beberapa bulan mengajar. Pernah satu waktu ketika jadwal les kita, tiba-tiba ibu dan saudara-saudaranya ingin berangkat ke mall. Seketika itu juga dia tak mau les dan ikut ke mall. Akhirnya aku cuma bisa pulang ke rumah. Aku lupa bagaimana perhitungannya aku pada waktu itu, apakah dibayar les atau tidak.

Sejak dimulai dari mengajar Bangkit, aku semakin agresif mengambil jadwal mengajar. Tujuannya adalah agar bisa mulai menabung. Namun aku tetap berusaha menempatkan kuliah di prioritas utama. Ada masanya ketika aku merasa sedih, selesai jam kuliah aku harus langsung ngacir ke rumah murid, sementara teman-teman yang lain masih bisa nongkrong bareng dan berkumpul bersama-sama. Saking agresifnya aku bahkan pernah sampai mengajar di hari sabtu. Di sabtu aku bisa mengambil 2 atau 3 tempat mengajar. Sementara senin sampai jumat pernah ada waktu ketika mengajar hampir setiap hari.

Salah satu momen berkesan juga yang aku ingat, aku pernah mengajar 2 sesi di daerah klender setelah maghrib. Aku baru selesai mengajar jam 9 lewat. Lewat jam 9 tak ada lagi angkutan umum yang lewat situ. Aku harus berjalan sekitar 2 atau 3 km untuk tiba ke tempat metro mini masih ada. Ketika dapat metro mini, perjalanan ke rumah hampir 3 jam di malam itu. Tiba-tiba hujan, banjir dan macet di mana-mana. Aku sampai rumah lewat dari jam 12.

Pada awal mengajar di Nurul Fikri, murid harus membayar 50.000 per sesi yaitu 90 menit. Dari 50.000 itu hanya 50percent yang masuk ke kantong pengajar. Sisanya harus disetor ke Nurul Fikri. Namun murid tetap membayar melalui aku. Setiap akhir bulan aku akan setor ke kantor Nurul Fikri berdasarkan absen les yang ditandatangani siswa. Hari gajian.

Dari semua murid yang pernah aku ajar, Dimas dan Dwiki lah yang paling berkesan dan lama diajar. Dua orang kakak beradik ini memang punya motivasi yang kuat untuk belajar. Lalu meski dari keluarga cukup kaya namun kedua anak ini tetap sederhana. Di akhir-akhir semester aku semakin mengurangi beban mengajar di Nurul Fikri karena beban kuliah pun semakin banyak. Alhamdulillahnya orang tua Dimas menawarkan untuk mengajar langsung tanpa melalui Nurul Fikri. Aku mengajar Dimas sejak kelas 1 SMP hingga ia lulus SMA. Gaji terakhir aku pada waktu itu adalah 100.000 per sesi. Aku masih mengajar hingga setahun lulus kuliah. Saat sudah kerja aku hanya mengajar hari Sabtu dan Minggu. Aku baru full berhenti mengajar ketika mulai kerja di NFS. Mungkin merasa sudah capek dan gaji pokoknya sudah lumayan cukup.

PS: I love you

Dear wifey - Bus sleeper

Dear Bunda,

Selama kuliah aku hanya pernah kost selama satu semester. Yaitu saat semester 7 tahun 2007. Itu pun karena pada semester itu aku praktik mengajar satu semester di SMK 26 Jakarta dari pagi jam 7 pagi hingga sore. Namun selain semester itu aku selalu komuter ke rumah.

Oh iya, ada masa ketika semester 3 atau 4 aku pernah tinggal di gedung ekstra kulikuler kampus. Semasa kuliah aku bergabung ekstra kulikuler Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM). Group diskusi mahasiswa gitu. Pada waktu itu aku memutuskan tinggal di sana sampai beberapa bulan kalau tak salah. Aku hanya pulang ke rumah beberapa kali sehari. Alasan tinggal di sana adalah, pertama untuk menghemat pengeluaran. Kedua untuk bisa menggunakan komputer LKM di malam hari untuk mengerjakan tugas kuliah.

Balik lagi ke masalah komuting. Saat semester-semester awal, banyak perkuliahan yang dimulai jam 8. Untuk bisa sampai jam segitu, aku harus berangkat dari rumah jam 5 pagi. Maka di pagi-pagi buta aku sudah keluar rumah lalu berjalan kaki hingga pertigaan kaum tempat menyetop angkot. Aku memilih angkot yang tempat duduk depan di samping supir kosong. Sehingga aku bisa duduk di situ dan tidur sampai Cileungsi. Sampai Cileungsi aku pindah ke 56 jurusan UKI. Sebisa mungkin aku duduk di depan juga agar bisa lanjut tidur. Sesampai UKI aku sambung bus mayasari P57 jurusan pulau gadung atau P300 jurusan rawa mangun. Di awal kuliah tarifnya 1000 untuk penumpang umum. Aku sering membayar 500 karena memang ada konsensus tak tertulis jika anak kuliah bisa bayar lebih murah. Kemudian tarif naik menjadi 1500 untuk penumpang umum. Aku kemudian membayar 700. Namun seringkali cekcok dengan kondektur karena aku diminta bayar 1000. Kemudian akhirnya tarif bus naik menjadi 2000 untuk penumpang umum, akhirnya aku pun harus membayar 1000.

P57 lewat jalan pemuda yang merupakan bagian belakang kampus UNJ. Jalan pemuda adalah jalan raya besar di Jakarta Timur. Bus stop ke kampus ada dua. Bus stop pertama dekat dengan jurusanku. Namun aku lebih suka turun di bus stop setelahnya yang berada tepat di depan SMA Labschool.

P300 lewat Jalan Rawamangun muka dan gerbang depan UNJ ada di jalan ini. Biasanya P300 akan menumpahkan semua penumpanngya yang sebagian besar mahasiswa UNJ di sini. Lucunya meski kampus sudah berubah nama menjadi UNJ, setiap sampai sini kondektur tetap saja berteriak-teriak IKIP, IKIP, IKIP. Berangkat dari rumah jam 5 pagi biasanya aku akan sampai sekitar jam 7.30.

Ke kampus via UKI adalah salah satu alternatif. Selama masa kuliah aku pernah juga mencoba jalur lain, via kampung rambutan. Dari kampung rambutan ke jalan pemuda, aku naik mayasari P98A. Dari kampung rambutan ia akan masuk tol jagorawi, terus sambung tol dalam kota dan baru turun di rawamangun. Di jam kuliah sebagian besar penumpang bus ini adalah mahasiswa UNJ juga. Biasanya mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di daerah jakarta timur, cibubur, depok, dan sekitarnya. Dan pada jam kuliah, bus ini akan penuh hingga benar-benar super miring. Pernah aku berdiri di dekat pintu dari rambutan hingga UNJ karena bus sudah kepenuhan. Namun di pintu pun masih ada beberapa orang yang bergelantungan hingga keluar.

Ada pengalaman lucu, satu waktu aku pernah salah naik bus dari rambutan. Aku naik P98 bukan P98A. Pada waktu itu aku girang sekali karena bus tidak padat seperti biasanya dan aku bisa duduk dengan nyaman. Ternyata P98 tidak lewat jalan pemuda. Ia keluar tol bukan di rawamangun, namun satu exit sebelumnya. Bus ini ke Pulogadung via Klender dan bukan jalan pemuda.

Oke semoga sedikit sharing sederhana ini tidak membosankan. Dilanjut lagi besok.

PS: I love you

Thursday, June 6, 2013

Dear wifey - Angkot Sleeper

Dear Wifey,

Masih melanjutkan tentang cerita tidur. Salah satu hal paling enak dari perjalan commuting adalah tidur di perjalanan. Hal ini memiliki beberapa manfaat. Pertama bisa menambah jam tidur jika seandainya semalam kurang tidur. Dua, bisa fast forward waktu untuk perjalanan cukup lama.

Namun ada kerugiannya juga. Satu adalah pemborosan waktu jika sebenarnya kita sudah cukup tidur. Sebenarnya akan lebih bermanfaat jika waktunya digunakan untuk membaca misalnya. Tapi ya sudahlah, mau cukup tidur atau kurang tidur, tidur saat commuting adalah sangat enak.

Flash back ke jaman dulu, kebiasaan tidur saat commuting sudah berlangsung sejak aku SMA. Saat SMA adalah masa ketika aku mulai "keluar kampung". Mulai dari suka jalan-jalan ke Cileungsi sebelum atau setelah sekolah. Hingga aku harus rutin bimbel di Jakarta dan les Bahasa Inggris di Bogor.

Aku les di LIA Bogor saat kelas 3. Pada jaman itu cibubur belum seramai sekarang, sehingga tempat les terdekat ya di Bogor itu. Aku les setiap sabtu jam 3 sore hingga jam 7 malam. Perjalanan ke Bogor sendiri minimal 2 jam. Biasanya aku naik angkot ke Cileungsi dengan ongkos 1000 untuk anak sekolah lalu disambung bus ke Bogor dari Cileungsi. Ongkosnya pun 1000 rupiah. Dari dulu saat naik angkot Jonggol - Cileungsi tempat duduk favoritku adalah di depan sebelah supir. Tujuannya agar bisa tidur enak. Dari Cileungsi aku pindah naik bus. Lanjut lagi tidurnya.

Demikian juga sama dengan commuting ke tempat bimbel ke Kramat Jati Jakarta Timur. Dulu bimbel Nurul Fikri inilah yang terdekat ke Jonggol. Btw, aku masih ingat saat survey mencari tempat bimbel terdekat aku diantar oleh bapak yang itu. Kami survey ke Nurul Fikri Kramat Jati dan Nurul Fikri Cijantung. Akhirnya pilihan dijatuhkan ke Nurul Fikri Kramat Jati. Aku les bimbel 2 kali seminggu jika tidak salah. Perjalanan 2 jam juga dari Jonggol.

Saat masa kelas 3 alhamdulillahnya meski sering "beredar" ke kota, tidak pernah sekali pun dipalak oleh anak sekolah lain. Padahal pada jaman itu daerah Cileungsi - Bogor dan apalagi Jakarta Timur cukup rawan untuk anak sekolah. Mungkin karena tampangku yang lurus-lurus saja sehingga jarang diusik. :p

Besok lanjut saat commuting kuliah ya.

PS: I love you

Wednesday, June 5, 2013

Dear wifey - Morning Sleepy

Dear Wifey,

Seperti yang wifey tahu, beberapa hari ini aku agak susah tidur cepat. Padahal sudah aku selalu niatkan untuk tidur dini dan bangun lebih pagi juga. Tetap saja susah. Contohnya semalam, baru setelah lewat jam 12 akhirnya bisa tertidur. Alhamdulillah bisa bangun jam 5 kurang tadi. Shalat malam, sahur, lalu mandi dan shalat shubuh. Setelah Shubuh rasanya sangat mengantuk, hingga akhirnya aku tidur.

Setelah tertidur sekitar jam 6, aku bangun sebentar jam 7 untuk ke kamar mandi. Aku tidur lagi dan bangun jam 7.30. Saat bangun aku merasa lebih mengantuk lagi. Aku kuatkan untuk bangun, cuci muka, wudhu dan shalat dhuha. Aku cuma shalat dhuha 2 kali 2 rakaat. Sebab bahkan di saat 2 rakaat pertama aku nyaris tertidur dalam shalat. Selesai shalat langsung aku berangkat masih dalam kondisi mengantuk.

Aku berjalan secepat mungkin ke stasiun kereta dan berharap barangkali itu bisa mengurangi kantuk. Sampai Dakota aku langsung turun ke platform. Posisi favoritku adalah di ujung kereta. Entah di kepalanya atau di buntutnya. Tempat duduk non reserve namun aku bisa bersender ke sekat sebelah kanan atau kiriku. Sebab tempat duduk di kereta tak ada sandaran kepalanya. Jadi satu-satunya cara untuk bisa mengenakan diri untuk tidur adalah dengan bersandar ke sekat kanan atau kiriku.

X = My Favorite seat r = reserved seat n,u = other seat

|====DOOR==============DOOR============== |Xr rnnnnnnnnnnr rnnnnnnnnnnr | |Xr ruuuuuuuuuur ruuuuuuuuuur |====DOOR==============DOOR==============

Sejak dari Dakota aku sudah langsung pingsan. Hanya sesekali aku terbangun dalam linduran. Dan aku persis terbangun sesampai Haw Par Villa. Masih agak lemas namun sudah agak lebih baik. Keluar dari stasiun bus science park sudah menunggu. Bayar 40 sen lalu duduk sambil main line pop hingga sampai kantor.

Sesampai kantor langsung buka laptop dan full koding hingga saat ini. Ini aku break sejenak menulis dear wifey email sambil menunggu kode sedang dideploy. Itu dia sedikit curhat super ngantuk di pagi hari.

PS: I love you

Dear wifey - Sedikit Tentang Bangun Pagi

Dear Wifey,

Semalam aku baru tidur jam 2. Ada kodingan yang harus dikebut. Hingga tadi akhirnya baru terbangun jam 6.30. Untungnya di Singapura matahari baru terbit sekitar jam 7. Jadi jam 6.30 masih dalam waktu sah sholat Shubuh. Sebenarnya beberapa hari ini aku ada mission statement. Untuk bangun sebelum Shubuh, sholat malam dan belajar. Namun sayangnya mission statement itu belum tercapai.

Kalau tidak salah aku juga pernah cerita tentang keutamaan shalat Shubuh. Bahkan ada hadistnya untuk ini. "Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat shubuh. Sekiranya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh, aku bermaksud akan memerintahkan shalat agar dilaksanakan. Kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengimami shalat bersama manusia, Kemudian aku pergi dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar kepada suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lalu aku bakar rumah mereka dengan api." (HR. Bukhari dan Muslim).

Lepas dari masalah agama dan lompat membahas produktifitas, dari yang aku tahu bangun pagi memang akan memberikan spirit yang lebih dibandingkan dengan bermalas-malasan. Bahkan hal ini diakui oleh beberapa penulis buku dari barat. Problemnya adalah mungkin karena kita belum terbiasa sehingga merasa itu sebagai hal yang berat. Bahkan orang-orang sering bilang, kalau keseringan bangun siang rejeki bisa-bisa dipacok (sunda: patuk) ayam. Ini adalah sebuah analogi, sebab ayam biasa sudah bangun pagi buta dan mencari rejekinya.

Selain ini bangun pagi adalah momen paling produktif bagi manusia. Sebab biasanya sebangun tidur pikiran masih sangat segar dan siap menerima tantangan apa pun. Kalau pun ada waktunya tetap ingin bermalas-malasan, mungkin bisa satu atau dua kali seminggu saja setiap akhir pekan. Bebas jika mau tidur lagi sampai lemas setelah Shubuh. Tapi dari yang sering aku rasakan, kebanyakan tidur itu rasanya amat sangat tidak enak. Saat cukup tidur memang bangun pagi terasa berat. Namun setelah mulai sedikit beraktifitas biasa akan lebih segar dengan sendirinya.

Sebenarnya email ini adalah wasiat untuk diri pribadiku juga. Tak dapat dipungkiri, untuk tidak tidur lagi setelah shubuh, apalagi jika memang capek adalah sangat berat. Paling tidak, mari kita sama-sama saling menguatkan untuk jangan pernah kelewatan waktu Shalat Shubuh.

PS: I love you

Monday, June 3, 2013

Dear wifey - Mimpi 2013

Dear wifey,

Banyak motivator dan buku yang bilang, jika kita tidak bisa menuliskan apa yang kita inginkan, artinya kita tidak serius dengan keinginan tersebut.

Berikut adalah 4 wishlist hubby tahun ini. Sebelum tahun 2014 hubby ingin: 1. Mendapat beasiswa S2 mengikuti jejak bunda 2. Membeli rumah tempat kita bernaung 3. Mempunyai Yuna atau kakaknya Yuna 4. Umrah

Elaborasinya sebagai berikut. Untuk beasiswa, aku masih penasaran dengan segala kegagalan-kegagalan yang sudah terjadi. Salah satu hikmah yang aku petik adalah mungkin Allah ingin aku lebih memantaskan diri dan meluruskan niat.

Untuk rumah, di mana pun kita tinggal lama kelak, mungkin pada akhirnya akan pulang ke Indonesia. Jadi di mana pun itu entah di Jogja, Batam atau Jakarta semoga kita bisa segera memiliki rumah mungil nyaman kita di tahun ini. Meski konyolnya aku tak tahu mampu dari mana dengan keinginan itu.

Tiga, segera punya keturunan. Namun tetap dijalani dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal.

Empat, belakangan ini aku tiba-tiba merasa terpanggil untuk beribadah ke tanah haram. Jika bisa sebelum akhir tahun ini juga. Rejekinya dari mana? Wallahualam juga. Mari kita mulai dengan perbanyak sedekah, ibadah wajib dan sunah, doa dan pengharapan yang tak putus.

Jadi itu dia sedikit curahan hati di pagi hari.

PS: I love you