Pages

Thursday, May 31, 2012

Dear wifey - 2ridetheworld

Dear Bunda,

Dari dulu aku selalu senang untuk riding ke tempat-tempat yang indah. Oleh karena itu salah satu keinginan aku yang semoga direstui istriku, setelah membeli rumah, mobil, punya dana darurat, investasi jangka panjang, asuransi jiwa hubby dan asuransi pendidikan anak-anak kita nanti, hubby pengen beli motor > 600 cc. Kalau sekarang mungkin kandidatnya Kawasaki ER6-F alias Kawasaki Ninja 650. Atau Honda VFR juga oke banget (dua-duanya ada F-nya).

Salah satu tempat yang ayah teringat adalah jalur antara Garut ke Pamengpek. Kalau tidak salah nama daerahnya adalah Cikajang. Seperti jalur-jalur Jawa pinggiran lainnya jalur ini penuh dengan sawah-sawah yang cantik di kanan dan kiri jalan. Sementara di kejauhan berdiri kokoh pegunungan-pegunungan. Saat jalanan semakin naik, persawahan pun berganti dengan kebun-kebun teh. Kelokan-kelokannya cukup banyak dan enak dilahap sambil cukup merebah. Meski jalanannya tidak terlalu lebar namun mulus 80percent dan jalanannya tidak terlalu ramai. Hanya orang-orang lokal yang berlalu dengan bersepeda motor, beberapa mobil barang dan angkutan umum sejenis elf yang kebanyakan sudah pada tua. Kontur jalanan pun cukup naik dan turun. Melihat semua keindahan tersebut, seringkali membuat aku kangen Indonesia.

Tempat kedua adalah jalur Cibadak ke Pelabuhan Ratu. Menuju Pelabuhan Ratu bisa ditempuh via Ciawi atau jika dari Jonggol bisa via Cianjur langsung tembus Sukabumi. Dari Cibadak, sebelah kiri jalanan sudah hamparan pantai selatan dengan deburan ombak yang keras. Sementara di sebelah kanan ada sawah dan hutan-hutan kecil. Maka dari itu kemarin saat pulang ke Jonggol sempat ingin jalan ke Sawarna. Insya Allah mungkin lain kali, bersama bunda. ;)

Tempat ketiga adalah jalan dari Denpasar ke Bedugul. Jalanannya sama dipenuhi banyak sawah di kanan dan kiri jalan. Hanya saja nuansanya beda dengan jawa. Sebab di Bali setiap beberapa meter biasanya ada pura. Orang-orang yang berlalu-lalang pun banyak dengan pakaian adat. Jalannya pun banyak naik turun dan menikung. Bedanya waktu itu tak bisa rebah-rebah karena menyetir mobil (forever alone waktu itu :p).

Next place to visit yang aku terpikir saat kita kembali ke Indonesia adalah Lombok dan Belitong. Aku ingin ke Lombok karena dari dulu ingin ke sana namun belum kesampaian. Tadinya kita sempat berencana honeymoon ke sana juga kan? :) Belitong Insya Allah harus dikunjungi sebab tempat itu adalah salah satu bahan percakapan saat awal-awal kita kenal.

Tempat lain tentu saja adalah tanah suci. Aku beradzam untuk menunaikan ibadah haji bersama bunda sesegera mungkin. Jika Allah berkenan ingin bisa berangkat dari Jerman. :). Setelah itu semua aku ingin keliling dunia.

Oh ya ada satu trip yang jika selalu ayah bayangkan sejak pindah ke Singapura. Riding dari Singapura ke Thailand. Tentu saja perjalanan ini harus ditempuh dengan motor cc besar sebab sepanjang Singapura hingga ujung Malaysia terhubung dengan highway. Barulah di Thailand jalanan akan banyak berkelok-kelok dengan nuansa alam. Salah satu alasan aku dari pertama Honda CBR 250R launching adalah terkesan dengan video promosinya yang bagus banget dan di shoot di Thailand http://www.youtube.com/watch?v=1dtsuSM9Keg .

Lompat lagi ke topik yang agak berlainan, beberapa hari lalu aku menemukan sebuah link menarik. http://www.2ridetheworld.com. Website itu adalah catatan harian pasangan Inggris yang riding keliling dunia dengan motor! Bahkan April kemarin mereka sempat menyambangi Indonesia. Terakhir mereka sudah sampai Australia. Tapi aku tak pernah berpikir untuk mengajak bunda touring keliling dunia naik motor kok. Kita akan keliling dunia seperti peta yang bunda tempel di kamar, namun dengan cara yang lebih nyaman. Insya Allah akan kita mulai dengan Eropa, beberapa minggu dari sekarang.

Jemput aku di Frankfurt. Semakin hari aku merasa Jerman semakin dekat.

PS: I love you



Wednesday, May 30, 2012

Dear wifey - End of May

Dear Bunda,

Tak terasa sudah akhir bulan Mei. Besok sudah Juni. Bulan depannya lagi Juli dan kemudian Agustus terus September. Insya Allah Juli, atau Agustus atau paling lambat September kita bertemu.

Seperti biasa, setiap ke Soekarno Hatta seperti kemarin selalu gloomy. Ayah kemarin sempat mondar-mandir di sepanjang terminal 2. Mengingat masa saat bunda pernah menjemput ayah dan saat ayah mengantar bunda berangkat ke Jerman. Jadi ingat saat kita dadah dadah di imigrasi. Demikian juga sampai Changi. Ayah galau seperti biasa. Melihat belt nomor 21 tempat dulu bunda mengambil koper. Melihat burger king saat dinner pertama kita di Singapura. Galau lagi saat lewat Paya Lebar tempat kita biasa transit.

Ayah kemarin turun di bugis. Karena sudah lewat jam 10 melipirnya cuma bisa ke KFC. Makan KFC menu roasta box dengan jus mangga Sjora. Selesai makan di KFC pinggir jalan langsung balik lagi ke halte bus kemudian naik 130. Sekitar 5 menit turun di bus stop dekat apartemen. Jalan sebentar kemudian sampai apartemen. Sampai apartemen baca kartu pos bunda lalu bengong sebentar terus mandi terus shalat terus habis shalat bengong lagi browsing internet dan belum pakai baju hingga bunda memergoki ayah lewat skype semalam. :p

Enam bulan lebih sejak kita menikah. Enam bulan lebih juga sejak aku pindah ke Singapura. Dua bulan lebih sejak bunda berangkat. Dan waktu terus berjalan lambat di sini. Aku benar-benar tak sabar dan kangen bertemu bunda. Tak sabar untuk segera tinggal dan berkumpul bersama meski di sebuah asrama kampus kecil. Tak sabar untuk tinggal bersama meski sementara di sebuah kontrakan sederhana di awal-awal nanti kita pulang ke Indonesia. Insya Allah kita akan selalu akur sampai tua selamanya. Insya Allah kita akan terus mencintai dengan rasa cinta yang besar selamanya. Insya Allah kita tak akan pernah tergoda oleh orang ketiga selamanya. Biar waktu yang menjawab dan doa yang mewujudkan harap.

Tunggu aku di Frankfurt, beberapa minggu lagi. Kita akan keliling Eropa dan membeli kartu pos dari setiap kota yang kita kunjungi.

PS: I love you

Tuesday, May 29, 2012

Dear wifey - Sleeper

Dear Bunda,

Pagi ini saat ayah terbangun (masih dalam keadaan teler) ayah sedih sekali. Ayah sudah merasa berlaku egois pada bunda. Kalah oleh rasa kantuk dan lemas dibandingkan memanfaatkan momen berharga bersama bunda. Maafkan aku ya sayang, sejak selasa kemarin benar-benar ignorant dan lebih memilih tidur dari pada bercengkrama dengan bunda. Tak tahu kenapa sejak kemarin metabolisme tubuh nampaknya sedang tak terlalu benar. Padahal tak melakukan kegiatan apa pun yang menghabiskan tenaga. Namun lemasnya rasanya bukan kepalang. Kemarin dan tadi dini hari misalnya. Ngantuk luar biasa sekali. Meski pun tadi aku bisa menguatkan diri untuk shalat, ba'da shalat aku pun tidur lagi hingga saat jam shubuh bunda membangunkan aku lagi. Ba'da shubuh kembali aku ngantuk tak tertahan. Maafkan aku sayang. Maaf sejuta maaf. Insya Allah aku akan lebih berupaya tidak secuek itu terhadap bunda. Namun sayangku, tak ada sedikitpun kesengajaan dari itu semua.

Bunda, ayah sedikit tergelitik untuk berpikir dari pertanyaan yang semalam bunda lempar. Kita memang terbiasa jauh. Bahkan semenjak menikah, sebenarnya kita lebih banyak berjauhan dari pada berdekatan. Meski dari dulu aku sering bilang, biarkan fisik kita jauh namun hati akan terus saling berpelukan. Semalam bunda bertanya, jika terbiasa jauh akankah kita tetap akur saat dekat? Jawabanku adalah Insya Allah kita harus selalu akur dan rukun. Tentu saja akur dan rukun itu tidak akan datang dengan sendirinya. Terlebih lagi kita sadar betul keunikan dari watak kita masing-masing. Tapi aku percaya kita bisa melaluinya bersama. Aku juga tak pernah putus berdoa untuk kemaslahatan rumah tangga liliput kita ini. Apalagi bunda memiliki kesabaran yang teramat besar dan kelembutan hati yang terhingga yang mana itu semua sering membuat aku malu terhadap egoisme yang lebih sering aku pelihara. Aku ingin selalu menjadi suamimu selamanya. Aku ingin menjadi suami yang membuat bangga bunda. Aku juga ingin menjadi ayah yang akan membuat anak-anak kita selalu bangga. Aku ingin selalu ada di samping bunda. Aku ingin selalu menjaga bunda. Aku selalu sayang bunda.

Di 6 bulan lebih 11 hari pernikahan kita, semakin waktu aku semakin sadar, bahwa rumah tangga itu banyak pahit manisnya. Beda dibanding saat pacaran. Namun bersama bunda selalu lebih banyak manisnya. Selalu banyak hal indah dan selalu banyak hal menyenangkan. Bersama bunda aku ingin membuat rumah tangga kelaurga liliput kita ini akan selalu manis.

Bunda aku pengen countdown minggu. Insya Allah dalam waktu yang sebentar lagi kita akan ketemu. Nanti jemput ayah ya di Frankfurt. Ayah akan berusaha untuk ga banyak tidur saat kita bersama nanti. Ayah ingin selalu menjaga bunda.

PS: I love you

Monday, May 28, 2012

Dear wifey - Ruang Dejavu

Dear Bunda,

Bunda, apakah kamu pernah dejavu? Aku mengalaminya kemarin. Aku berangkat ke sebuah tempat yang sama dengan tahun kemarin. Depan ruangan yang sama. Dalam ruangan yang sama. Hanya saja kemarin tak ada kamu di sana. Aku dulu tak pernah menyangka, saat mencoba meminta nomor telepon sebelum pulang wawancara ternyata telah merubah takdir hidup kita. Sesuatu yang benar-benar akan aku syukuri sepanjang hidup aku, berkesempatan menjadi pendamping hidupmu.

Wawancara dan seleksi selalu menjadi momok. Bukan momok yang menakutkan namun sesuatu yang sepertinya segan untuk terlalu sering dilakukan. Aku pikir semua hal ini masih berkaitan dengan pembahasan beberapa hari lalu. Life without risk is not fun. Untuk apa sih berlelah-lelah deg-degan apply beasiswa dan deg-degan menghadapi wawancara? Simple answer to get some fun. Kita ga akan maju jika cuma melakukan hal itu-itu saja. Aku juga ingin maju seperti istriku yang selalu menginspirasi.

Wawancara kemarin sama seperti tahun lalu. Singkat dan padat. Aku sudah tak mau terlalu memikirkan itu lagi. Mungkin kemarin bukan performa sempurna. Namun itu adalah effort maksimal aku. Sisanya aku cuma ingin pasrah saja. Sambil terus berdoa, meski dini hari tadi kalah dengan godaan setan untuk bangun berdoa dengan khusyu seperti biasa.

Bunda, meski masih jauh dan belum pasti, aku merasa semakin dekat ke Frankfurt. Di mana beberapa saat lagi aku akan bertemu dengan sosok gadis impian. Yang senyumnya selalu membawa kedamaian. Yang harumnya selalu membuat aku rindu. Yang paras polosnya terkadang membuat aku horny karena keseksian adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan. Meski masih tak pasti aku merasa menara eifel juga sudah dekat. Tak sabar untuk segera bersama ke sana bersama bunda. Menjepret beberapa foto alay kita berdua dan mengupload ke instagram. Paris selalu menjadi icon romantisme di eropa. Ilmenau mungkin akan menjadi icon cinta kita. Sebuah kota di mana mungkin anak pertama kita dilahirkan? Wallahualam. :)

Beberapa waktu lalu ada mendapat sebuah nasehat mengenai doa. Dulu aku pernah bilang bahwa kita harus selalu bersangka baik terhadap Tuhan kan? Demikian juga dalam proses doa. Jangan membangun asumsi negatif. Soalnya doa bisa terpental balik lagi. Bangunlah asumsi-asumsi positif yang semakin memperkuat doa. Keyakinan dan khayalan yang sejalan dengan doa-doa kita. Sehingga barangkali Allah pun akhirnya mau mewujudkan asumsi-asumsi tersebut. Aku ingin membangun asumsi dan visualisasi untuk sampai di Jerman Agustus ini. Melanjutkan studi, belajar keras, punya anak dan pergi ke tempat-tempat menarik bersama bunda.

Tunggu aku di Frankfurt Agustus ini. Semakin hari aku merasa Frankfurt semakin dekat saja. Ilmenau pun hanya beberapa jam dari sana. Mimpi ini terasa semakin kuat setelah kemarin untuk kedua kalinya aku mendatangi ruang dejavu.

PS: I love you



Saturday, May 26, 2012

Dear wifey - Life without risk is not fun

Dear Bunda,

Life without risk is not fun. Terkadang suka berpikir juga, kenapa sih kita itu harus berlelah-lelah dalam mengejar sesuatu? Dengan hidup biasa saja pun seharusnya kita bisa bahagia. Punya pekerjaan biasa. Sekolah di sekolah biasa. Punya tingkat pendidikan yang standard saja. Menjalani rutinitas yang sama. Tetap nyaman di daerah nyaman. Tak perlu mengejar beasiswa. Tak perlu mencoba kerja di luar negeri. Tak perlu mencoba sesuatu yang baru. Tak perlu berjuang seperti mbak Tari dengan suaminya. Padahal jika mereka mau, mereka mungkin saja bisa hidup nyaman, tanpa PhD di Indonesia. Dengan hidup biasa saja mungkin kita bisa bahagia, namun monoton dan not fun.

Surat kali ini terinspirasi dari tulisan mas van adams. Mas Padang ini sedang ada di Jerman juga, di Duisburg tepatnya, kalo tak salah beliau temannya Dzata. Balik lagi ke cerita tadi, taking risk sometime needed to gain some progress in our life. Melanjutkan sekolah misalnya. Bagaimana tidak full of risk? Melanjutkan sekolah keluar negeri akan memiliki banyak konsekuensi yang tak mudah. Sekilas mungkin orang melihat bahwa sekolah di luar negeri itu menyenangkan. Bisa jalan-jalan dan seru-seruan. Tapi itu cuma sedikit sweet thing dari sekolah di luar. Padahal banyak konsekuensi lain yang justru butuh perjuangan keras. Jauh dari keluarga dan teman, harus belajar keras dan hidup dengan sedikit terbatas, karena uang beasiswa tidak selalu melimpah ruah dan jauh dari hal-hal yang kita nyaman di dalamnya seperti kultur, budaya dan makanan. Namun aku merasa itu semua adalah perjuangan mengambil sedikit resiko yang kelak akan memberikan banyak manfaat untuk diri kita sendiri di masa depan. Dulu bahkan teman-teman NFS sering geleng-geleng ketika aku sering kali menggebu-gebu cerita untuk bisa sekolah setinggi mungkin. "Gue mah udah capek belajar, Jon." Kata mereka. Menariknya, aku punya sosok inspirasional yang sangat dekat dengan diriku: istriku sendiri.

Jauh dari keluarga itu tak enak. Ini yang aku rasakan saat jauh dari istriku padahal baru dua bulan saja. Namun ini adalah konsekuensi untuk hal-hal yang lebih enak kelaknya. Justru dari kesempatan ini pula aku (semoga juga bunda) bisa belajar banyak hal. Belajar sabar, belajar untuk lebih saling memahami dan belajar lebih keras agar bisa dekat lagi dengan keluarga dengan cara menyusul bunda ke Jerman.

Konsekuensi kedua dalam taking risk in life dalam hal studi adalah harus belajar keras. Post graduate study tentunya beda dengan S1. Kuliah di Jerman dengan kualitas pendidikan yang top tentunya beda dengan kuliah S1 di universitas negeri yang standar. Perjuangannya pasti akan keras sekali. Aku sangat terbayang melihat dari yang sudah bunda jalani. Membuat paper, tugas yang bertumpuk, membaca materi, menyiapkan presentasi dan ujian yang menantang. Meski belum menjalani dan belum tahu rasa aslinya aku justru merasa itu semua akan menjadi paksaan yang positif. Terbiasa untuk belajar keras. Lebih disiplin. Lebih "terpaksa" untuk mau membaca. Full of risk namun akan menjadi fun untuk jangka panjang. Sense of fulfilment dan kesempatan untuk mengamalkan apa yang kita punya.

Jika menilik dari pertimbangan finansial, tentunya akan lebih menguntungkan untuk kerja dari pada kuliah. Dengan kerja barangkali kita bisa cepat menabung untuk membeli rumah. Dengan kuliah sepertinya tidak bisa terlalu banyak menabung karena itu tadi beasiswa uangnya tidak selalu melimpah. Namun di situ juga risknya. Bagaimana dengan resource yang terbatas tersebut kita "dipaksa" untuk belajar keras. Sehingga kelak di depan otomatis bisa punya karir yang lebih baik dalam berkarya. Menabungnya memang ditunda sedikit. Namun justru akan lebih baik dari pada menunda umur untuk sekolah lagi.

Terakhir konsekuensi yang tak enak dan harus benar-benar dipikirkan adalah masalah kultur, kebiasaan dan makanan. Sesampai Jonggol kemarin aku membabi buta makan banyak makanan. Mie ayam, bakso, sop buah, rendang, gorengan dan bahkan tahu gejrot. Makanan Indonesia memang tak ada matinya. Cukup terbayang nanti harus agak memendam rindu makanan saat jauh dari negara asal. Meski terlihat sepele ini juga full of risk. Di singapura ada beberapa teman-teman India aku yang punya masalah penceranaan karena makanan yang tak cocok. Bahkan aku sendiri pun pernah mual beberapa minggu karena masalah makanan juga. Masalah kultur juga harus dipertimbangkan. Mungkin kita akan kangen suara adzan. Kangen suasana kampung. Namun semua itu harus direlaka demi mengejar long term benefit dalam menuntut ilmu.

Seperti surat yang pernah aku tulis waktu itu, aku ingin sekolah sampai mentok. Ingin menulis buku suatu saat nanti (meski hingga detik ini belum ada wujud nyatanya). Aku juga ingin menjadi speaker yang inspirasional. Sehingga kelak, anak-anakku akan bangga dengan ayahnya dan istriku akan bangga dengan suaminya. Aku jadi ingat juga hari ketika pertama bunda memasang peta di kamar. Betapa bola matamu nampak terlihat sangat ceria. Aku ingin bisa keliling dunia bersamamu. S2 di Eropa dan S3 di Amerika mungkin? :) Untuk mencapai itu semua memang full of risk. But that gonna be so fun, especially if I can do that with you.

Bunda jemput aku di Frankfut ya beberapa hari sebelum Ramadhan tahun ini. Ingatkah kamu beberapa hari sebelum Ramadhan tahun lalu seorang pria asing yang sederhana menyatakan cinta. Pria itu semakin jatuh cinta padamu setiap harinya. Terima kasih sudah mengambil resiko untuk menerima cinta pria itu. Pria itu akan berusaha untuk memastikan resiko yang telah bunda ambil tidak akan sia-sia dan akan berbuah hal yang manis.

PS: I love you

Friday, May 25, 2012

Dear wifey - Beautiful Saturday

Dear Bunda,

Hari ini adalah hari Sabtu. Hari Sabtu adalah hari paling menyenangkan. Terutama saat masa-masa kita pertama dekat. Sabtu adalah hari kencan kita!!! Kencan pertama pasti tak akan terlupa. Kencan saat makan soto ceker tidak akan kita hitung, sebab ada Linda di sana. Namun sejak bertemu di soto ceker itu aku sudah melihat kedodolan bunda dan mulai merasakan benih-benih asrama :p. Kencan offisial pertama kita adalah ngedate di eat and eat ganci.

Aku masih ingat betapa bersemangatnya aku hari itu. Sudah lama aku tak pakai parfum. Namun hari itu aku memakai cologne. Berhubung rambut masih polem mode activated, aku ga pake gell. Tapi hari itu benar-benar aku berusaha tampil excellent. Sejak berangkat dari rumah aku sudah galau sebenarnya antara pengen menjemput bunda ke rumah atau menunggu di ganci. Sebab aku takut bunda bukan tipical ladies bike material. Takutnya bukan tipikal perempuan yang mau berangin-angin, berpanas-panas dan kena asap jalanan. Akhirnya kita bertemu di ganci dan bunda berangkat dengan pria lain :'( (bang Edas) hehe.

Sampai di ganci aku langsung parkir si merah. Venue date kita adalah eat and eat. Hari itu adalah hari pertama aku ke ganci. Sejak hari itu ganci manjadi mall yang paling aku (dan bunda) sering kunjungi. Oleh karena aku tak tahu ganci, bunda memberi guide bahwa eat and eat itu ada di floor sekian. Bunda salah memberi guide. Kelebihan satu lantai. Saat sampai di lantai yang bunda beritahu tak ada apa-apa di sana. Akhirnya aku turun satu lantai. Saat di depan eat and eat aku celingukan dengan tetap sok cool mencari-cari bunda. Seketika seseorang menutup mata aku dari belakang dengan kedua tangannya. Agak kaget merasakan tangan yang harum dan lembut itu di mata dan wajah aku. Bunda sudah menutup mata aku dari belakang di kencan pertama!! Bunda sudah menutup mata aku dari belakang di kencan pertama!! Bunda sudah menutup mata aku dari belakang di kencan pertama!! Ok sudah cukup :p. Tentu saja aku langsung merona-rona merah, sesuai dengan dress code bunda pada hari itu.

Hari itu kita ngobrol lama sekali. Yang aku ingat dari jam 1 sampai jam 5. Sebenarnya kita berencana karoke. Tapi berhubung suara aku hilang pada kencan pertama itu (benar-benar impresiffff (-_-")) aku hanya berusaha mengajak bunda mengobrol saja. Awalnya aku takut kehabisan bahan percakapan. Namun justru bunda yang tak berhenti berbicara.

Sejak hari itu setiap hari selalu menjadi hari indah. Tentu saja Sabtu menjadi terlalu indah, sebab kita menghabiskan waktu hampir selalu seharian penuh, terkadang hingga tengah malam. Yang aku ingat, nyaris setiap wiken kita pasti selalu bertemu. Kelak saat kita berkumpul lagi, aku ingin berusaha membangun hari-hari indah bersama. Tentu saja kencan tak berhenti saat sebelum nikah. Setelah menikah tak boleh ada hal yang menghalangi kita untuk berlaku romantis. Ayah cinta bunda.

Jemput aku di Franfurt beberapa minggu lagi. Di sela-sela kuliah kita akan melakukan banyak kencan romantis di sana setiap wiken. Bagaimana dengan Menara Eifel di Paris? ;)

PS: I love you

Dear wifey - Dua Bulan

Dear Bunda,

Seharusnya aku kirim email ini kemarin. Aku ingat pada tanggal 23. Namun justru tanggal 24 aku lupa dan malah menulis topik lain kemarin. Nah berhubung hari ini aku ingat, email kedua aku hari ini (sesuai janji hubby) akan membahas hal yang harusnya aku bahas kemarin.

24 Mei 2012. Jika dihitung itu artinya persis 2 bulan sejak bunda berangkat pada tanggal 24 Maret 2012 sebelum tengah malam. Seperti yang tadi aku ucapkan di skype salah satu momen paling gloomy pada hari itu adalah menjelang bunda masuk cek poin imigrasi. Aku merasa Jerman telah "merampas" bunda dari aku. Kita berpelukan sebelum bunda masuk pintu imigrasi. Waktu itu bunda menangis lepas dan aku pun jadi ikut-ikutan menangis. Pelukan itu adalah pelukan terakhir sebelum kita berpisah. Aku masih merasakan hangatnya pelukan malam itu. Aku sangat merindukan bunda.

Dua bulan ini adalah rekor kita berpisah. Meski skype setiap hari itu tetap tak senyata saat aku bisa melihat bunda dengan mata kepala sendiri. Mendengar dengan telinga secara langsung. Menyentuh dengan kulit asli. Aku rindu bunda.

Dulu aku sering bilang dan hingga sekarang masih cukup percaya bahwa Allah selalu punya rencana indah. Terutama untuk orang yang bersabar. Dua bulan memang masih pendek untuk pembuktian kesabaran. Namun bagiku jangankan dua bulan. Sehari tak bertemu bunda saja bisa membuat hati resah. Ini bukan klise sayang. Jika kamu tak percaya coba flashback di masa sejak awal kita kenal dan kemudian dekat. Hampir setiap hari aku mendatangimu kan? Tak pandang, pagi, siang, sore dan malam. Bahkan shubuh dini hari jika perlu. Aku selalu rindu bunda. Dulu, sekarang dan seterusnya.

Di tengah situasi yang masih tidak pasti aku selalu menaruh harap. Bisa lulus wawancara beasiswa kominfo. Bisa lulus mendapat LoA dari TU Ilmenau. Bisa lancar dalam semua persiapannya, mulai dari penuntasan masalah kerja, persiapan keberangkatan, dokumen, masalah finansial dan segala tetek bengeknya. Aku benar-benar berharap bisa bertemu bunda sebelum Ramadhan ini. Kita akan berpuasa bersama, sahur bersama, buka bersama, tadarus bersama, tarawih bersama dan menghadir pengajian bersama. Di suatu tempat yang indah meski jauh dari negeri kita.

Harap adalah doa, seperti suratku tempo lalu. Maka dari itu aku akan selalu berharap. Biar Allah yang memutuskan untuk kapan dan dalam bentuk apa menjawab harapku. Bunda ada salah satu harap lain yang tak pernah luput dari hatiku. Aku selalu berharap dan berdoa, untuk kelancaran kuliah bunda. Aku selalu berdoa agar bunda mendapat ketajaman pikiran dan kelapangan hati dalam menuntut ilmu yang barakah. Bunda selalu menjadi inspirasi ayah.

Bunda 2 bulan ini lama sekali rasanya. Namun aku yakin kita akan segera bertemu dalam waktu yang sangat dekat. Jemput aku di Frankfurt ya Agustus ini.

PS: I love you