Dear wifey,
Saat pertama landing di Soetta wifey adalah orang yang pertama aku ingat. Aku minta maaf jika surat-surat aku terlalu banyak membahas cerita-cerita yang lalu. Sebab terlalu banyak hal indah yang sudah kita lalui bersama meski masa yang sudah kita jalani berdua masih singkat saja. Allah membuat kenangan agar kita bisa tersenyum atau menangis bahagia saat mengingat hal yang manis. Atau agar kita bisa menjadi lebih tabah saat masa-masa pahit pernah menghampiri.
Sayangku, begitu keluar terminal kedatangan, mataku bergerak cepat mencari seorang gadis tercantik yang menjemput aku tempo hari. Dengan kerudung kuningnya menyambut aku dengan wajahnya yang selalu ceria. Namun sejauh aku melihat di tengah keramaian ini tak dapat kutemukan kamu. Nihil. Seperti surat relativitasku yang lalu, meski sudah 2 minggu saat wifey menjemput aku di bandara, namun kenangan pertemuan itu masih jelas di pelupuk mata. Aku memelukmu lama dan puas sekali pada waktu itu. Aku sebal, mengapa waktu berjalan seperti bekicot saat kamu tak ada dekatku?
Dear wifey, itu tadi mungkin ungkapan gemuruh hati seorang suami yang merindukan istrinya. Seorang ayah yang kangen pada bunda. Bunda tercantik yang akan melahirkan anak-anak shaleh dan shaleha lagi sehat walafiat.
Ayah tak sabar menunggu untuk segera take off dari negeri ini beberapa bulan dari sekarang. Aku ingin bersama-sama menuntut ilmu seperti istriku. Pergi ke tempat yang belum pernah kupijak. Bertemu dengan orang-orang asing yang ramah.
Aku tak tahu Franfurt seperti apa. Namun tiba-tiba aku ingin berkhayal. Di suatu hari di bulan September saat aku mendarat di sana, ada wifey yang mejemputku. Seorang gadis cantik berkerudung.. Di detik pertama aku melihat kamu aku berlari sekencang aku bisa. Memelukmu dengan erat. Mencium keningmu yang lembut dan pipimu yang hangat.
Harap adalah doa. Aku tak akan pernah berhenti berdoa dan berharap.
Tunggu aku di Frankfurt pada bulan September. Aku ingin memelukmu selama mungkin. Layaknya aku ingin menjadi suami abadimu.
PS: I love you
Thursday, April 5, 2012
Wednesday, April 4, 2012
Dear wifey - Mimpi Sebuah Rumah untuk Kita dari Kamar di Sturdee View
Dear wifey,
Mari kita bermain imajinasi. Salah satu aspek tak tergantikan dari tulisan adalah imajinasi pembaca dalam menginterpretasikan cerita yang disampaikan. Maka dari itu seorang pembaca buku yang kritis dan setia biasa sering kali kecewa saat menonton buku yang difilmkan. Sebab visual itu membunuh imajinasi secara total. Apalagi banyak film gagal memvisualisasikan momen cerita dengan bagus.
Aku ingin mengajak wifey memvisualisasikan seperti apa Sturdee View tempat tinggal aku sekarang. Proses aku mendapatkan apartemen ini cukup mudah. Aku kontak Bowo di hari minggu malam setelah pulang ke Jakarta mengantar wifey. Senin malam aku langsung viewing. Meski kamarnya kecil namun Senin itu akhirnya aku langsung tanda tangan kontrak. Belakangan setelah itu aku merasa ragu mengenai kecukupan luas area kamar untuk menghampar sejadah menghadap kiblat. Tapi keraguannya terpupuskan karena areanya alhamdulillah cukup untuk shalat. Namun jika wifey suka koprol areanya kurang luas. Alhamdulillah hubby tak suka koprol seperti wifey #absurd.
Sturdee View itu ada di Farrer Park. Kurang dari 5 menit dengan berjalan cepat kita bisa sampai ke stasiun MRT Farrer Park atau City Square mall. Tak sampai 4 menit jalan cepat juga kita bisa sampai ke bus stop terdekat. Bus stop ini persis di seberang City Square Mall. Tempat aku biasa menunggu bus ke kantor. 7 menit jalan, kita bisa sampai Mustafa jika ingin membuat kaki pegal browsing di toserba raksasa ini. Tak jauh dari Mustafa ada mesjid Anguila. Dulu kita pernah shalat bersama di sini. Mustafa sendiri sudah masuk area Little India. Disebut Little India karena aku lebih merasa berada di Bangalore dari pada di Singapore saat ada di sini. Sepanjang Little India hingga Farrer Park ada banyak sekali toko-toko pinggir jalan dengan segala dagangannya.
Sturdee View itu apartemen yang kecil sekali. Ia lebih tepat disebut private apartemen dari pada condo karena minim fasilitas. Tentunya tak ada bandingannya dengan Rivervale tempat kita tinggal dulu. Sturdee View hanya satu tower dibandingkan dengan Rivervale yang jika tak salah ada 7 tower. Dulu wifey sempat bingung saat hendak keluar Rivervale. Aku pun pernah bingung saat pertama viewing ke Rivervale. Namun masuk Sturdee View cukup melalui gerbang otomatis lalu melalui area parkir sempit maka kita akan langsung sampai lift. Ada dua lift yang melayani.
Dalam apartemen ada 5 kamar. Namun sepertinya semua common room. Satu kamar utama di samping ruang tengah. Kamarnya berpintu kaca dan memiliki penutup gorden. Di sebrang kamar utama tadi ada dapur yang juga cukup luas. Keluar dari dapur ada balkon yang dijadikan tempat mencuci dan menjemur baju.
Dari dalam dapur kita kembali ke ruang tengah. Ada sofa yang tak terlalu besar di depan tv. Di samping sofa ada rak sepatu dan pintu utama. Di meja tv ada juga dvd. Di pojok kanan dari sofa sebelah depan ada sebuah kipas angin. Nampaknya owner apartemen ini benar-benar berusaha membuat tenant nyaman.
Berjalan dari ruang tv ke arah depan adalah gang di mana ada 4 kamar lainnya. Pintu pertama sebelah kanan adalah gudang. Setelah itu ada dua kamar di sebelah kiri dan satu kamar di ujung gan dan satu kamar di sebelah kanan. Kamar yang terakhir itu adalah kamarku.
Ukuran kamarnya sekitar 3 x 2 meter. Sangat sempit namun semua furniture di atur dengan maksimal. Dalam kamar ada sebuah single bed. Mungkin lebarnya 120 seperti yang wifey bilang. Ada sebuah lemari. Satu tempat baju utama dan 2 laci besar di bawah lemari. Sebuah kabinet laci kecil ada di samping lemari. Owner apartemen juga meletakan sebuah kipas angin tegak di sebelah laci kabinet itu. Yup inilah rumah yang aku tinggali dalam beberapa bulan ke depan, sebelum berangkat ke Eropa (AAAMIIIN). :p
Terkadang dalam sepi, suka memikirkan masa depan juga. Kelak kita akan beli rumah di mana ya? Jika memang ingin punya rumah tinggal di Jakarta mungkin terpaksa kita harus membeli apartemen. Lalu lintas Jakarta tidak terlalu manusiawi bagi manusia. Lalu kita juga akan punya sebuah rumah istirahat di luar kota. Mungkin di Jember atau satu di Bogor. Di semua rumah tersebut aku ingin punya sebuah tempat shalat yang nyaman. Luas tempatnya sejuk suasananya membuat kita kerasan untuk beribadah. Di tempat shalat itulah kita Insya Allah akan sering shalat berjamaah saat aku tidak ke mesjid. Kita akan shalat malam bersama, berdoa bersama, mengaji bersama dan menghafal Quran bersama. Setiap selesai shalat kita akan selalu saling bertukar pengetahuan. Kelak di tempat tersebut juga kita akan mengajarkan anak-anak kita shalat dan mengaji. Mengajarkan untuk membuat mereka cinta beribadah.
Selain tempat shalat kamar penting berikutnya adalah ruang belajar. Alhamdulillah aku selalu merasa tidak pintar. Setidaknya itu membuat aku untuk terus semangat belajar. Dari dulu selalu ingin punya ruang belajar khusus. Ada perpustakaannya dan sebuah meja dan kursi yang nyaman untuk membaca atau menulis berjam-jam. Sesekali tentunya kita juga akan berdiskusi banyak hal di sana. Di pojokan ruang baca aku akan menempatkan sofa bed, khusus untuk wifey. Dengan banyak bantal tentunya. Saat wifey ketiduran aku akan menyelemutimu dengan hangat dan mengecup kening dan pipimu yang lembut. Di ruang belajar ini pula aku ingin membiasakan anak-anak kita cinta dengan buku dan ilmu pengetahuan.
Keluar dari ruang belajar, kita masuk kamar tidur kita. Sebuah master room tentunya. :) Kamarnya mungkin akan kita buat seperti kamar kita di rivervale. Di kamar itu kita akan membuat banyak anak. ;)
Dapurnya akan aku buat besar dan bersih. Di mana kita berdua akan sama-sama memasak. Bersama-sama mencuci piring. Bersama-sama bercanda. Ruang-ruang lain biarkanlah wifey yang menyumbang imajinasi. Aku pun terkadang berharap agar Allah berkenan membuat sebuah rumah di surga untuk kita. Oleh karena itu Insya Allah aku tak akan pernah bosan beribadah untuk menjadi insan yang selalui diridhai Allah.
Dear wifey, aku ingin menjadi pasangan abadi untuk wifey. Dunia dan akhirat. Ingin selalu bersama hingga akhir hayat. Ingin selalu bersama di akhirat juga.
Tunggu aku di salah satu kota di Eropa beberapa bulan dari sekarang. Mungkin di sana kita akan menyewa kamar di sebuah apartemen atau menyewa sebuah apartemen kecil. Di mana di sana kita akan melakukan banyak hal bersama. Membangun masa awal-awal rumah tangga kita yang Insya Allah selalu indah selamanya.
Salam satu zillion rindu dari hubby dari sebuah kamar di Sturdee View.
PS: I love you
Mari kita bermain imajinasi. Salah satu aspek tak tergantikan dari tulisan adalah imajinasi pembaca dalam menginterpretasikan cerita yang disampaikan. Maka dari itu seorang pembaca buku yang kritis dan setia biasa sering kali kecewa saat menonton buku yang difilmkan. Sebab visual itu membunuh imajinasi secara total. Apalagi banyak film gagal memvisualisasikan momen cerita dengan bagus.
Aku ingin mengajak wifey memvisualisasikan seperti apa Sturdee View tempat tinggal aku sekarang. Proses aku mendapatkan apartemen ini cukup mudah. Aku kontak Bowo di hari minggu malam setelah pulang ke Jakarta mengantar wifey. Senin malam aku langsung viewing. Meski kamarnya kecil namun Senin itu akhirnya aku langsung tanda tangan kontrak. Belakangan setelah itu aku merasa ragu mengenai kecukupan luas area kamar untuk menghampar sejadah menghadap kiblat. Tapi keraguannya terpupuskan karena areanya alhamdulillah cukup untuk shalat. Namun jika wifey suka koprol areanya kurang luas. Alhamdulillah hubby tak suka koprol seperti wifey #absurd.
Sturdee View itu ada di Farrer Park. Kurang dari 5 menit dengan berjalan cepat kita bisa sampai ke stasiun MRT Farrer Park atau City Square mall. Tak sampai 4 menit jalan cepat juga kita bisa sampai ke bus stop terdekat. Bus stop ini persis di seberang City Square Mall. Tempat aku biasa menunggu bus ke kantor. 7 menit jalan, kita bisa sampai Mustafa jika ingin membuat kaki pegal browsing di toserba raksasa ini. Tak jauh dari Mustafa ada mesjid Anguila. Dulu kita pernah shalat bersama di sini. Mustafa sendiri sudah masuk area Little India. Disebut Little India karena aku lebih merasa berada di Bangalore dari pada di Singapore saat ada di sini. Sepanjang Little India hingga Farrer Park ada banyak sekali toko-toko pinggir jalan dengan segala dagangannya.
Sturdee View itu apartemen yang kecil sekali. Ia lebih tepat disebut private apartemen dari pada condo karena minim fasilitas. Tentunya tak ada bandingannya dengan Rivervale tempat kita tinggal dulu. Sturdee View hanya satu tower dibandingkan dengan Rivervale yang jika tak salah ada 7 tower. Dulu wifey sempat bingung saat hendak keluar Rivervale. Aku pun pernah bingung saat pertama viewing ke Rivervale. Namun masuk Sturdee View cukup melalui gerbang otomatis lalu melalui area parkir sempit maka kita akan langsung sampai lift. Ada dua lift yang melayani.
Dalam apartemen ada 5 kamar. Namun sepertinya semua common room. Satu kamar utama di samping ruang tengah. Kamarnya berpintu kaca dan memiliki penutup gorden. Di sebrang kamar utama tadi ada dapur yang juga cukup luas. Keluar dari dapur ada balkon yang dijadikan tempat mencuci dan menjemur baju.
Dari dalam dapur kita kembali ke ruang tengah. Ada sofa yang tak terlalu besar di depan tv. Di samping sofa ada rak sepatu dan pintu utama. Di meja tv ada juga dvd. Di pojok kanan dari sofa sebelah depan ada sebuah kipas angin. Nampaknya owner apartemen ini benar-benar berusaha membuat tenant nyaman.
Berjalan dari ruang tv ke arah depan adalah gang di mana ada 4 kamar lainnya. Pintu pertama sebelah kanan adalah gudang. Setelah itu ada dua kamar di sebelah kiri dan satu kamar di ujung gan dan satu kamar di sebelah kanan. Kamar yang terakhir itu adalah kamarku.
Ukuran kamarnya sekitar 3 x 2 meter. Sangat sempit namun semua furniture di atur dengan maksimal. Dalam kamar ada sebuah single bed. Mungkin lebarnya 120 seperti yang wifey bilang. Ada sebuah lemari. Satu tempat baju utama dan 2 laci besar di bawah lemari. Sebuah kabinet laci kecil ada di samping lemari. Owner apartemen juga meletakan sebuah kipas angin tegak di sebelah laci kabinet itu. Yup inilah rumah yang aku tinggali dalam beberapa bulan ke depan, sebelum berangkat ke Eropa (AAAMIIIN). :p
Terkadang dalam sepi, suka memikirkan masa depan juga. Kelak kita akan beli rumah di mana ya? Jika memang ingin punya rumah tinggal di Jakarta mungkin terpaksa kita harus membeli apartemen. Lalu lintas Jakarta tidak terlalu manusiawi bagi manusia. Lalu kita juga akan punya sebuah rumah istirahat di luar kota. Mungkin di Jember atau satu di Bogor. Di semua rumah tersebut aku ingin punya sebuah tempat shalat yang nyaman. Luas tempatnya sejuk suasananya membuat kita kerasan untuk beribadah. Di tempat shalat itulah kita Insya Allah akan sering shalat berjamaah saat aku tidak ke mesjid. Kita akan shalat malam bersama, berdoa bersama, mengaji bersama dan menghafal Quran bersama. Setiap selesai shalat kita akan selalu saling bertukar pengetahuan. Kelak di tempat tersebut juga kita akan mengajarkan anak-anak kita shalat dan mengaji. Mengajarkan untuk membuat mereka cinta beribadah.
Selain tempat shalat kamar penting berikutnya adalah ruang belajar. Alhamdulillah aku selalu merasa tidak pintar. Setidaknya itu membuat aku untuk terus semangat belajar. Dari dulu selalu ingin punya ruang belajar khusus. Ada perpustakaannya dan sebuah meja dan kursi yang nyaman untuk membaca atau menulis berjam-jam. Sesekali tentunya kita juga akan berdiskusi banyak hal di sana. Di pojokan ruang baca aku akan menempatkan sofa bed, khusus untuk wifey. Dengan banyak bantal tentunya. Saat wifey ketiduran aku akan menyelemutimu dengan hangat dan mengecup kening dan pipimu yang lembut. Di ruang belajar ini pula aku ingin membiasakan anak-anak kita cinta dengan buku dan ilmu pengetahuan.
Keluar dari ruang belajar, kita masuk kamar tidur kita. Sebuah master room tentunya. :) Kamarnya mungkin akan kita buat seperti kamar kita di rivervale. Di kamar itu kita akan membuat banyak anak. ;)
Dapurnya akan aku buat besar dan bersih. Di mana kita berdua akan sama-sama memasak. Bersama-sama mencuci piring. Bersama-sama bercanda. Ruang-ruang lain biarkanlah wifey yang menyumbang imajinasi. Aku pun terkadang berharap agar Allah berkenan membuat sebuah rumah di surga untuk kita. Oleh karena itu Insya Allah aku tak akan pernah bosan beribadah untuk menjadi insan yang selalui diridhai Allah.
Dear wifey, aku ingin menjadi pasangan abadi untuk wifey. Dunia dan akhirat. Ingin selalu bersama hingga akhir hayat. Ingin selalu bersama di akhirat juga.
Tunggu aku di salah satu kota di Eropa beberapa bulan dari sekarang. Mungkin di sana kita akan menyewa kamar di sebuah apartemen atau menyewa sebuah apartemen kecil. Di mana di sana kita akan melakukan banyak hal bersama. Membangun masa awal-awal rumah tangga kita yang Insya Allah selalu indah selamanya.
Salam satu zillion rindu dari hubby dari sebuah kamar di Sturdee View.
PS: I love you
Tuesday, April 3, 2012
Dear wifey - Gadis Pemanjat Pohon Rambutan Bersepatu Roda
Dear wifey,
Nampaknya email kali ini berlawanan dengan topik yang wifey inginkan. Tapi biar saja, sebab kisah ini selalu aku suka. Oh ya untuk surat kali ini mohon maaf jika agak mengawang-awang dan tidak fokus. Aku hanya membiarkan rentetan pikiran mengalir bebas ke atas tuts-tuts keyboard.
Masih berkaitan dengan surat kemarin. Sejak pertama kita saling kenal kemudian dekat dan akhirnya menikah, ada suatu cerita wifey yang mengingatnya akan membuat aku tersenyum dan tak jarang hingga tergelak. Inti ceritanya dengan hubby sebagai penutur ulang kira-kira sebagai berikut. Di suatu hari yang cerah sang gadis yang ternyata dulu pintar menari bali ini pernah memanjat pohon rambutan. Oke, memanjat pohon rambutan bagi seorang anak perempuan nan ayu sebenarnya sudah cukup ekstrim. Bagaimana jika ternyata gadis itu memanjat pohon rambutan dengan sepatu roda! Deng deng deng. Sepertinya dengan sangat terpaksa kita harus mencoret kata ayu dari depan kata gadis tadi.
Tapi tenang kok, kini gadis tersebut sudah ayu kembali. Sejak wifey bercerita peristiwa fenomenal, legendaris dan monumental tersebut, beribu kali wifey mewanti-wanti hubby. Wifey bercerita bahwa kecelakaan itu meninggalkan bekas tak cantik di betis wifey yang seksi. Wifey pun berkali-kali mengingatkan akan menunjukan betis monumental tersebut pada hubby. Padahal dalam hati hubby tidak sedikit pun mempermasalahkan tragedi rambutan dan sepatu roda. Hubby cinta pada wifey bukan sekedar pada betisnya. Pada akhirnya setelah menikah terbukti bahwa wifey lebay. Betismu masih jauh lebih cantik dari betis Angelina Jolie. (Disclaimer: hubby tak pernah melihat betis si Aj).
Mengingat kisah tersebut aku jadi sering menerawang, seperti apa ya anak-anak kita kelak? Jika misalnya nanti ada kelakuan absurd dari anak-anak kita sepertinya aku sudah cukup tahu ke mana jari aku harus menunjuk. Sebab untuk aku sendiri jangankan dengan sepatu roda, memanjat biasa saja sepertinya tidak pernah. Allah itu Maha Adil, memasangkan aku dengan sosok yang benar-benar bisa mengkomplemen aku.
Time move so fast. Gadis pemanjat pohon rambutan bersepatu roda tersebut kini sudah tumbuh menjadi gadis nan ayu dan menawan. Buktinya sejak pertama bertemu hati aku langsung terperangkap pesona wifey. Gadis tersebut juga sudah berhasil mencapai prestasi-prestasi yang gemilang. Allah itu Maha Adil sayangku. Mungkin wifey masih sering merasa trauma dengan masa lalu. Keluarga yang tidak utuh. Namun seperti pendapat yang sering aku sampaikan dulu mungkin hikmah dari masa lalu tersebut adalah pencapaian-pencapain wifey sekarang. Jadi jangan pernah berhenti bersyukur sebab semua ketetapan itu selalu memiliki hikmah yang indah. Serta segala sesuatu yang terjadi itu memang sudah takdirnya. Namun takdir yang belum terjadi selalu bisa dirubah dengan doa.
Aku sendiri tak pernah aku berhenti bersyukur atas semua karunia yang aku rasakan dalam hidup aku dan salah satu karunia terindah tersebut adalah kehadiran wifey dalam hidupku. Wifey akan selalu menjadi inspirasi dan penyemangatku.
Tunggu aku di salah satu kota di Eropa sekitar bulan September musim dingin tahun ini. Mungkin kita berdua harus mencoba memanjat pohon cemara menggunakan sepatu ice skating.
PS: I love you
Nampaknya email kali ini berlawanan dengan topik yang wifey inginkan. Tapi biar saja, sebab kisah ini selalu aku suka. Oh ya untuk surat kali ini mohon maaf jika agak mengawang-awang dan tidak fokus. Aku hanya membiarkan rentetan pikiran mengalir bebas ke atas tuts-tuts keyboard.
Masih berkaitan dengan surat kemarin. Sejak pertama kita saling kenal kemudian dekat dan akhirnya menikah, ada suatu cerita wifey yang mengingatnya akan membuat aku tersenyum dan tak jarang hingga tergelak. Inti ceritanya dengan hubby sebagai penutur ulang kira-kira sebagai berikut. Di suatu hari yang cerah sang gadis yang ternyata dulu pintar menari bali ini pernah memanjat pohon rambutan. Oke, memanjat pohon rambutan bagi seorang anak perempuan nan ayu sebenarnya sudah cukup ekstrim. Bagaimana jika ternyata gadis itu memanjat pohon rambutan dengan sepatu roda! Deng deng deng. Sepertinya dengan sangat terpaksa kita harus mencoret kata ayu dari depan kata gadis tadi.
Tapi tenang kok, kini gadis tersebut sudah ayu kembali. Sejak wifey bercerita peristiwa fenomenal, legendaris dan monumental tersebut, beribu kali wifey mewanti-wanti hubby. Wifey bercerita bahwa kecelakaan itu meninggalkan bekas tak cantik di betis wifey yang seksi. Wifey pun berkali-kali mengingatkan akan menunjukan betis monumental tersebut pada hubby. Padahal dalam hati hubby tidak sedikit pun mempermasalahkan tragedi rambutan dan sepatu roda. Hubby cinta pada wifey bukan sekedar pada betisnya. Pada akhirnya setelah menikah terbukti bahwa wifey lebay. Betismu masih jauh lebih cantik dari betis Angelina Jolie. (Disclaimer: hubby tak pernah melihat betis si Aj).
Mengingat kisah tersebut aku jadi sering menerawang, seperti apa ya anak-anak kita kelak? Jika misalnya nanti ada kelakuan absurd dari anak-anak kita sepertinya aku sudah cukup tahu ke mana jari aku harus menunjuk. Sebab untuk aku sendiri jangankan dengan sepatu roda, memanjat biasa saja sepertinya tidak pernah. Allah itu Maha Adil, memasangkan aku dengan sosok yang benar-benar bisa mengkomplemen aku.
Time move so fast. Gadis pemanjat pohon rambutan bersepatu roda tersebut kini sudah tumbuh menjadi gadis nan ayu dan menawan. Buktinya sejak pertama bertemu hati aku langsung terperangkap pesona wifey. Gadis tersebut juga sudah berhasil mencapai prestasi-prestasi yang gemilang. Allah itu Maha Adil sayangku. Mungkin wifey masih sering merasa trauma dengan masa lalu. Keluarga yang tidak utuh. Namun seperti pendapat yang sering aku sampaikan dulu mungkin hikmah dari masa lalu tersebut adalah pencapaian-pencapain wifey sekarang. Jadi jangan pernah berhenti bersyukur sebab semua ketetapan itu selalu memiliki hikmah yang indah. Serta segala sesuatu yang terjadi itu memang sudah takdirnya. Namun takdir yang belum terjadi selalu bisa dirubah dengan doa.
Aku sendiri tak pernah aku berhenti bersyukur atas semua karunia yang aku rasakan dalam hidup aku dan salah satu karunia terindah tersebut adalah kehadiran wifey dalam hidupku. Wifey akan selalu menjadi inspirasi dan penyemangatku.
Tunggu aku di salah satu kota di Eropa sekitar bulan September musim dingin tahun ini. Mungkin kita berdua harus mencoba memanjat pohon cemara menggunakan sepatu ice skating.
PS: I love you
Monday, April 2, 2012
Dear wifey - Gadis yang Balapan dengan Kereta
Dear wifey,
Jumat lalu saat di bus 854 yang menghantarkan aku ke kantor bus beriringan dengan mrt yang juga berjalan. Seketika aku ingat cerita yang sering wifey bagi saat dulu wifey senang balapan di motor dengan kereta api.
***
Perjalanan ke Jember pertama kali pasca lebaran adalah momen yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Dari hal tersebut juga aku semakin merasa bersyukur dan kagum dengan mekanisme perjodohan yang Allah atur. Jika wifey masih ingat, semalam sebelum aku berangkat ke Jember aku sangat galau. Silaturahmi tersebut adalah milestone yang sangat penting untuk hubungan kita ke depan. Aku bertemu orang tua wifey dan menyampaikan itikad kedatanganku. Menegangkan namun aku sangat menikmatinya.
Aku masih ingat berangkat ba'da shubuh dari Jonggol. Seingatku aku sambung naik Damri dari Rambutan. Aku terbang ke Surabaya dan lanjut Damri lagi ke Terminal Surabaya. Di damri ini aku mengobrol panjang lebar dengan bapak-bapak beristri dua. Iya dia bercerita sedikit tentang hidupnya. Aku agak lupa mengenai detail apa yang iya ceritakan. Oh ya wifey tak usah khawatir, Insya Allah sampai detik ini tak pernah terpikirkan olehku menggantikan wifey dengan wanita mana pun. Insya Allah tak akan pernah selamanya.
Sampai terminal Surabaya aku shalat zuhur dan langsung ke terminal luar kota sambil menengok berbagai jurusan bus di sana. Ada Malang dan aku naik yang ke arah Jember, Banyuwangi. Aku penumpang yang naik terakhir pada waktu itu, duduk di bangku paling belakang di samping seorang pria yang terlihat sangar. Lucunya di perjalanan aku justru mengobrol panjang lebar dengan pria tadi. Jika tak salah ingat namanya Yanto. Seorang operator alat berat yang bekerja membuka lahan di hutan. Ada pesan penting dari percakapan kami. Meski pun baru kali itu bertemu aku melihat Yanto sebagai orang yang sangat berbakti pada orang tuanya. Yanto turun di Rambi puji (semoga tak salah eja). Aku lanjut hingga Tawang Alun. Di sanalah jantungku mulai berdegup kencang menunggu calon istri dan calon mertuaku yang datang.
Kita melakukan banyak hal di waktu itu. Shalat bersama, ngobrol dan tak lupa jalan-jalan sekitaran Jember. Oh ya aku juga masih sangat ingat ketika kita pagi-pagi berjalan ke pasar di sekitaran kompleks bersama mimo. Time move so fast honey.
Kembali ke masalah balapan dengan kereta api. Sepanjang jalan antara alun-alun ke arah Patrang ada rel di sebelah kiri. Wifey bercerita pada waktu itu, dulu saat wifey masih kuliah atau sekolah, saat pulang menjemput adik, wifey selalu balapan dengan kereta, dan membujuk adik untuk tidak menceritakan kelakuan "unik" wifey pada mimo. Saat wifey bercerita langsung saja otak aku memvisualisasikan kejadian tersebut. Wifey yang sedang balapan dengan kereta di atas motor. Seorang anak gadis yang "beda" (dalam tanda positif tentunya) dari orang-orang kebanyakan. Dengan semangatnya menjalani hidup dan mengejar cita-cita. Saat wifey sering bilang ke hubby, "hubby you've been through a lot" sebenarnya kata-kata tersebut lebih tepat untuk wifey. Kamu sudah mengalami banyak hal. Berhubung kamu orang baik, maka Allah pun memberikan banyak hal yang layak dibilang sebagai balasan atas perjuangan hidup kamu. Keluarga yang baik, pernikahan kita yang Insya Allah samara dan beasiswa ke luar negeri, suatu hal besar yang masih menjadi mimpi untuk hubby.
Maka ketika Jumat lalu hubby beriringan dengan MRT di dalam bus. Ingatan langsung melompat ke suasana beberapa tahun lalu di sepanjang jalan dari alun-alun ke arah Patrang di mana seorang gadis dengan mimpi-mimpi dan karakternya yang sangat kuat sedang berbalapan dengan kereta api. Dan kini gadis itu sudah menjadi gadisku. Yang akan aku muliakan dunia dan akhiratnya.
Jangan pernah bosan bermimpi, biarkan Allah memeluk mimpi-mimpi kita. Jangan pernah bosan berdoa, hingga Allah "bosan mendengar" dan akhirnya mengabulkannya.
Tunggu aku di sekitaran September tahun ini di sebuah kota di Eropa. Di mana kita akan bersama-sama menuntut ilmu, merajut mimpi-mimpi kita dan mungkin sesekali mencoba balapan dengan kereta api meski hanya menggunakan sepeda.
PS: I love you
Jumat lalu saat di bus 854 yang menghantarkan aku ke kantor bus beriringan dengan mrt yang juga berjalan. Seketika aku ingat cerita yang sering wifey bagi saat dulu wifey senang balapan di motor dengan kereta api.
***
Perjalanan ke Jember pertama kali pasca lebaran adalah momen yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Dari hal tersebut juga aku semakin merasa bersyukur dan kagum dengan mekanisme perjodohan yang Allah atur. Jika wifey masih ingat, semalam sebelum aku berangkat ke Jember aku sangat galau. Silaturahmi tersebut adalah milestone yang sangat penting untuk hubungan kita ke depan. Aku bertemu orang tua wifey dan menyampaikan itikad kedatanganku. Menegangkan namun aku sangat menikmatinya.
Aku masih ingat berangkat ba'da shubuh dari Jonggol. Seingatku aku sambung naik Damri dari Rambutan. Aku terbang ke Surabaya dan lanjut Damri lagi ke Terminal Surabaya. Di damri ini aku mengobrol panjang lebar dengan bapak-bapak beristri dua. Iya dia bercerita sedikit tentang hidupnya. Aku agak lupa mengenai detail apa yang iya ceritakan. Oh ya wifey tak usah khawatir, Insya Allah sampai detik ini tak pernah terpikirkan olehku menggantikan wifey dengan wanita mana pun. Insya Allah tak akan pernah selamanya.
Sampai terminal Surabaya aku shalat zuhur dan langsung ke terminal luar kota sambil menengok berbagai jurusan bus di sana. Ada Malang dan aku naik yang ke arah Jember, Banyuwangi. Aku penumpang yang naik terakhir pada waktu itu, duduk di bangku paling belakang di samping seorang pria yang terlihat sangar. Lucunya di perjalanan aku justru mengobrol panjang lebar dengan pria tadi. Jika tak salah ingat namanya Yanto. Seorang operator alat berat yang bekerja membuka lahan di hutan. Ada pesan penting dari percakapan kami. Meski pun baru kali itu bertemu aku melihat Yanto sebagai orang yang sangat berbakti pada orang tuanya. Yanto turun di Rambi puji (semoga tak salah eja). Aku lanjut hingga Tawang Alun. Di sanalah jantungku mulai berdegup kencang menunggu calon istri dan calon mertuaku yang datang.
Kita melakukan banyak hal di waktu itu. Shalat bersama, ngobrol dan tak lupa jalan-jalan sekitaran Jember. Oh ya aku juga masih sangat ingat ketika kita pagi-pagi berjalan ke pasar di sekitaran kompleks bersama mimo. Time move so fast honey.
Kembali ke masalah balapan dengan kereta api. Sepanjang jalan antara alun-alun ke arah Patrang ada rel di sebelah kiri. Wifey bercerita pada waktu itu, dulu saat wifey masih kuliah atau sekolah, saat pulang menjemput adik, wifey selalu balapan dengan kereta, dan membujuk adik untuk tidak menceritakan kelakuan "unik" wifey pada mimo. Saat wifey bercerita langsung saja otak aku memvisualisasikan kejadian tersebut. Wifey yang sedang balapan dengan kereta di atas motor. Seorang anak gadis yang "beda" (dalam tanda positif tentunya) dari orang-orang kebanyakan. Dengan semangatnya menjalani hidup dan mengejar cita-cita. Saat wifey sering bilang ke hubby, "hubby you've been through a lot" sebenarnya kata-kata tersebut lebih tepat untuk wifey. Kamu sudah mengalami banyak hal. Berhubung kamu orang baik, maka Allah pun memberikan banyak hal yang layak dibilang sebagai balasan atas perjuangan hidup kamu. Keluarga yang baik, pernikahan kita yang Insya Allah samara dan beasiswa ke luar negeri, suatu hal besar yang masih menjadi mimpi untuk hubby.
Maka ketika Jumat lalu hubby beriringan dengan MRT di dalam bus. Ingatan langsung melompat ke suasana beberapa tahun lalu di sepanjang jalan dari alun-alun ke arah Patrang di mana seorang gadis dengan mimpi-mimpi dan karakternya yang sangat kuat sedang berbalapan dengan kereta api. Dan kini gadis itu sudah menjadi gadisku. Yang akan aku muliakan dunia dan akhiratnya.
Jangan pernah bosan bermimpi, biarkan Allah memeluk mimpi-mimpi kita. Jangan pernah bosan berdoa, hingga Allah "bosan mendengar" dan akhirnya mengabulkannya.
Tunggu aku di sekitaran September tahun ini di sebuah kota di Eropa. Di mana kita akan bersama-sama menuntut ilmu, merajut mimpi-mimpi kita dan mungkin sesekali mencoba balapan dengan kereta api meski hanya menggunakan sepeda.
PS: I love you
Sunday, April 1, 2012
Dear Wifey - Tak Ada Doa yang Tertolak
Dear wifey sayang,
Email kali ini mungkin agak memalukan. Namun hubby sudah mengubur rasa malu hubby saat berhadapan dengan wifey. Sebab hubby ingin tampil apa adanya di depan wifey. Tentunya sambil terus melakukan self improvement tanpa henti. Aku mungkin tidak sempurna, aku memang ingin menjadi penyempurna hidup wifey, namun aku akan selalu ingin lebih mendekati sempurna setiap waktu.
Tak ada doa yang tertolak. Namun Allah selalu punya caranya sendiri dalam menjawab doa-doa hambanya.
No editing, banyak gesture aneh, lightingnya jelek, gambarnya ga fokus, tapi inilah hubby apa adanya. Semoga setiap hal yang hubby lakukan bisa selalu istiqamah. Zillion loves, kisses and hugs from hubby for the greatest wife in the world. Istri yang akan selalu aku muliakan selamanya.
Enjoy the shame of me:
http://www.youtube.com/watch?v=BO1FqctipTQ
PS: I love you
Email kali ini mungkin agak memalukan. Namun hubby sudah mengubur rasa malu hubby saat berhadapan dengan wifey. Sebab hubby ingin tampil apa adanya di depan wifey. Tentunya sambil terus melakukan self improvement tanpa henti. Aku mungkin tidak sempurna, aku memang ingin menjadi penyempurna hidup wifey, namun aku akan selalu ingin lebih mendekati sempurna setiap waktu.
Tak ada doa yang tertolak. Namun Allah selalu punya caranya sendiri dalam menjawab doa-doa hambanya.
No editing, banyak gesture aneh, lightingnya jelek, gambarnya ga fokus, tapi inilah hubby apa adanya. Semoga setiap hal yang hubby lakukan bisa selalu istiqamah. Zillion loves, kisses and hugs from hubby for the greatest wife in the world. Istri yang akan selalu aku muliakan selamanya.
Enjoy the shame of me:
http://www.youtube.com/watch?v=BO1FqctipTQ
PS: I love you
Saturday, March 31, 2012
Dear Wifey - Auf Wiedersehen The Rivervale
Auf Wiedersehen
Dibacanya awf viderseyen. Sedikit-sedikit aku sudah bisa membaca kata-kata Jerman. W dibaca v (bukan pe ya :p). H dibaca y. Arti kata tersebut adalah selamat tinggal, sampai jumpa lagi. Dan kemarin hubby mengucapkan selamat tinggal dengan condo pertama kita. Dislaimer: surat kali ini agak panjang. Semoga wifey tak bosan membacanya.
Orang baik selalu mendapat banyak kemudahan dari Allah. Contohnya wifey. Beberapa hari menjelang kita menikah di Januari lalu aku bingung bukan kepalang. Pertama karena sewa apartemen teman-teman TN di Choa Chu Kang akan habis bulan Januari. Artinya sebelum aku pulang cuti menikah aku harus mencari apartemen. Kedua aku memang harus mencari tempat tinggal baru karena wifey akan datang di bulan Februari. Ketiga aku benar-benar tidak punya cash yang cukup. Tempat tinggal yang nyaman, privat dan strategis biasanya harganya tak masuk akal. Bahkan dibandingkan dengan di Eropa sekali pun.
Setelah beberapa kali hunting dan viewing tempat pun kebanyakan berujung ketidakcocokan. Entah karena harganya yang mahal atau tempatnya yang tidak nyaman. Setengah pasrah di suatu hari Jumat seminggu menjelang aku pulang ke Jakarta, aku Shalat Maghrib di Mesjid Mydin. Aku berdoa agar bisa menemukan tempat tinggal yang nyaman terutama selama istri aku tinggal di Singapura. Doa tersebut dijawab instan ba'da shalat. Sambil berjalan ke MRT kembangan aku browsing craiglist di handphone dan menemukan postingan iklan The Rivervale yang dipasang Keshav, orang yang akhirnya menjadi room mate kita selama 2 bulan. Kami pun saling sms dan akhirnya kami sepakat untuk viewing keesokan harinya.
Hari Sabtu aku berangkat dengan penuh semangat dari Choa Chu Kang. Setelah sampai Rivervale langsung bicara dengan security mau viewing kamar. Akhirnya aku masuk setelah sedikit berputar-putar nyasar. Bertemu Keshav. Lihat-lihat kamarnya, kamar mandi, dapur dan sekeliling condo. Kami pun sempat mengobrol-ngobrol cukup lama. Mengenai rencana resepsi nikah kita kemudian rencana wifey berangkat ke Jerman. Harga yang diberikan condo ini sangat layak. Akhirnya aku putuskan untuk deal untuk menyewa dengan kontrak 6 bulan. Kami juga sepakat untuk bertemu dengan owner condo keesokan harinya. Aku pulang ke Choa Chu Kang dengan sangat riang sore itu.
Namun malam hari tiba-tiba Keshav menelepon dan membatalkan sepihak kesepakatan kami. Alasannya adalah Shubhra mendapat kerja di Singapura dan kamar yang akan kita sewa akan ditempati ia di bulan Maret. Kabar tersebut tentunya sangat tidak mengenakan sebab aku sudah tidak punya rencana backup lain. Aku juga sudah mencancel satu viewing apartemen di Bedok. Namun pada waktu itu aku hanya pasrah serta ikhals. Aku selalu percaya ada hikmah indah di setiap rencana Allah. Menariknya selang 15 menit Keshav menelopon lagi. Akhirnya dia menawarkan offer untuk menyewa 2 bulan saja yang mengakomodasi selama wifey ada di Singapura. Jadi ketika Shubhra datang ia akan tinggal dulu sekamar dengan Rahul. Tentu saja justru tawaran ini sangat menguntungkan kita. Aku pun juga tak perlu bertemu dengan Mr. Lee owner condo. Orang baik selalu mendapat kemudahan dari Allah, itulah wifey dengan rejekinya.
Beberapa hari kemudian aku memutuskan menaruh koper dan semua barang-barang aku di Rivervale. Sebab sepulang dari Indonesia kemungkinan apartemen Choa Chu Kang sudah kosong. Aku masih ingat saat itu datang sekitar jam 8 mama. Membawa koper merah wifey yang cukup berat. Aku turun di stasiun MRT Buangkok dan lari-lari (aku selalu senang berlari) menggeret koper karena takut terlambat dengan janji yang sudah dibuat. Dengan penuh peluh aku sampai di Condo. Mengobrol-ngobrol lagi sejenak dan setelah Keshav memberikan kunci aku langsung pamit pulang lagi.
Singkat cerita aku pulang ke Indonesia untuk resepsi pernikahan kita. Kita menghabiskan waktu-waktu indah yang tak akan terlupa sepanjang resepsi, bulan madu di Malang, pergi ke Padang dan menginap semalam di Jonggol. Akhir Januari akhirnya aku kembali ke Singapura. Sepulang kantor aku langsung pulang ke Rivervale. Ada cerita menarik di sini. Ketika sampai Condo, semua sangat gelap. Tidak ada seorang pun. Koper merah aku memang sudah dimasukan ke kamar kita. Tiba-tiba aku merasa takut, bagaimana jika aku ditipu. Aku memang sudah transfer uang sewa ke Keshav. Namun aku tidak menandatangani dokumen apa pun. Lalu aku juga langsung memikirkan wifey. Saat itu aku belum terlalu mengenal Keshav dan belum bertemu dengan Rahul. Aku langsung khawatir keselamatan wifey jika kelak tinggal di sini dengan orang-orang asing. Aku pun beristighfar pelan sambil kemudian menelepon Keshav. Ternyata ia masih di kantor. Aku pun membongkar barang di kamar. Saat keluar kamar aku bertemu dengan Rahul yang baru sampai. Aku juga bertemu dengan Shubhra yang kebetulan datang berkunjung. Malam itu aku tidur kelelahan tanpa bantal. Seprai wifey aku gulung-gulung dijadikan bantal.
***
Salah satu hari terindah selama aku di Singapura adalah ketika aku menjemput wifey di Changi. Kebahagianku naik menjadi 2000 persen di hari itu. Aku masih ingat sangat jelas saat pertama kali berdadah-dadah dengan wifey di Belt 21 tempat wifey mengambil bagasi. Kita makan burger king, wifey belajar memakai EZ link dan ngobrol panjang lebar di perjalanan ke rumah pertama kita.
Rivervale akan selalu menjadi kenangan indah. Inilah rumah pertama kita sejak menikah. Rumah di mana kita melakukan semuanya bersama-sama. Tidur, bangun, makan, shalat, bercanda dan bahkan mandi. Aku akan selalu mengingat tumpukan buku yang telah dirapihkan wifey di rak buku kita. Aku selalu tersenyum geli mengingat cerita wifey yang pusing melihat susunan buku naik turun. Aku akan selalu mengenang momen kita mencuci piring berdua. Aku tidak akan pernah lupa bahagianya bercanda-canda di kamar mandi kita. Melihat vending machine minuman di bawah reading room juga selalu membuat aku tersenyum mengingat beberapa kali kita sering kehausan dan membeli lemon tea di situ. Melihat kolam renang membuat aku selalu mengingat gadis berbaju renang hijau yang menutup seluruh tubuhnya dengan cantik. Melihat ruang TV aku tak akan pernah lupa kita sering makan di situ sambil menonton. Atau kita juga pernah semalaman mengobrol menyelesaikan surat motivasi kau di sana. Aku juga akan selalu mengingat bahwa selalu berat rasanya berangkat bekerja di pagi hari sebab aku harus meninggalkan wifey di rumah. Adalah pemandangan yang sangat indah saat aku melihat wifey dari jendela ruang tengah melambaikan tangan. Aku juga selalu bersemangat tak terkira setiap setelah jam kantor. Setiap hari aku selalu berlari ke halte bus untuk memastikan bisa sesegera mungkin bertemu wifey.
Oleh karena itu saat wifey akhirnya pulang ke Jakarta, aku diserang rasa kesepian yang sangat dahsyat. Aku sebenarnya tak mau bercerita ini, namun semoga ini bisa menjadi bukti cinta besar aku pada wifey, yang Insya Allah selalu semoga terpelihara selamanya. Sepulang mengantar wifey, mimo dan adek ke Changi aku merasa seperti kehilangan hidup. Di setiap kondisi terdalam aku jatuh, shalat adalah pelarian aku. Dari airport aku turun di MRT Kembangan dan berjalan ke Mydin untuk Shalat Maghrib. Aku tak berani langsung pulang. Sebab di setiap sudut condo di rivervale aku melihat wifey. Setelah shalat aku berdoa panjang. Aku merasakan pipi aku hangat dan mataku menjadi sembab. Air dari mata mengalir ke pipi dan berjatuhan dari dagu. Aku menangis sambil berdoa. Salah satu tangis terdalam yang pernah aku rasakan.
Aku harap wifey semangat terus untuk kuliah dan ibadahnya di Jerman. Belajar itu adalah ibadah kan? Biarkan potongan-potongan cerita di atas sebagai fragmen kenangan indah di masa lalu yang akan terus menguatkan cinta kita di masa depan. Semoga itu semua menjadi penyemangat untuk wifey fokus belajar.
Kemarin aku pun meninggalkan condo penuh kenangan itu. Melewati punggol park dan akhirnya meninggalkan Hougang.
Aku mungkin tak pandai menulis puisi layaknya wifey. Namun ijinkanlah aku menulis sesuatu.
***** * * *Suatu bulan di Rivervale* * * Di setiap sudutnya aku melihat kamu Dengan senyuman manis dan harum nafas yang nyaman Dan di balik jendela ruang tengah itu pernah ada pemandangan terindah Seorang istri ayu yang selalu melambaikan tangan saat ku pergi
Sore adalah waktu berlari sekencangnya ke Rivervale Saat istriku menanti dengan pelukan terhangat Dan masakan ternikmat
Di dalam kamarnya selalu terpanjatkan doa-doa yang panjang Oleh istri untukku Oleh aku untuk istriku Tak pernah putus
Rivervale pun telah ditinggalkan Namun akan selalu teringat dalam hati terdalam Semua cerita indahnya Tunggulah aku di sebuah kota di Eropa di bulan September Di mana kita akan sama-sama menuntut ilmu Dan sesekali berbagi kisah indahnya masa di Rivervale Auf Wiedersehen, The Rivervale
***
PS: I love you
Dibacanya awf viderseyen. Sedikit-sedikit aku sudah bisa membaca kata-kata Jerman. W dibaca v (bukan pe ya :p). H dibaca y. Arti kata tersebut adalah selamat tinggal, sampai jumpa lagi. Dan kemarin hubby mengucapkan selamat tinggal dengan condo pertama kita. Dislaimer: surat kali ini agak panjang. Semoga wifey tak bosan membacanya.
Orang baik selalu mendapat banyak kemudahan dari Allah. Contohnya wifey. Beberapa hari menjelang kita menikah di Januari lalu aku bingung bukan kepalang. Pertama karena sewa apartemen teman-teman TN di Choa Chu Kang akan habis bulan Januari. Artinya sebelum aku pulang cuti menikah aku harus mencari apartemen. Kedua aku memang harus mencari tempat tinggal baru karena wifey akan datang di bulan Februari. Ketiga aku benar-benar tidak punya cash yang cukup. Tempat tinggal yang nyaman, privat dan strategis biasanya harganya tak masuk akal. Bahkan dibandingkan dengan di Eropa sekali pun.
Setelah beberapa kali hunting dan viewing tempat pun kebanyakan berujung ketidakcocokan. Entah karena harganya yang mahal atau tempatnya yang tidak nyaman. Setengah pasrah di suatu hari Jumat seminggu menjelang aku pulang ke Jakarta, aku Shalat Maghrib di Mesjid Mydin. Aku berdoa agar bisa menemukan tempat tinggal yang nyaman terutama selama istri aku tinggal di Singapura. Doa tersebut dijawab instan ba'da shalat. Sambil berjalan ke MRT kembangan aku browsing craiglist di handphone dan menemukan postingan iklan The Rivervale yang dipasang Keshav, orang yang akhirnya menjadi room mate kita selama 2 bulan. Kami pun saling sms dan akhirnya kami sepakat untuk viewing keesokan harinya.
Hari Sabtu aku berangkat dengan penuh semangat dari Choa Chu Kang. Setelah sampai Rivervale langsung bicara dengan security mau viewing kamar. Akhirnya aku masuk setelah sedikit berputar-putar nyasar. Bertemu Keshav. Lihat-lihat kamarnya, kamar mandi, dapur dan sekeliling condo. Kami pun sempat mengobrol-ngobrol cukup lama. Mengenai rencana resepsi nikah kita kemudian rencana wifey berangkat ke Jerman. Harga yang diberikan condo ini sangat layak. Akhirnya aku putuskan untuk deal untuk menyewa dengan kontrak 6 bulan. Kami juga sepakat untuk bertemu dengan owner condo keesokan harinya. Aku pulang ke Choa Chu Kang dengan sangat riang sore itu.
Namun malam hari tiba-tiba Keshav menelepon dan membatalkan sepihak kesepakatan kami. Alasannya adalah Shubhra mendapat kerja di Singapura dan kamar yang akan kita sewa akan ditempati ia di bulan Maret. Kabar tersebut tentunya sangat tidak mengenakan sebab aku sudah tidak punya rencana backup lain. Aku juga sudah mencancel satu viewing apartemen di Bedok. Namun pada waktu itu aku hanya pasrah serta ikhals. Aku selalu percaya ada hikmah indah di setiap rencana Allah. Menariknya selang 15 menit Keshav menelopon lagi. Akhirnya dia menawarkan offer untuk menyewa 2 bulan saja yang mengakomodasi selama wifey ada di Singapura. Jadi ketika Shubhra datang ia akan tinggal dulu sekamar dengan Rahul. Tentu saja justru tawaran ini sangat menguntungkan kita. Aku pun juga tak perlu bertemu dengan Mr. Lee owner condo. Orang baik selalu mendapat kemudahan dari Allah, itulah wifey dengan rejekinya.
Beberapa hari kemudian aku memutuskan menaruh koper dan semua barang-barang aku di Rivervale. Sebab sepulang dari Indonesia kemungkinan apartemen Choa Chu Kang sudah kosong. Aku masih ingat saat itu datang sekitar jam 8 mama. Membawa koper merah wifey yang cukup berat. Aku turun di stasiun MRT Buangkok dan lari-lari (aku selalu senang berlari) menggeret koper karena takut terlambat dengan janji yang sudah dibuat. Dengan penuh peluh aku sampai di Condo. Mengobrol-ngobrol lagi sejenak dan setelah Keshav memberikan kunci aku langsung pamit pulang lagi.
Singkat cerita aku pulang ke Indonesia untuk resepsi pernikahan kita. Kita menghabiskan waktu-waktu indah yang tak akan terlupa sepanjang resepsi, bulan madu di Malang, pergi ke Padang dan menginap semalam di Jonggol. Akhir Januari akhirnya aku kembali ke Singapura. Sepulang kantor aku langsung pulang ke Rivervale. Ada cerita menarik di sini. Ketika sampai Condo, semua sangat gelap. Tidak ada seorang pun. Koper merah aku memang sudah dimasukan ke kamar kita. Tiba-tiba aku merasa takut, bagaimana jika aku ditipu. Aku memang sudah transfer uang sewa ke Keshav. Namun aku tidak menandatangani dokumen apa pun. Lalu aku juga langsung memikirkan wifey. Saat itu aku belum terlalu mengenal Keshav dan belum bertemu dengan Rahul. Aku langsung khawatir keselamatan wifey jika kelak tinggal di sini dengan orang-orang asing. Aku pun beristighfar pelan sambil kemudian menelepon Keshav. Ternyata ia masih di kantor. Aku pun membongkar barang di kamar. Saat keluar kamar aku bertemu dengan Rahul yang baru sampai. Aku juga bertemu dengan Shubhra yang kebetulan datang berkunjung. Malam itu aku tidur kelelahan tanpa bantal. Seprai wifey aku gulung-gulung dijadikan bantal.
***
Salah satu hari terindah selama aku di Singapura adalah ketika aku menjemput wifey di Changi. Kebahagianku naik menjadi 2000 persen di hari itu. Aku masih ingat sangat jelas saat pertama kali berdadah-dadah dengan wifey di Belt 21 tempat wifey mengambil bagasi. Kita makan burger king, wifey belajar memakai EZ link dan ngobrol panjang lebar di perjalanan ke rumah pertama kita.
Rivervale akan selalu menjadi kenangan indah. Inilah rumah pertama kita sejak menikah. Rumah di mana kita melakukan semuanya bersama-sama. Tidur, bangun, makan, shalat, bercanda dan bahkan mandi. Aku akan selalu mengingat tumpukan buku yang telah dirapihkan wifey di rak buku kita. Aku selalu tersenyum geli mengingat cerita wifey yang pusing melihat susunan buku naik turun. Aku akan selalu mengenang momen kita mencuci piring berdua. Aku tidak akan pernah lupa bahagianya bercanda-canda di kamar mandi kita. Melihat vending machine minuman di bawah reading room juga selalu membuat aku tersenyum mengingat beberapa kali kita sering kehausan dan membeli lemon tea di situ. Melihat kolam renang membuat aku selalu mengingat gadis berbaju renang hijau yang menutup seluruh tubuhnya dengan cantik. Melihat ruang TV aku tak akan pernah lupa kita sering makan di situ sambil menonton. Atau kita juga pernah semalaman mengobrol menyelesaikan surat motivasi kau di sana. Aku juga akan selalu mengingat bahwa selalu berat rasanya berangkat bekerja di pagi hari sebab aku harus meninggalkan wifey di rumah. Adalah pemandangan yang sangat indah saat aku melihat wifey dari jendela ruang tengah melambaikan tangan. Aku juga selalu bersemangat tak terkira setiap setelah jam kantor. Setiap hari aku selalu berlari ke halte bus untuk memastikan bisa sesegera mungkin bertemu wifey.
Oleh karena itu saat wifey akhirnya pulang ke Jakarta, aku diserang rasa kesepian yang sangat dahsyat. Aku sebenarnya tak mau bercerita ini, namun semoga ini bisa menjadi bukti cinta besar aku pada wifey, yang Insya Allah selalu semoga terpelihara selamanya. Sepulang mengantar wifey, mimo dan adek ke Changi aku merasa seperti kehilangan hidup. Di setiap kondisi terdalam aku jatuh, shalat adalah pelarian aku. Dari airport aku turun di MRT Kembangan dan berjalan ke Mydin untuk Shalat Maghrib. Aku tak berani langsung pulang. Sebab di setiap sudut condo di rivervale aku melihat wifey. Setelah shalat aku berdoa panjang. Aku merasakan pipi aku hangat dan mataku menjadi sembab. Air dari mata mengalir ke pipi dan berjatuhan dari dagu. Aku menangis sambil berdoa. Salah satu tangis terdalam yang pernah aku rasakan.
Aku harap wifey semangat terus untuk kuliah dan ibadahnya di Jerman. Belajar itu adalah ibadah kan? Biarkan potongan-potongan cerita di atas sebagai fragmen kenangan indah di masa lalu yang akan terus menguatkan cinta kita di masa depan. Semoga itu semua menjadi penyemangat untuk wifey fokus belajar.
Kemarin aku pun meninggalkan condo penuh kenangan itu. Melewati punggol park dan akhirnya meninggalkan Hougang.
Aku mungkin tak pandai menulis puisi layaknya wifey. Namun ijinkanlah aku menulis sesuatu.
***** * * *Suatu bulan di Rivervale* * * Di setiap sudutnya aku melihat kamu Dengan senyuman manis dan harum nafas yang nyaman Dan di balik jendela ruang tengah itu pernah ada pemandangan terindah Seorang istri ayu yang selalu melambaikan tangan saat ku pergi
Sore adalah waktu berlari sekencangnya ke Rivervale Saat istriku menanti dengan pelukan terhangat Dan masakan ternikmat
Di dalam kamarnya selalu terpanjatkan doa-doa yang panjang Oleh istri untukku Oleh aku untuk istriku Tak pernah putus
Rivervale pun telah ditinggalkan Namun akan selalu teringat dalam hati terdalam Semua cerita indahnya Tunggulah aku di sebuah kota di Eropa di bulan September Di mana kita akan sama-sama menuntut ilmu Dan sesekali berbagi kisah indahnya masa di Rivervale Auf Wiedersehen, The Rivervale
***
PS: I love you
Friday, March 30, 2012
Dear Wifey - Hujan
Dear wifey sayang, hari ini tepat seminggu sejak wifey berangkat. Sedikit mengulang mengenai relativitas waktu yang kita bahas kemarin, seminggu ini mungkin seminggu terlama dalam hidupku. Agak gamang juga apakah aku akan sanggup menghadapi minggu-minggu ke depan tanpa wifey? Tentu saja Insya Allah aku harus sanggup dan sabar. Aku tak akan pernah berhenti percaya Allah punya skenario yang sangat indah untuk kita. Aku ingin selalu percaya karena Allah akan selalu mengikuti sangkaan hamba-hambanya.
Kemarin saat berangkat shalat Jumat, hujan turun dengan sangat deras disertai angin yang sangat kencang. Alhamdulillah tak sedikit pun berkurang niatan aku untuk shalat Jumat. Dengan berpayung merah dan bergulung celana, aku berjalan menembus hujan. Jalurnya adalah jalan yang kita lalui saat pertama kali wifey menjemput hubby ke kantor dan kita berdua jalan ke mesjid Mydin di jalan lapang. Alhamdulillah, di jalan ada sedan mengklakson dan memberi tumpangan hingga sampai mesjid.
Hujan selalu membawa romantisme tersendiri. Secara fisika, hujan adalah awan yang turun ke bumi menjadi air. Namun manusia menginterpretasikan kejadian alam tersebut bermacam-macam. Ada yang bahagia karena menilai hujan itu rejeki. Ada yang misuh-misuh karena hujan akan membawa banjir (genangan kata F*ckzy Bowo) yang kemudian akan membuat macet tak terkira meski hujannya kecil (biasanya di Jakarta kota yang juga banyak meninggalkan kenangan indah bagi kita). Hujan pun akan banyak dikecam ibu-ibu yang punya banyak cucian belum kering. Namun hujan justru terkadang disambut oleh suami-suami bahagia yang kebetulan ada di rumah bersama istrinya, sebab pasangan ini bisa bermesraan bersama dan berpelukan sambil memandangi hujan yang turun di luar jendela. Bagi aku hujan selalu berarti romantisme.
Dear wifey, ada suatu masa saat aku mulai sering berkunjung ke tempat wifey sebelum kita menikah, aku terperangkap hujan. Sepulang kantor seperti biasa dengan semangat menggebu aku meluncur ke rumah wifey di tanah kusir dengan si merah. Namun naas, di tengah jalan hujan turun. Awalnya gerimis, aku memaksakan terus berjalan. Hujan menderas, aku berhenti berteduh di emperan toko. Pada hari itu aku khilaf membawa mantel. Hujan sedikit mereda aku kembali meluncur. Dekat gandaria city jalanan macet sekali dan tiba-tiba hujan menderas kembali seperti air yang ditumpah-tumpahkan dari langit. Akhirnya aku menyerah dan berteduh di halte seberang ganci. Berhubung tempat duduk halte basah semua dan banyak langit-langit halte yang bocor aku pun nangkring seperti burung perkutut di salah satu spot di halte itu sambil menahan rindu untuk bisa bertemu dengan wifey saat itu. Hampir satu jam aku menunggu hingga aku pun menerobos hujan kembali. Sesampai tanah kusir wifey langsung sangat khawatir dan memintaku mengganti baju. Malam itu kita makan orak-arik buatan wifey bersama. Salah satu makanan terenak yang pernah aku makan. Dari situ juga semakin tumbuh rasa-rasa cinta di dada aku pada calon istri aku.
Dear wifey, momen romantis lain dari hujan adalah saat bulan madu kita yang singkat. Terkadang sering tersenyum namun sambil ingin menitikan air mata di saat bersamaan mengingat momen berburu baso bakar yang pernah kita lakukan di Batu, Malang. Sampai sekarang aku sering merasa menjadi suami terbodoh sedunia yang mengajak istrinya yang sedang kurang enak badan berhujan-hujan dan beranging-angin di tengah malam. Hujan cukup deras pada waktu itu. Kita pun sempat berteduh di emperan toko kemudian berputar-putar jalan karena tersasar. Pada akhirnya kita menemukan stall baso tersebut. Hujan kembali turun dengan deras. Aku merasa itu adalah salah satu momen ketika aku benar-benar merasa dekat dengan wifey. Wifey adalah sosok istri yang jauh jauh lebih sempurna dari yang aku harapkan. Wifey tak pernah banyak menuntut, wifey tidak suka mengeluh, wifey selalu sabar dan wifey selalu lembut. Maka dari itu benar adanya ketika semalam aku bercerita aku tidak akan mau menerima jika pun Allah menawarkan menukar wifey dengan 1000 bidadari, sebab wifey memiliki segala hal dan karakter yang tak tergantikan oleh bidadari sekalipun. Wifey adalah bidadariku.
Dini hari tadi waktu Singapura saat kita skype, hujan turun dengan sangat deras. Aku pun merasa sangat rindu wifey. Ingin memelukmu dengan lembut dan bercerita banyak hal. Tunggu aku di salah satu tempat di Eropa beberapa bulan dari sekarang di mana kita akan duduk berdua di dalam kamar sambil berpelukan erat dan memandangi hujan yang mungkin turun dari balik jendela.
PS: I love you
Kemarin saat berangkat shalat Jumat, hujan turun dengan sangat deras disertai angin yang sangat kencang. Alhamdulillah tak sedikit pun berkurang niatan aku untuk shalat Jumat. Dengan berpayung merah dan bergulung celana, aku berjalan menembus hujan. Jalurnya adalah jalan yang kita lalui saat pertama kali wifey menjemput hubby ke kantor dan kita berdua jalan ke mesjid Mydin di jalan lapang. Alhamdulillah, di jalan ada sedan mengklakson dan memberi tumpangan hingga sampai mesjid.
Hujan selalu membawa romantisme tersendiri. Secara fisika, hujan adalah awan yang turun ke bumi menjadi air. Namun manusia menginterpretasikan kejadian alam tersebut bermacam-macam. Ada yang bahagia karena menilai hujan itu rejeki. Ada yang misuh-misuh karena hujan akan membawa banjir (genangan kata F*ckzy Bowo) yang kemudian akan membuat macet tak terkira meski hujannya kecil (biasanya di Jakarta kota yang juga banyak meninggalkan kenangan indah bagi kita). Hujan pun akan banyak dikecam ibu-ibu yang punya banyak cucian belum kering. Namun hujan justru terkadang disambut oleh suami-suami bahagia yang kebetulan ada di rumah bersama istrinya, sebab pasangan ini bisa bermesraan bersama dan berpelukan sambil memandangi hujan yang turun di luar jendela. Bagi aku hujan selalu berarti romantisme.
Dear wifey, ada suatu masa saat aku mulai sering berkunjung ke tempat wifey sebelum kita menikah, aku terperangkap hujan. Sepulang kantor seperti biasa dengan semangat menggebu aku meluncur ke rumah wifey di tanah kusir dengan si merah. Namun naas, di tengah jalan hujan turun. Awalnya gerimis, aku memaksakan terus berjalan. Hujan menderas, aku berhenti berteduh di emperan toko. Pada hari itu aku khilaf membawa mantel. Hujan sedikit mereda aku kembali meluncur. Dekat gandaria city jalanan macet sekali dan tiba-tiba hujan menderas kembali seperti air yang ditumpah-tumpahkan dari langit. Akhirnya aku menyerah dan berteduh di halte seberang ganci. Berhubung tempat duduk halte basah semua dan banyak langit-langit halte yang bocor aku pun nangkring seperti burung perkutut di salah satu spot di halte itu sambil menahan rindu untuk bisa bertemu dengan wifey saat itu. Hampir satu jam aku menunggu hingga aku pun menerobos hujan kembali. Sesampai tanah kusir wifey langsung sangat khawatir dan memintaku mengganti baju. Malam itu kita makan orak-arik buatan wifey bersama. Salah satu makanan terenak yang pernah aku makan. Dari situ juga semakin tumbuh rasa-rasa cinta di dada aku pada calon istri aku.
Dear wifey, momen romantis lain dari hujan adalah saat bulan madu kita yang singkat. Terkadang sering tersenyum namun sambil ingin menitikan air mata di saat bersamaan mengingat momen berburu baso bakar yang pernah kita lakukan di Batu, Malang. Sampai sekarang aku sering merasa menjadi suami terbodoh sedunia yang mengajak istrinya yang sedang kurang enak badan berhujan-hujan dan beranging-angin di tengah malam. Hujan cukup deras pada waktu itu. Kita pun sempat berteduh di emperan toko kemudian berputar-putar jalan karena tersasar. Pada akhirnya kita menemukan stall baso tersebut. Hujan kembali turun dengan deras. Aku merasa itu adalah salah satu momen ketika aku benar-benar merasa dekat dengan wifey. Wifey adalah sosok istri yang jauh jauh lebih sempurna dari yang aku harapkan. Wifey tak pernah banyak menuntut, wifey tidak suka mengeluh, wifey selalu sabar dan wifey selalu lembut. Maka dari itu benar adanya ketika semalam aku bercerita aku tidak akan mau menerima jika pun Allah menawarkan menukar wifey dengan 1000 bidadari, sebab wifey memiliki segala hal dan karakter yang tak tergantikan oleh bidadari sekalipun. Wifey adalah bidadariku.
Dini hari tadi waktu Singapura saat kita skype, hujan turun dengan sangat deras. Aku pun merasa sangat rindu wifey. Ingin memelukmu dengan lembut dan bercerita banyak hal. Tunggu aku di salah satu tempat di Eropa beberapa bulan dari sekarang di mana kita akan duduk berdua di dalam kamar sambil berpelukan erat dan memandangi hujan yang mungkin turun dari balik jendela.
PS: I love you
Subscribe to:
Posts (Atom)